Windy Natriavi Ciptakan Solusi Pembiayaan di AwanTunai

Sumber: SWA.co.id

Bekerja di korporat atau startup hingga membangun startup sendiri, semuanya pernah dirasakan oleh Windy Natriavi. Sebelum mendapatkan semua pengalaman tersebut, alumnus Manajemen Keuangan Universitas Indonesia ini sudah dikenal sebagai perempuan berprestasi dan aktif di berbagai kegiatan non akademik sejak di bangku sekolah.

Beragam kegiatan yang berkaitan dengan akademik dan non akademik, seperti kompetisi Nielsen Market Research Challenge, Young Leader for Indonesia, pertukaran pelajar, hingga None Jakarta Timur sudah pernah dicicipinya.

Sebelum lulus kuliah, ia telah magang di lembaga konsultan saham dan lembaga manajemen konsultan teknologi informasi. Pengalaman inilah yang membuatnya semakin mantap berkarier di industri konsultan.

Kariernya di konsultan hanya bertahan dua tahun. Di tahun 2015, ia dipinang oleh mantan rekannya di McKinsey untuk merintis karier di Gojek milik Nadiem Makarim. Bekerja di startup teknologi yang iklimnya berbeda dengan korporat tentunya merupakan tantangan tersendiri baginya.

Berdua dengan Dayu Dara Permata, ia menciptakan Go-Life, layanan bisnis non transportasi on demand di Gojek di tahun 2015 yang melayani Go-Massage (layanan on demand terapis pijat), Go-Clean (layanan on demand pembersihan profesional), Go-Glam (layanan on demand kecantikan seperti make up artist, menicure, pedicure), dan Go-Tix (layanan on demand tiket seperti tiket bioskop). Selain itu, ia juga dipercaya sebagai vice president startup decacorn tersebut.

Setelah dua tahun bersama Gojek, Windy memutuskan untuk mundur untuk membangun AwanTunai, startup nya sendiri bersama kedua rekannya, Dino Setiawan dan Rama Notowidigdo. Ide tersebut muncul saat ada consulting project di XL Axiata dan juga startup berbasis fintech di Indonesia mulai bermunculan.

Latar belakangnya untuk mendirikan AwanTunai pada Februari 2017 ini adalah rendahnya masyarakat Indonesia yang tersentuh layanan perbankan. Berdasarkan data Bank Dunia, hanya 37% masyarakat Indonesia yang sudah memiliki akses keuangan, 13% diantaranya mendapatkan pinjaman formal.

Lalu kemana sisanya? Ternyata mereka memiliki akses layanan perbankan. Di sisi lain, setidaknya 132,7 juta orang Indonesia atau hampir separuh dari populasi penduduk Indonesia sudah terhubung dengan akses internet melalui smartphone atau tablet, hingga tahun 2016.

Sekilas memang AwanTunai mirip dengan aplikasi peminjaman uang online yang sudah ada. Namun yang berbeda, calon debitur bisa mendapatkan persetujuan pinjaman dalam waktu 15 menit melalui aplikasi AwanTunai hanya bermodalkan KTP dan mengisi formulir di aplikasi. Selain itu, tidak harus memiliki rekening bank untuk bisa mendapatkan layanan pinjaman ini.

Karena menyasar pada calon debitur yang datang dari kalangan kelas menengah kebawah, AwanTunai melihat bahwa orang-orang dari kalangan ini telah memiliki kebutuhan untuk membeli smartphone untuk mengakses internet. Maka dari itu, nilai pinjaman yang dipatok per nasabah berada di rentang Rp 1,5 juta-5 juta.

Untuk menjangkau target konsumen, ia bekerja sama dengan Blue Bird, Indosat, dan Unilever untuk pembiayaan smartphone bagi karyawannya. Untuk meminimalisir risiko, penyaluran pembiayaan dilakukan dengan bekerja sama dengan ribuan toko ponsel di Jabodetabek, hingga merk ponsel Android seperti Samsung, Oppo, Vivo untuk memudahkan debitur mendapatkan ponsel yang mereka inginkan. Calon debitur yang datang langsung ke toko mitra yang telah bekerja sama dengan AwanTunai nantinya akan memudahkan untuk proses verifikasi peminjaman dana.

Dana yang dihimpun oleh AwanTunai untuk menyalurkan kredit tidak didapat dari P2P (peer-to-peer) seperti aplikasi peminjaman uang lainnya, melainkan dari pendanaan investor seperti Kredit Plus yang telah mengucurkan dana sebanyak Rp 300 miliar pada awal tahun 2018 silam.

Selain agresif menarik minat nasabah di kawasan Jabodetabek, AwanTunai juga ingin bisa segera bergerak ke berbagai kota besar di luar Jabodetabek, seperti Semarang, Surabaya, dll. dan tidak hanya melayani pembiayaan untuk pembelian ponsel, melainkan pembiayaan kebutuhan lain, seperti bengkel, apotek, dan toko susu.

Berkat AwanTunai, Windy yang didaulat sebagai COO (Chief Operational Officer), berhasil masuk dalam daftar 30 Under 30 Forbes Asia 2019 di bidang keuangan dan program Alibaba eFounder Fellows 2018.

Kiprah Windy di dunia startup menunjukkan bahwa perempuan bisa menggapai kesuksesan yang sama besar seperti laki-laki. Mengutip perkataan Mellinda Gates, “A woman with a voice is, by definition, a strong woman.

 

 

 

Sumber:

https://id.linkedin.com/in/windy-natriavi-b713a794

http://www.kampusgw.com/sosok/windy-dan-segudang-aktivitasnya

https://swa.co.id/youngster-inc/youngsterinc-startup/tiga-sekawan-di-atas-awantunai

https://swa.co.id/swa/business-strategy/dua-jelita-di-balik-go-life-besutan-go-jek

https://www.awantunai.com/ 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi