Tyovan Ari Widagdo, Insaf dari Hacker Kini Jadi Founder Bahaso

Sumber: BINUS University

Lahir dari orang tua berprofesi sebagai penjual kupat tahu di Wonosobo, tidak lantas membuat Tyovan Ari Widagdo merasa itu menjadi sebuah rintangan sulit untuk mencapai cita-citanya. Justru hal tersebut memotivasinya untuk bisa tumbuh menjadi manusia yang lebih maju.

Kala itu, internet masih menjadi barang mahal di Indonesia karena mahalnya tarif warnet dan keterbatasan tempat untuk akses internet. Di Wonosobo sendiri hanya ada dua warnet (warung internet) dengan tarif Rp 7.000/jam.

Tyovan yang masih remaja sudah cukup sering menghabiskan waktu di warnet. Karena tarifnya yang lebih mahal daripada uang saku hariannya, ia pun mengakalinya dengan meretas tagihan warnet secara otodidak, berbekal ilmu dari berbagai referensi di dunia maya dan buku di perpustakaan daerah.

Nge-hack catatan tagihan warnet dari enam jam pemakaian menjadi sejam pemakaian saja, ini berhasil dilakukannya karena pengunjung yang ramai sehingga ia tidak ketahuan sudah lama di sana.

Kemampuan hacking-nya terus meningkat. Situs jual beli di Belanda dan situs SMAN 78 Jakarta pernah jadi korbannya. Membobol kartu kredit juga pernah dijajalnya. Bahkan ia pernah menyebarkan virus ke seluruh komputer sekolah, hingga diskors tidak boleh mengakses laboratorium komputer sekolah selama dua minggu.

Selain mencoba meretas sistem, ia juga biasa chatting melalui Yahoo! Messenger di warnet. Suatu hari ia mengobrol dengan seorang teman asal luar negeri yang ingin berkunjung ke Indonesia. Ia lantas mengajak temannya untuk berkunjung ke Wonosobo, kampung halamannya.

Namun sayangnya, ketika mengetikkan kata kunci ‘Wonosobo’ di laman pencarian Google, tidak ada informasi lengkap mengenai objek wisata disana. Yang ada hanyalah sekelumit informasi di Wikipedia.

Hal tersebut memicu semangatnya untuk membuat situs wonosobo.com yang berisi tentang informasi pariwisata Wonosobo. Karena memerlukan akses komputer dalam waktu yang cukup lama, ke warnet bukanlah solusi jitu sebab uang sakunya bisa ludes.

Akhirnya ia menemukan cara dengan menjadi pengurus klub broadcasting radio sekolah yang memiliki peralatan komputer yang canggih. Lolos seleksi penyiar dan bisa ketua klub, otomatis membuatnya menjadi juru kunci ruangan komputer tersebut.

Selama dua bulan, ia serius menggarap desain situsnya. Tak jarang ia menginap di sekolah hingga subuh, membuatnya sering terlambat masuk kelas pagi. Setelah desain selesai, ia harus mencari data terkait potensi kota dan pariwisata Wonosobo ke dinas setempat.

Tapi semuanya menolak, hingga ia baru mendapat bantuan setelah menemui bagian hubungan masyarakat. Gara-gara itu, ia pun akhirnya belajar menulis agar dapat mengisi konten situsnya.

Setelah situsnya diluncurkan di depan kepala satuan kerja perangkat daerah, nama dan fotonya dimuat di koran lokal setempat. Guru dan teman-temannya geger karena yang mereka tahu Tyovan hanyalah anak bandel yang sering terlambat masuk kelas pagi dan ranking dua terbawah di kelas.

Situs tersebut banyak yang mengakses dan mampu mendatangkan iklan yang dapat digunakan untuk operasional. Ia pun mengembangkan situs wonosobo.com menjadi portal berita. Dari sana ia mulai menekuni dunia jurnalistik dengan belajar langsung dari wartawan yang dulu meliputnya.

Rezeki lain kemudian datang lain. Banyak orang yang memintanya untuk dibuatkan situs  internet dengan rentang biaya Rp 1-3 juta. Bisa dibilang, saat masih duduk di bangku SMA ia sudah menjadi seorang pengusaha.

Tahun 2007 ia mendapat tawaran proyek dari instansi pemerintah senilai Rp 25 juta. Tawaran yang sangat menggiurkan baginya, tapi ia terhalang masalah tidak memiliki badan usaha. Disinilah keahlian meretasnya kembali digunakan.

Ia pergi ke notaris untuk membuat CV yang berujung ditolak karena belum cukup umur. Ia akhirnya membuat KTP (Kartu Tanda Penduduk) palsu yang usianya dibuat lebih tua dari usia sebenarnya. Setelah itu ia pergi ke notaris berbeda. CV Vemobo pun berhasil dibentuk, dan proyeknya juga berhasil diselesaikan.

Selulus SMA, ia memindahkan Vemobo ke Yogyakarta. Kali ini ia sudah merekrut karyawan. Ia sempat kuliah di sana, tapi hanya sebentar.

Akhirnya ia memutuskan untuk mendaftar kuliah di Binus, karena melihat anggota komunitas hacker underground di Indonesia banyak dari sana. Sambil berkuliah, ia juga terus mengurus Vemobo. Kuliah juga menambah relasinya sekaligus menjadi tempat untuk menemukan talenta unggul untuk bekerja di perusahaannya.

Selain mengembangkan Vemobo, ia juga pernah dipercaya menjadi County Manager Dolphin Browser Indonesia selama dua tahun. Pencapaian kerjanya memuaskan, meski ia harus meninggalkannya karena harus merampungkan skripsi.

Tyovan juga pernah mewakili Indonesia untuk ikut dalam kompetisi IT di Stanford sekaligus magang di Sillicon Valley selama dua bulan di tahun 2013.

Saat mengerjakan skripsi, ia ingin membuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat dengan menciptakan aplikasi. Berawal dari kesulitan dirinya belajar bahasa Inggris saat kuliah dan bekerja, ia terpanggil untuk menciptakan aplikasi belajar bahasa asing yang mudah dan terjangkau untuk diakses oleh semua kalangan.

Diluncurkan pada tahun 2015, potensi aplikasi besutan peraih 30 Under 30 Forbes Asia 2017 ini cukup besar. Penggunanya tidak hanya di dalam negeri, tapi juga dari luar negeri, seperti TKI di Dubai dan Hong Kong. Layanannya pun bisa di­upgrade menjadi layanan premium berbayar, yang harganya masih sangat terjangkau dibandingkan kursus bahasa konvensional.

Bahaso juga menjadi salah satu alternatif jitu bagi kalangan yang ingin belajar bahasa asing tapi terkendala biaya, waktu, ataupun tempat. Untuk materi ajar dan metode belajar, Bahaso menggandeng FIB UI yang nantinya akan mengeluarkan sertifikat bahasa bagi pengguna. Sehingga, pengguna tidak perlu mengkhawatirkan keabsahan materi dan metode belajarnya.

Selain aktif melebarkan sayap Bahaso, Tyovan juga menjadi founder HiApp, aplikasi chat messenger mirip WhatsApp buatan anak bangsa yang diluncurkan tahun 2018 silam. HiApp ini sendiri sebagai aplikasi lokal ke depannya ingin menjadi penantang WhatsApp di dalam negeri.

Dari Tyovan kita bisa belajar bahwa memanfaatkan setiap kesempatan yang datang kepada kita, serta yakin selalu akan ada jalan keluar yang diberikan Tuhan dari setiap permasalahan yang ada.

 

 

Sumber:

https://beritagar.id/artikel/figur/tyovan-ari-widagdo-jalan-tuhan-untuk-si-peretas-insaf

https://swa.co.id/youngster-inc/youngsterinc-startup/tyovan-ari-widagdo-kutu-buku-dan-mantan-hacker-pembesut-aplikasi-bahaso

https://id.linkedin.com/in/tyovan

https://bahaso.com

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160404152353-185-121561/belajar-bahasa-inggris-bisa-dengan-aplikasi-bahasocom

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi