WPAP, Gaya Ilustrasi Asal Indonesia yang Mendunia

Sumber Gambar: Cinta Pekalongan

Di kalangan ilustrator, gaya ilustrasi WPAP atau Wedha’s Pop Art Portrait mungkin sudah bukanlah hal yang tak asing. Gaya ilustrasi dari kumpulan bidang-bidang datar yang dibentuk oleh garis-garis imajiner ini memang menarik untuk diamati. Namun tahukah Anda, jika pencipta gaya ilustrasi yang telah mendunia ini adalah karya anak bangsa Indonesia?

Ialah Wedha Abdul Rasyid, atau yang biasa disapa Wedha. Pria kelahiran Pekalongan, 10 Maret 1951 silam ini telah berprofesi sebagai ilustrator sejak tahun 1970-an dimana membuat ilustrasi belum secanggih zaman sekarang yang serba digital.

Kariernya bermula dari tahun 1977 ketika bergabung dengan majalah Hai!, ia membuat banyak ilustrasi terutama dari karya-karya fiksi pengarang Arswendo Atmowiloto dan Hilman Hariwijaya.

Salah satu karya ilustrasi terkenal yang sempat mencicipi kepiawaiannya adalah Lupus. Selain itu, ia juga mengerjakan potret toko dunia untuk liputan majalah tersebut.

Di tahun ’90-an, ia ingin membuat sesuatu yang mudah, menarik, lebih dinamis, belum pernah ada, dan striking. Kemudian ia mencoba mencari berbagai cara untuk menggambar ilustrasi wajah.

Dalam pencariannya, ia teringat dengan pelajaran kala duduk di bangku sekolah bahwa sebetulnya garis lengkung terdiri dari garis lurus yang jumlahnya tak terhingga. Jika bidang lengkung, juga bidang flat-flat yang jumlahnya tak terhingga.

Penurunan daya penglihatan karena usianya mencapai 40 tahun, membuatnya semakin sulit menggambar wajah dalam bentuk realistis dan detail.

Dalam keadaan ini dia mulai memikirkan cara menggambar wajah manusia dengan cara yang lebih mudah, yang tidak menuntut keterampilan memadai untuk memulas dan mengolah warna kulit manusia yang sulit.

Berangkat dari kesulitannya tersebut, ia membayangkan wajah manusia yang biasa dibuatnya dalam bidang datar yang tersusun oleh berbagai bentuk geometris. Kemudian yang disebutnya gaya seni kubisme ini akhirnya digunakannya dalam berbagai ilustrasi wajah karyanya.

Baca juga: Rich Brian, Rapper Indonesia yang Bersinar di Kancah Internasional

               Wahyu "Pinot" Ichwandardi Banggakan Indonesia Melalui Animasi Retro

Gaya seni kubisme sendiri merupakan gerakan seni avant-garde di abad ke-20 yang fdokus pada penyederhanaan bentuk secara geometris alias kotak-kotak hingga gambar yang dihasilkan terkesan abstrak. Perintis gaya seni ini adalah Pablo Picasso dan Georges Braque.

Gaya pop art yang dikreasikan Wedha sendiri dimodifikasi sesuai keinginannya yang ingin tampil beda, dinamis, serta sifatnya lebih striking sehingga ia memiliki kredo bidang yang dibentuk oleh garis akan tampil lebih kuat daripada garis lengkung.

Ia menamakannya foto marak berkotak. Proses pembuatannya diawali dari tracing foto berukuran kecil dan memiliki gambar yang jelas secara manual karena belum ada komputer di tahun ’90-an.

Kemudian foto kecil tersebut dibuat ukuran besar dan ditumpangi dengan kertas kalkir. Di atas kertas kalkir wajah orang dibuat bidang-bidang. Dari atas kertas kalkir ke kertas gambar, ia menggunakan karbon di atas gambar untuk diwarnai dengan medium poster colour.

Delapan tahun berselang, ia bertemu dengan teman yang mengkritiknya dengan mengatakan bahwa apa yang selama ini dibuatnya itu hanya akal-akalan saja. Namun itu tidak menyurutkannya untuk berhenti berkarya di bidang ilustrasi.

Hingga akhir tahun 2007, ia bertemu dengan beberapa orang teman lamanya yang berpengaruh di dunia desain Indonesia, seperti Risman Marah, Michael Gumelar, dll.

Teman-temannya inilah yang bahkan mendorong Wedha untuk menjadikan gaya ilustrasi kubisme kreasinya dijadikan gaya tersendiri, karena banyak yang belum pernah melihat gaya pop art seperti buatannya meski mereka pernah ke luar negeri.

Ia membaca dari buku Perjalanan Seni Rupa Modern bahwa yang selama ini dibuatnya itu dapat diklasifikan sebagai pop art, maka dari itu ia menamakannya sebagai Wedha’s Pop Art Portrait.

Ketika ia memutuskan untuk pensiun dari dunia seni rupa, ia membuat acara perpisahan berupa pameran karya seninya yang ternyata animo pengunjungnya begitu tinggi. Meski sudah pensiun, ia masih membagikan pop artnya melalui DevianArt dan cukup banyak yang menyimak karyanya.

Bagi Wedha, ia ingin lebih banyak orang yang menggunakan gaya ilustrasinya sehingga kesejahteraannya bisa meningkat. Ia sendiri senang apabila orang-orang di dalam komunitas pop art dapat berkembang meski sekarang pembuatan ilustrasi didominasi dengan teknologi.

Keingingan Wedha pun terwujud karena WPAP tidak kehilangan penggemarnya. Oleh generasi sekarang, tutorial WPAP mulai bermunculan dan mudah dijumpai di kanal media sosial seperti YouTube, Facebook, Instagram, dsb. Di laman Facebook pun ada komunitas “Belajar WPAP” yang khusus sebagai wadah berbagi untuk mempelajari teknik ilustrasi ini.

Terima kasih, Pak Wedha, ilustrator anak bangsa yang mampu meramaikan dunia ilustrasi dengan karya dan tekniknya. Kami bangga!

 

 

 

Sumber:

https://kabarinews.com/jalan-pop-art-wedha-abdul-rasyid/62982

http://ayobandung.com/read/20180126/65/27978/mengenal-wedha-abdul-rasyid-jagoan-pop-art-indonesia

https://www.cintapekalongan.com/penemu-teknik-lukis-wpap-putra-daerah-aseli-pekalongan/

https://www.kaskus.co.id/thread/5524d75796bde641518b4567/wedha-abdul-rasyid-bapak-ilustrator-indonesia/

http://ublik.id/wedha-abdul-rasyid-ilustrator-indonesia-pencipta-gaya-wpap/

https://indonesiaproud.wordpress.com/2010/07/27/wedha-abdul-rasyid-pembuat-aliran-wpap-wedhas-pop-art-potrait/

http://hai.grid.id/Feature/Art/Wedha-Abdul-Rasyid-Bicara-Tentang-Pop-Art

https://id.wikipedia.org/wiki/Wedha_Abdul_Rasyid

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2015/04/07/mengenal-wpap-seni-asal-indonesia-yang-menduni



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi