Tirta Prayudha di Antara Sindrom GBS dan Big Alpha

Sumber: instagram.com/romeogadungan

Awal Juni 2016 mungkin bisa jadi menjadi hari yang paling suram dalam hidup Tirta Prayudha, pendiri Big Alpha. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa di hari itu, ia akan divonis dokter mengidap penyakit Guillain Barre Syndrome (GBS), yang bahkan namanya sendiri tidak pernah terdengar olehnya.

Ia sendiri tidak menunjukkan gejala aneh. Awalnya hanya demam tinggi tiga hari, lalu berlanjut kaki kesemutan. Selang tiga hari berikutnya, giliran tulang pinggangnya yang sakit hingga membuatnya tidak bisa tidur. Ia mengira terkena batu ginjal karena kesulitan buang air kecil dan sakit pinggang. Setelah menuju UGD dan melalui pemeriksaan CT Scan, ginjalnya baik-baik saja.

Di UGD, tiba-tiba kaki kirinya tidak bisa digerakkan. Keesokan paginya, kaki kanannya ikut tidak berfungsi seperti kaki kirinya. Sejak saat itu, bagian tubuh bawahnya terasa kebas dan mati rasa. Saraf sensorik dan motoriknya pun seperti lumpuh seketika. Akhirnya dokter mendiagnosis bahwa ia terkena GBS yang merupakan penyakit autoimun dimana antibodinya menyerang sistem saraf tepi. Rasio penderitanya 1:100.000 orang. Oleh orang awam, penyakit ini sering disebut sebagai lumpuh layu.

Buyar sudah rencana Tirta untuk berangkat wisuda merayakan kelulusan pascasarjananya di University of Aberdeen. Hampir sebulan ia dirawat di rumah sakit untuk memulihkan penyakitnya. Meskipun tidak langsung sembuh, setidaknya pengobatan ini untuk menurunkan dan memberhentikan rasa kebas di tubuhnya.

Karena penyakit ini ia pun harus belajar berdiri dan berjalan dari nol. Hal-hal sederhana lain seperti duduk tegak, buang air, atau menggerakkan kaki juga sulit dilakukannya. Kedua orang tuanya yang berada di Medan dan Aceh bergantian mendampingi dan merawatnya di sana.

Efek suatu penyakit tentu saja menimbulkan sakit dari sisi fisik penderitanya. Tapi yang paling berat terkadang malah dari sisi psikologisnya. Ini pula yang dirasakan Tirta di mana di puncak usia muda yang seharusnya masih prima, ia malah seperti harus kehilangan separuh badannya.   

Hidupnya yang benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat jelas membuat mentalnya down dan hampir depresi. Ditambah lagi ia merupakan tulang punggung keluarga, yang justru malah terserang penyakit yang tidak pernah seumur-umur diderita anggota keluarganya.

Kondisi kakinya yang terbatas membuatnya memilih untuk tidak keluar rumah dan mengurung diri di kamar selama sebulan. Ia merasa malu dan tidak sanggup merasakan tatapan kasihan dari orang-orang yang melintasi dirinya. Sekedar keluar rumah pun menjadi perjuangan sendiri bagi Tirta untuk tetap bisa nyaman dengan tatapan aneh yang dilemparkan orang-orang padanya.

Berulang kali ia mempertanyakan, “God, why me?” atas kondisi yang menimpanya. Tidak pernah terbayang olehnya di umurnya yang ke-28 tahun, ia malah seperti kembali menjadi bayi yang harus dibantu oleh orang lain untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.

Di tengah kondisinya itu, menulis adalah satu-satunya jalan baginya untuk tetap waras selama masa pemulihan. Menulis blog yang sudah ditekuninya dalam beberapa waktu belakangan menumbuhkan semangatnya untuk tetap hidup dan berbagi kepada orang-orang terhadap penyakit GBS yang dideritanya.

Butuh setahun baginya untuk bisa kembali beraktivitas di kantor seperti sedia kala. Selama masa istirahat itu, dia banyak menghabiskan waktunya ke fisioterapis untuk mengembalikan sensorik dan motorik tubuhnya agar tidak mengecil otot-ototnya, seperti belajar menggerakkan jari, lutut, atau kaki hingga berjalan dengan bantuan walker.

Dalam waktu empat bulan, kaki kanannya menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan yang mana sudah bisa digerakkan. Sedangkan kaki kirinya masih menunjukkan perkembangan yang agak lambat. Tapi itu tidak mengendurkan semangatnya untuk bisa menggerakkan kedua kakinya, meskipun ada lelah dan jenuh yang dirasakannya.

Di samping terapi, ia giat menulis dan menganalisis emiten saham yang sudah diinvestasikannya. Ia pun rajin mengamati tren di Twitter hingga muncul ide untuk mendirikan startup penyedia informasi keuangan yang dinamainya Big Alpha. Di titik inilah ia mengubah pandangan tentang hidup dan penyakitnya dari yang “God, why me?” menjadi, “Why not?”. Meski penyakit ini melumpuhkan separuh tubuhnya, tidak seharusnya semangatnya jadi lumpuh juga.

Big Alpha ini hadir dari keresahan Tirta terhadap rendahnya pengetahuan keuangan masyarakat Indonesia. Jangankan pengetahuan akan ekonomi makro yang mungkin dianggap terlalu ketinggian. Pengetahuan keuangan untuk pribadi pun masih sangat minim, seperti investasi, asuransi, dana darurat, dan lainnya. Padahal keuangan pribadi sudah menjadi pengetahuan mutlak yang seharusnya diketahui semua orang.

Dari situ penulis buku Newbie Gadungan dan Romeo Gadungan: Habis Jatuh Cinta, Terbitlah Patah Hati ini berinisiatif untuk membuka sharing session online keuangan yang dinamainya Twitvestor dan ditawarkan melalui akun Twitter pribadinya, @romeogadungan. Rupanya banyak yang tertarik dan ikut kelas ini. Dari situ semakin terlihat banyak orang yang masih awam tentang investasi, terutama investasi reksadana atau saham.

Menggandeng teman-teman yang dirasa sepaham dan memiliki kemampuan analisis keuangan seperti dirinya, lulusan Universitas Padjajaran ini mantap mendirikan Big Alpha di awal 2018 melalui Twitter. Di sana mereka rutin berbagi informasi yang kredibel dan mudah dimengerti oleh orang awam seputar pengetahuan finansial agar masyarakat semakin melek finansial dan mengecilkan gap antara instrumen keuangan dan institusi keuangan.

Seiring berjalannya waktu, minat generasi milenial untuk investasi saham mulai menunjukkan kenaikan yang signifikan. Informasi-informasi keuangan yang diberikan BigAlpha pun semakin diminati, sehingga mereka mengeluarkan e-book berisi laporan analisis emiten saham yang layak untuk diinvestasikan setiap empat bulan sekali.

Tidak hanya menjaring pengikut yang banyak di Twitter, Big Alpha juga membentuk grup Telegram untuk berbagi informasi dan diskusi seputar investasi saham. Sama seperti di Twitter, Big Alpha juga banyak menjaring pengikut di Instagram dan seringkali membuka forum diskusi dengan para pengikutnya.

Demi bisnis yang dirintis ini semakin sukses dan berjalan lebih cepat, Tirta bahkan memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai analisis keuangan di salah satu perusahaan migas plat merah yang sudah diembannya selama sembilan tahun. Ke depannya, Big Alpha akan semakin intensif membuka kelas-kelas keuangan sesuai kebutuhan masyarakat di beberapa kota besar di Indonesia.

Ketika badai menghantam dalam kehidupan kita, mungkin itu terasa seperti hukuman Tuhan. Tapi itu tergantung bagaimana kita memandang keadaan kita. Ketika kita berusaha menumbuhkan pikiran positif, kita sedang berusaha mengeluarkan energi positif untuk berbaik sangka dengan keadaan.

Sama seperti yang dialami oleh Tirta, ketika ia berusaha mencari sisi positif dari kondisinya, Big Alpha seperti pelita dalam gelap baginya yang sedang ingin bangkit dari kondisi terburuknya.

 

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi