Tunggal Pawestri Dalam Perjuangan Isu Kesetaraan Gender

Sumber: Rappler

Kontroversi RKUHP yang dianggap akan banyak mengeluarkan kebijakan blunder sejak beberapa waktu ini, membuat banyak pihak angkat suara untuk menyatakan ketidaksetujuannya terhadap RKUHP tersebut, tak terkecuali aktivis Tunggal Pawestri, yang sampai menggagas petisi online untuk meminta Jokowi menolak RKUHP.

Tunggal Pawestri sendiri sudah lama dikenal sebagai aktivis sekaligus konsultan gender dan HAM. Ia cukup vokal merespon isu-isu perempuan melalui media sosial dan menyerukan hak-hak perempuan melalui riset dan kritik yang ia lakukan. Tak hanya itu, ia sendiri memaksimalkan media sosial untuk menyebarluaskan isu-isu kesetaraan gender dan budaya melawan seksisme.

Ia sendiri bukanlah anak bawang yang baru saja berkenalan dengan dunia aktivisme. Dimulai dari gerakan mahasiswa 1998, ia mulai ikut andil dalam gerakan tersebut meski tidak terlalu aktif dan punya peran memimpin gerakan massa. Dari sana, ia mengamati betapa banyak perempuan yang terlibat aktivisme seperti ini tapi tidak bisa memimpin di garis paling depan.

Gelombang Reformasi yang amat kuat di tahun 1998-1999 membuat Tunggal tertarik dengan isu politik yang membuatnya ingin terlibat dalam demokrasi. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang di masa itu terkenal dengan basis anak muda yang radikal, punya cara pandang baru, dan penggagas demokrasi.

PRD menempanya dengan berbagai pengetahun dan ilmu, juga cara pandang baru untuk melihat persoalan atau fenomena sosial, termasuk melihat persoalan perempuan. Tapi kesibukan pekerjaan dan aktivitas perkuliahan membuatnya tidak bisa terlalu aktif di partai.

Namun, Tunggal memilih untuk tetap masuk ke pekerjaan riset yang bersinggungan dengan kelompok masyarakat marjinal, khususnya perempuan. Disana ia semakin mendalami isu-isu perempuan.

Dari ketertarikan mendalami isu perempuan ini yang akhirnya membuat Tunggal mendirikan Yayasan SEKAR, lembaga yang diarahkan pada perjuangan pemberdayaan perempuan buruh dan mahasiswa di Yogyakarta pada tahun 2002.

Kesibukannya ini juga membuatnya harus menyelesaikan gelar sarjana dalam kurun waktu 14 tahun. Tapi baginya, berjuang bersama masyarakat pada zaman Orde Baru untuk menentang rezim represif jauh lebih penting daripada hanya diam di balik kesibukan perkuliahan.

Sebagai konsultan isu gender, perempuan yang pernah maju dalam caleg DPRD Yogyakarta 2014 ini pun akhirnya bekerja di salah satu lembaga pembangunan internasional atau NGO (Non Government Organization) HIVOS untuk wilayah Asia Tenggara.

Dipercaya sebagai program development manager membuatnya berkesempatan untuk menangani isu pemberdayaan perempuan, hak-hak seksual, dan keberagaman gender tidak hanya di Indonesia saja, tapi di beberapa negara lain Asia Tenggara.

Memilih pekerjaan sebagai aktivis perempuan dan konsultan gender tidak mulus begitu saja. Masih ada stereotip yang melekat seperti “Apakah ada gajinya?” karena bekerja di LSM internasional. Juga tuntutan pekerjaan untuk melakukan riset yang membuatnya harus ke daerah-daerah pelosok sendiri sering menjadi pertanyaan dari orang lain.

Perempuan sendiri, disadari atau tidak, terkadang masih dianggap sebagai kaum kelas dua di masyarakat. Banyak tekanan dan ekspektasi sosial berlebihan yang melanda perempuan seperti cara berpakaian, cara berpakaian, usia menikah, level pendidikan, dll. Selain itu, masih sedikit ruang publik yang mampu menampung aspirasi perempuan.

Dari berbagai kegiatannya selama bekerja sebagai konsultan gender inilah yang mendorong Tunggal untuk lebih vokal lagi menyuarakan kesetaraan bagi para perempuan dan nilai-nilai feminisme. Ia memanfaatkan kanal media sosial untuk menyerukan isu-isu perempuan dan kesetaraan, seperti Twitter pribadinya @tunggalp. Ia juga sering bertandang di forum diskusi atau seminar dengan membahas isu keseteraan gender.

2017 silam, Tunggal bersama beberapa kawannya berjuang untuk mendobrak stigma seksisme melalui gerakan ‘Panel Laki’ yang dibuat akunnya di media sosial Twitter dan Instagram. Di dalam bio media sosialnya tertulis, “Akun ini untuk mendokumentasikan informasi mengenai #allmalepanel #panellakisemua di Indonesia. Lawan Seksisme!”

Konten-konten yang diunggah kebanyakan e-poster, brosur, atau screenshot seminar dan diskusi di Indonesia yang panelisnya laki-laki semua. Pertama kali aktif di awal November 2017, akun ini mendapat respon yang positif dari sejumlah kalangan di Indonesia.

Bagi Tunggal, melalui Panel Laki yang digagasnya, ia merasa harus menyuarakan bahwa semua manusia harus mendapatkan hak yang sama. Di dalam hukum tidak ada satu pasal pun dalam undang-undang yang mendiskriminasi perempuan. Sudah seharusnya perempuan mendapatkan akses yang sama dalam segala bidang.

Namun realita yang terjadi selama ini adalah akibat kultur patriarki yang sudah mengakar kuat—kultur yang masih menganggap perempuan lebih rendah daripada laki-laki—maka masih ada ketimpangan bagi perempuan untuk mengakses pendidikan atau pekerjaan.

Kebutuhan dan keberadaan perempuan di ruang publik sering kali diabaikan. Akhirnya masih muncul bahwa satu bidang tertentu hanya bidang perempuan, sementara bidang lainnya hanya khusus laki-laki.

Puluhan tahun berjuang menyuarakan keadalian gender dan HAM membuat hati nurani Tunggal tergerak untuk berjuang karena merasakan dan melihat alangkah enaknya jika manusia tidak diperlakukan secara diskriminasi. Sudah seharusnya kita memperlakukan manusia secara adil karena tidak ada manusia yang derajatnya lebih tinggi satu sama lain.

Terutama untuk kaum marjinal yang sering terpinggirkan di masyarakat, seperti kaum LGBT atau difabel yang sering mendapat diskriminasi dari berbagai arah. Di era yang semakin maju ini masih banyak orang yang tidak mendapat akses yang sama untuk bahagia dan diperlakukan secara adil.

 

 

               

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi