Tidak Suka Batik, Michelle Tjokrosaputro Justru Sukses Karena Bateeq

Sumber: Satu Harapan

Besar di keluarga pengusaha batik tidak serta merta membuat Michelle Tjokrosaputro juga cinta batik. Ia justru tidak suka mengenakan batik. Tapi justru ketidaksukaannya pada batik membuatnya terjun lebih dalam pada dunia fesyen dan tekstil.

Ayahnya, Handiman Tjokrosaputro, adalah pendiri pabrik tekstil besar PT Dan Liris di Sukoharjo, Solo. Kakeknya, Kasom Tjokrosaputro, adalah pendiri Batik Keris yang outlet-nya sudah tersebar di banyak pusat perbelanjaan dan bandara di Indonesia. PT Dan Liris sendiri awalnya didirikan pada tahun 1974 untuk mendukung produksi batik.

CEO PT Dan Liris ini sendiri sewaktu kecil cita-citanya menjadi penari dan koreografer. Tidak pernah terlintas di pikirannya untuk menjadi pengusaha seperti kedua orang tuanya. Sebagai anak bungsu, bebannya tidak sebesat si kakak sulung. Ia sendiri hanya jadi “penggembira” ketika mengikuti jejak kakaknya untuk SMA di Pennsylvania.

Kemudian ia disuruh oleh ibunya untuk berkuliah di Paris yang dikenal sebagai kota Mode. Ia yang tomboy diharapkan mulai menaruh minat pada fesyen meskipun diam-diam ia mengambil kelas koreografi di sela-sela waktunya selama berkuliah.

Lulus kuliah pada 2002, ibunya memintanya memproduksi tas yang dijual ke banyak supermarket, seperti Carrefour, Ramayana, atau Matahari. “Dulu masih idealis. Enggak berasa butuh duit. Saya manja banget. Perusahaan kecil enggak apa-apa yang penting happy,” ujarnya pada Kompas.

Tahun 2004 ketika perusahaan mulai dibagi-bagi, ia hanya diminta membantu bagian garmen. Ayah dan kakak perempuannya masih ada untuk mengurus bagian tekstil. Di garmen sendiri sudah ada direkturnya. Ia sendiri hanya seperti anggota keluarga yang harus tanda tangan cek karena itu bisnis keluarga.

Beberapa saat setelah menikah dan pulang dari honeymoon di Australia di tahun 2005, keadaan berbalik 180 derajat. Ayahnya terserang stroke yang diharuskan dokter untuk istirahat dari mengurus perusahaan. Perusahaan chaos karena kredit macet dan marak unjuk rasa karena PHK. Kakak sulungnya menyerah untuk mengelola perusahaan dan memilih untuk mengurus perusahaan media yang didirikannya.

Michelle yang saat itu masih berusia 25 tahun diminta sang ibu untuk mewarisi tampuk pimpinan PT Dan Liris yang berada di ujung tanduk. Padahal selama ini ia tidak tahu banyak tentang seluk beluk bisnis ayahnya secara mendalam.

Ia yang saat itu sedang hamil muda pun hanya bisa pasrah digoblok-goblokin para karyawan yang berdemo menolak PHK. Untungnya ia sering berinteraksi akrab dengan para pekerja dan supervisor sehingga lebih mudah membuat kesepakatan dengan mereka.

Ia pun gelagapan untuk memegang amanah itu. Ia sendiri ingin menolak tapi di sisi lain Dan Liris adalah bayi kesayangan ayahnya dan ia tidak ingin mengecewakan sang ayah. Perempuan kelahiran 1980 silam ini sadar bahwa tidak gampang untuk memikul tanggung jawab itu. Tapi tekadnya, apapun yang nanti terjadi, ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan demi Dan Liris dan ayahnya.

Memimpin Dan Liris ditengah kacaunya situasi rupanya ikut menempa mentalnya sebagai pengusaha. Dibantu oleh orang tua dan jajaran direktur yang sudah puluhan tahun membesarkan Dan Liris, keikhlasan sang suami, serta doa yang tidak putus-putus, ia berusaha sekuat tenaga dan mencoba berbagai terobosan demi menyelamatkan Dan Liris.

Saat itu, selain utang perusahaan sudah masuk kategori 5 alias macet, mesin-mesin yang ada sudah tua dan boros listrik sehingga harus segera diganti. Mengelola ekspektasi sang ayah kepadanya sebagai penerus juga bukan hal mudah. Ia diharapkan bukan hanya sekedar melanjutkan, tapi menjadikan perusahaan lebih sukses daripada beliau.

Badai pasti berlalu. Sepuluh tahun kemudian setelah ia bergabung, utang bank perlahan-lahan mulai lunas, dan di tahun 2014 Dan Liris sudah masuk kategori 1 (lancar). Omzet pun tumbuh tiga kali lipat. Yang dulu sempat minus sekarang sudah profit. Kaderisasi pegawai berlangsung seimbang. Porsi pegawai perempuan dan laki-laki seimbang. Mesin-mesin diganti dengan yang terbaru dan terbaik, serta bangunan direnovasi.

Terobosan-terobosan yang dilakukannya itu didasarkan pada golden rule. Kalau ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain, maka kita harus memperlakukan orang lain dengan baik pula.

Setelah masalah perusahaan teratasi, barulah ibu tiga putra ini memikirkan passion-nya sendiri. Pabrik tekstil Dan Liris sendiri yang tadinya dibangun sebagai penopang produksi Batik Keris, kini sudah memproduksi untuk supply produk brand terkenal di luar negeri, seperti DKNY, Tommy Hilfiger, Marks & Spencer, Gymboree, Mattel, Ted Baker, Disney, dll. 2012 lalu ia menyiapkan pabrik untuk memproduksi batik dengan labelnya sendiri, yaitu Bateeq.

Resmi berdiri pada 2013 di Solo, Bateeq kini bisa ditemuka di berbagai pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia. Michelle sendiri mendirikan Bateeq karena ketidaksukaannya pada batik. Ibunya yang mendorongnya untuk mengubah perspektif batik di mata anak muda yang tidak suka batik seperti dirinya.

Dibuat lebih modern dan memperhitungkan pakem motif batik, Bateeq dirancang modis, young, dan fun untuk dikenakan oleh anak muda. Dia mempekerjakan para desainer muda untuk mendesain Bateeq yang ditantang membuat motif batik dengan siluet yang cocok bagi anak muda.

Di bawah bendera PT Efrata Retailindo, Bateeq tetap memproduksi batik cap dan tulis secara terbatas karena memang sulit untuk diproduksi massal dengan skala pabrik. Untuk peragaan busana di London Fashion Week dan Jakarta Fashion Week 2019 lalu, Bateeq meluncurkan koleksi dengan kombinasi lurik asal Klaten. Tenunan lurik ini dibuat dari bahan daur ulang limbang benang dari pabrik Dan Liris.

Pengalamannya melanglang buana ini yang membuatnya ingin meluncurkan koleksi baju yang lebih tahan lama dengan serat benang yang lebih ramah lingkungan atau ecofriendly, juga menumbuhkan rasa lebih dari sekedar terlihat menarik, tapi juga merasa menarik bagi si pemakai baju.

Di samping kendali pabrik tekstil, pejabat yang aktif sebagai Vice Chariman of Foreign Trade di Asosiasi Tekstil Indonesia dan Young President Organizations (YPO) ini juga memegang bisnis produksi kerajinan tangan yang diekspor ke mancanegara untuk Zara Home, Marks & Spencer Home, serta Habitat yang sudah sejak dulu dipegang oleh ibunya.  

Ribuan karyawan yang menggantungkan hidup pada pabrik menjadi alasannya untuk bisa bertahan sejauh ini. Tidak mudah memang berjuang untuk sesuatu yang bukan kita sukai sejak awal. Tapi Michelle memilih untuk tidak egois dengan tidak menyerah. Menengok ke belakang di masa-masa sulit, ketika beban sudah terlalu berat, air mata di kesendirian menjadi kekuatannya untuk bangkit lagi.

 

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi