Tompi, Dokter Bedah Plastik Multitalenta dengan Tiga Profesi Berbeda

Sumber: instagram.com/dr_tompi

Nama Tompi melekat sebagai penyanyi Jazz Indonesia dan salah satu anggota Trio Lestari. Tapi nyatanya, disamping itu pemilik nama asli Teuku Adifitrian ini juga berprofesi sebagai dokter bedah plastik, fotografer, sekaligus pengusaha.

Tompi sendiri semasa kecilnya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang dokter. Tapi saran ibunya lah yang akhirnya mengantarkannya ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI). Disela-sela kegiatan kuliah, ia mencoba untuk tampil bernyanyi di kegiatan kampus.

Dari sanalah kemampuan vokalnya terus berkembang dan terbentuk setelah bertemu dengan beberapa pesohor di dunia musik dan tarik suara, seperti Bertha dan Tjut Deviana. Sebelum datang ke Jakarta, ia sendiri sudah mendalami bakatnya di berbagai sanggar tari di Aceh dengan belajar menari sambil bernyanyi, serta bermain alat musik gendang.

Mengawali karier tarik suara secara profesional di tahun 2002, ia membawakan beragam aliran lagu funk, R&B, soul, hip hop, jazz, swing, hingga bossanova dengan tampil rutin di cafe atau acara pernikahan. Ia sempat bergabung bersama grup band jazz Cherokee asal Singapura tahun 2003 dan merilis album Cherokee (2003) dan Bali Lounge (2004).

Pada tahun 2005, ia mulai mencoba untuk bersolo karier dengan mengeluarkan album T (2005) yang berasal dari inisial namanya. Pelantun lagu Menghujam Jantungku ini berturut-turut mengeluarkan album Soulful Ramadhan (2006), Playful (2007), My Happy Life (2008), Paris Jakarta Express (2009), Tak Pernah Setengah Hati (2010), dan Sounds of Ramadhan (2011).

Selain menyanyi, ia juga belajar untuk menulis lagu dan membuahkan lagu hitsnya seperti Menghujam Jantungku dan Tak Pernah Setengah Hati. Meski serius mendalami musik, karier dokternya tidak lantas ditinggalkan begitu saja.

2013, ia bersama penyanyi Glenn Fredly dan Sandhy Sondoro membentuk grup Trio Lestari yang beraliran pop dan jazz. Grup ini merilis album bertajuk 'Wangi' (2014) dengan lagu andalannya, Gelora Cinta.

Album ini berhasil mengukir prestasi di Anugerah Musik Indonesia (AMI) Award untuk Karya Produksi Grup Vokal Terbaik, Duo/Grup/Grup Vokal/Kolaborasi R&B Terbaik, dan Album Soul/R&B/Urban Terbaik 2015. 

Melepas lajang di tahun 2006 dengan Arti Indira, pria kelahiran 1978 ini rupanya memiliki ketertarikan akan dunia fotografi setelah melihat cara kerja fotografer yang memotret acara pernikahannya. Ia pun mulai bertanya-tanya dengan sang fotografer dan membeli sebuah kamera di tahun 2007.

Usai membeli kamera, ia mulai belajar secara otodidak dan berkumpul dengan komunitas fotografer. Jauh dari dunia tarik suara dan bedah, justru membuatnya semakin tertantang untuk menguasai teknik pemotretan. Ia pun menemnukan genre foto yang disukainya, yakni fashion atau portrait dan street photography.

Tak puas mengeksplor dunia fotografi dengan kamera digital, Tompi pun mulai menjajal kamera analog yang menggunakan film. Kemampuannya pun semakin terasah untuk bisa menghasilkan foto-foto yang unik dan cantik, hingga bisa menyebut dirinya sebagai seorang fotografer profesional.

Tompi pun mendirikan studio foto Glymps Photography dan Violad bersama dua rekannya sejak 2016 yang memberikan jasa memotret fine art, iklan, video, hingga branding perusahaan dan berbagai desain kreatif lainnya. Kliennya pun datang dari berbagai kalangan dengan kebutuhan bermacam-macam.

Bisnis fotografinya tidak hanya itu. Ada juga Soup ‘N Film yang didirikannya untuk menyediakan roll film dan lab pro untuk memproses semua jenis roll film sejak 2014 silam. Bisnis ini didirikannya karena keterbatasan film, chemicals untuk processing dan pro lab di tanah air.

Ia merasakan sulitnya mencari perlengkapan untuk analog photography ketika masih belajar, sehingga berinisiatif untuk mendirikan bisnis ini yang awalnya hanya dijalankan secara online. Seiring dengan meningkatnya permintaan, ia pun membuka tokonya di kawasan Jakarta Selatan dan menjadi salah satu toko kamera film andalan di ibu kota.

Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran, ia sempat bekerja sebagai dokter umum di IGD Rumah Sakit Koja, Tanjung Priok, beralih menjadi dokter okupasi di PT National Panasonic dan US Embassy. Ia juga meneruskan pendidikan spesialis dengan mengambil spesialis bedah plastik yang memakan waktu studi lima tahun.

Tompi sendiri lulus dari pendidikan spesialis bedan plastik di tahun 2010 dan langsung memberanikan diri untuk mendirikan klinik Beyoutiful bersama keempat rekannya. Mendirikan klinik ini adalah salah satu cita-citanya ketika mulai kuliah spesialis, meskipun ia sempat disarankan untuk bekerja dulu di rumah sakit untuk menambah jam terbang

Walaupun tiga tahun baru berdiri, pasien tetap untuk perawatan bedah plastik sendiri sudah mencapai 4.000 pasien dan terus bertambah, meskipun tidak pernah beriklan terang-terangan di media massa. Modal promosinya hanya WoM (Word of Mouth) dari pasien yang puas terhadap perawatan dan ketika diundang menjadi narasumber di acara talk show.

Dunia hiburan lain yang pernah dicoba oleh Tompi adalah dengan menjadi host di acara talk shownya sendiri yang bertajuk Tompi And Friends di salah satu televisi swasta pada 2009. Selain itu ia pernah menyutradarai video klip lagunya sendiri yang berjudul Aku Jatuh Cinta, video klip Sarwana, dan video klip penyanyi Pasto yang berjudul Tanya Hati.

Sebagai dokter yang juga bekerja di bidang seni, baginya ketika beralih sejenak ke dunia seni bisa menjadi obat ampuh untuk menyegarkan kembali pikirannya dari dunia bedah.

Ketiga profesi ini tidak menjadikannya beban, justru bisa menjadi penyeimbang pekerjaannya yang bertolak belakang. Meski demikian, bagi ayah tiga anak profesinya yang sesungguhnya adalah dokter spesialis bedah plastik.

Kunci sukses penyanyi yang baru saja merilis single ‘Fell This Way’ bersama Jean Paul Munick ini, adalah selalu bersungguh-sungguh untuk mengerjakan segala sesuatu. Meskipun menekuni tiga bidang berbeda, bukan menjadi halangan untuk bisa sukses dan berjalan beriringan.

Co-founder Men/o/logy by ZAP ini pernah meraih penghargaan dari AMI Award untuk Karya Produksi Urban Terbaik di album Salahkah (2008. 2009) dan AMI Award untuk Karya Produksi Kroncong/Kroncong Kontemporer/Stambul/Langgam Terbaik untuk single Hanyalah Untukmu (2018)



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi