Wregas Bhanuteja di Antara Kenangan, Rasa, dan Realita

Sumber: Beritagar

Tahun 2016 menjadi kado istimewa bagi Wregas Bhanuteja. Pria asal Yogyakarta ini berhasil menjuarai Festival Film Cannes yang dikenal sebagai festival film paling bergengsi di dunia perfilman. Filmnya yang berjudul Prenjak / In The Year of Monkey (2016) berhasil terseleksi dalam 55th Semain de la Critique, Cannes Film Festival 2016 dan membawa pulang penghargaan Leica Cine Discovery Prize sebagai film pendek terbaik di festival tersebut, mengalahkan 10 film yang masuk ke babak final dari berbagai negara sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai sutradara Indonesia pertama yang mendapat penghargaan di Cannes.

Keberhasilan Wregas di Cannes bukanlah hasil rebahan atau semudah membalik telapak tangan. Ada passion­-nya yang membara sejak lama, dipadu dengan kerja keras untuk mencapai cita-citanya tersebut.

Menjadi sutradara bukanlah cita-cita terpendamnya. Justru menjadi pembuat robot Gundam adalah cita-citanya semasa Sekolah Dasar (SD). Wregas kecil tergila-gila dengan robot Gundam hingga mengoleksi belasan robot Gundam di rak dalam kamarnya. Baginya, Gundam adalah film yang menawarkan tingkat imajinasi serta unsur fantasi yang keren, yang dituturkan lewat wawancara bersama Beritagar. Jika sudah liburan, ia memilih untuk menghabiskan waktu merakit robot di dalam kamar.

Dari ketertarikannya tentang film, perlahan ia mulai mencoba menggali apa kesenangannya. Saat SMA, ia bergabung dengan kelompok sinematografi yang saat itu baru terbentuk di sekolah. Sejak itu, ia membuat film pertamanya berjudul Muffler (2008) yang menceritakan kegelisahan pria terhadap bisingnya suara knalpot motor yang melewati rumahnya. Film pertamanya masuk 8 besar Festival Film Pendek Tawuran. Sebelumnya pemilik nama Rafael Wregas Bhanuteja ini pernah ikut teater.

Keterlibatannya dalam film pendek pertama kali ketika ia masuk kelas 3 SMA di Stella Duce 1 Dagen, Yogyakarta. Ia berakting sebagai bendahara kelas yang korup dalam film berjudul Dagen Van Java. Setelah itu ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah film di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan mayor penyutradaraan film.

Memutuskan sekolah film bukan berarti mulus begitu saja. Kedua orang tua Wregas sempat menentang pilihannya karena menganggap bahwa dunia film kurang memiliki masa depan. Tapi ia tetap teguh dengan pilihannya. Ia tunjukkan dengan terus menghasilkan karya yang berkualitas, juga dengan prestasi agar orang tuanya percaya.

Selama kuliah, memproduksi film adalah makanan sehari-harinya. Salah satu film yang pernah dibuatnya adalah Senyawa (2012) yang diproduksi menggunakan bahan baku seluloid 16 mm. Film ini sudah unjuk gigi di Freedom Film Festival, Malaysia 2013 lalu.

Film keduanya bertajuk Lembusura (2013) yang mengisahkan bagaiaman orang Jawa menikmati sebuah bencana. Mengambil pengalaman pribadinya di kota kelahirannya, ia menceritakan bencana meletusnya Gunung Kelud dengan eksplorasi visual yang tidak biasa. Film ini berhasil mengantarkan namanya ke berbagai festival internasional, seperti 65th Berlin International Film Festival 2015, Imagine Science Film Festival New York 2015, dan Asian Film & Video Art Forum Seoul 2015.

Pulang dari Berlin, ia kembali membuat film The Floating Chopin tentang interpretasi lagu Chopin Larung dari Guruh Soekarno Putra. Film ini terseleksi untuk berkompetisi dalam 40th Hong Kong International Film Festival 2016.

Tokoh panutan Wregas di dunia perfilman salah duanya adalah Riri Riza dan Mira Lesmana. Gie (2005) adalah karya Riri yang membuat Wregas benar-benar mengidolakan film tersebut karena cerita dan akting pemerannya yang benar-benar keren baginya. Dari sekedar mengidolakan, ternyata takdir bekerja sedemikian rupa yang membuat Wregas berhasil bekerja sama dengan Riri dan Mira.

Sebuah kebetulan, ketika SMA, Wregas liburan ke Belitong dan bertemu dengan Riri. Kemudian ia bertemu lagi di tahun 2013 ketika ia sedang mencari tempat magang. Akhirnya Riri mau menerima setelah minta contoh film buatan Wregas sendiri.

Dari magang, Wregas beberapa kali terlibat kerja sama dengan Riri. Awalnya menjadi asisten sutradara tiga di film Sokola Rimba, asisten sutradara dua di Nyanyian Musim Hujan, hingga behind the scene director film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) dan Athirah.

Wregas menamatkan masa akhir kuliahnya di IKJ dengan Lemantun (2014). Film ini terinspirasi dari kisah hidup pamannya sendiri yang dianggap gagal oleh keluarga. Lemantun bicara tentang pembagian warisan dalam satu keluarga yang terdiri dari lima anak. Singkat cerita, anak kelima dipaksa mengalah dan mendapat warisan barang yang dinilai sepele karena tidak sesukses saudara-saudaranya yang lain.

Karya yang menjadi tugas akhir itu bukanlah hanya sekedar karya untuk menuntaskan kewajiban, tapi justru melambungkan namanya lebih jauh di perfilman dalam negeri. Karya favoritnya ini menyapu bersih penghargaan dari semua kategori di XXI Short Film Festival 2015 dan memperoleh penghargaan Film Pendek Terbaik Piala Maya 2015.

Durasi pendek dalam setiap karyanya bukanlah menjadi penghalang, justru membuatnya semakin fokus menyematkan pesan dalam film yang dibuat secara rignaks dan padat. Selalu memegang prinsip menjadi diri sendiri dan berkarya sesuai apa yang disenanginya, membuatnya bisa bebas dan totalitas dalam berkarya.

Prenjak yang digarapnya selama satu bulan ini bercerita tentang prostitusi menggunakan korek api. Kisah yang terdengar tabu dan sarat dengan sejarah ini diketahuinya dari cerita temannya semasa SD yang ditawari korek api seharga Rp 10.000 per batang untuk melihat kemaluan penjual korek api tersebut. Menggunakan bahasa Jawa, film ini berhasil membuat penonton tertawa di awal tapi menangis di akhir.

Lewat Prenjak, Wregas ingin menggambarkan kebiasaan masyarakat Yogyakarta yang melihat kesedihan dan penderitaan sebagai sesuatu yang tidak harus dilalui dengan depresi. Menggambarkan visual secara nyata membantunya menyampaikan cerita secara ringkas dan padat dalam durasi 12 menit.

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/He0R-Va4NaA" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

Tidak salah jika film yang dianggap poetic oleh para juri Cannes ini akhirnya dinobatkan sebagai pemenangnya. Selain menang di Cannes, film ini juga menang di Melbourne International Film Festival 2016, Festival Film Indonesia 2016, Singapore International Film Festival 2016, dan Prague Short Film Festival 2016.

Tahun ini, Wregas kembali lagi dengan film pendek bertajuk Tak Ada yang Fila di Kota Ini / No One is Crazy in This Town (2019). Dibintangi oleh Oka Antara, film ini adalah hasil adaptasi cerpen Eka Kurniawan berjudul sama yang mengisahkan seseorang yang diperintahkan untuk menyingkirkan para penyandang gangguan mental ke hutan agar tidak mengganggu turis. Film ini sendiri lolos untuk kompetisi di program Wide Angle: Asian Short Film Competition di Busan International Film Festival 2019.

Sineas yang menyukai tema orang terpinggirkan ini paham betul tidak semua filmnya bisa diterima oleh para penikmat film di tanah air. Untuk itu, khusus untuk film pendek, ia selalu menyajikan cerita yang real tanpa ditutupi untuk totalitas visual plot ceritanya. Baginya, film pendek ini bisa menjadi ajang penyaluran kreativitas bagi para sineas tanpa komersil.

Banyak yang sudah menanti karyanya dalam wujud film panjang yang bisa ditayangkan di bioskop. Akankah ia menjadi salah satu sineas muda yang mampu menghasilkan karya-karya segar di industri perfilman tanah air? Semoga saja.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi