Tanijoy Naikkan Taraf Hidup Petani Untuk Hidup Lebih Enjoy

Sumber: Bisnis.com

Sejak pendidikan dasar, kita telah mengenal bahwa Indonesia adalah negara agraris, dimana mayoritas penduduknya bermata pencaharian di sektor pertanian. Namun seperti yang kita tahu, petani sebagai produsen pangan, kehidupannya belum benar-benar sejahtera karena sulitnya permodalan yang membuat mereka harus berutang ke tengkulak dan menjual hasil panen dengan harga sangat murah.

Permasalahan inilah yang ditangkap oleh Muhammad Nanda Putra bersama kedua rekannya sebagai peluang bisnis baru di sektor pertanian. Ia mendirikan startup yang fokus pada pemberdayaan petani dengan konsep agroforestry dan zero waste management, yang diberi nama Tanijoy.

Nanda sendiri berlatar belakang pendidikan pertanian sudah memulai mencoba memulai kegiatan pertanian seperti menanam bibit kopi atau sayur-sayuran sejak 2009. Dari sana ia sering berinteraksi langsung dengan para petani, sehingga mengetahui kesulitan utama yang biasa mereka hadapi.

Rupanya, masalah yang sering menjadi batu sandungan petani adalah akses permodalan. Petani umumnya tidak memiliki lahan sendiri dan biasanya para petani meminjam uang pada tengkulak untuk membeli lahan.

Tak hanya itu. Petani sendiri juga harus menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga yang telah ditentukan, dan cenderung sangat murah.

Menjual hasil panen dengan harga murah dan harus mengembalikan uang modal, akibatnya petani lebih sering gagal bayar. Petani dipinjamkan modal dengan syarat harus mengembalikan dua kali lipat. Siklus ini akan terus berlanjut jika petani terus-menerus gagal bayar.

Tanijoy awalnya adalah sebuah platform marketplace produk pertanian yang menjual ke hasil tani ke supermarket, pasar, atau restoran. Setelah beberapa bulan berjalan, Nanda dan kawan-kawan menghadapi banyak rintangan, seperti jatuh tempo bayar pihak supermarket yang cenderung memakan waktu lebih dari sebulan sehingga membuat petani tidak lekas menerima uang hasil panen, juga sumber daya finansial yang kurang.

Tidak ingin cepat menyerah, ia memutuskan untuk melakukan pivot bisnis pada Juli 2017. Mereka memutuskan untuk bermain di hulu dengan menjadi paltform yang menghubungkan petani dengan investor dan pemilik lahan.

Sistem ini tidak hanya membantu petani mendapatkan akses permodalan. Mereka juga bisa menjual hasil dengan harga lebih tinggi daripada menjual ke tengkulak, karena Tanijoy juga membantu mendistribusikan ke pihak supplier, hotel, restoran, dan supermarket.

Tanijoy sendiri menyarankan kepada petani untuk menanam hasil tani yang dalam waktu tiga sampai enam bulan sudah bisa dipanen, seperti cabai, kentang, tomat, jagung, wortel, dan sayur-sayuran lain agar petani lebih cepat mendapatkan penghasilan.

Tak cuma itu saja. Tanijoy membina petani mengenai teknik pertanian yang tepat agar hasil panennya bisa melimpah ruah dan berkualitas. Petani juga perlahan-lahan mulai berpindah ke pupuk organik, dari yang sebelumnya menggunakan pupuk kimia.

Kelebihan Tanijoy dibandingkan startup investasi pertanian lain adalah dengan adanya field manager yang tinggal bersama petani dan bertugas di lahan. Field manager ini yang tugasnya memantau petani dan hasil taninya, serta memberikan pengajaran kepada para petani.

Laporan langsung dari lapangan yang dapat diakses oleh investor atau pemilik lahan melalui aplikasi Tanijoy juga menjadi kelebihan lainnya. Hal ini yang tidak ada di startup lain karena umumnya mereka hanya memberikan laporan bila telah tiba masa panen.

Dua tahun berdiri, Tanijoy telah berhasil menjalankan 112 proyek dengan 35.000 sayuran dan pohon ditanam dan melibatkan 1900 petani. Lahan yang telah dikelolah sendiri hingga saat ini telah mencapai lima ratus hektar di berbagai daerah seperti Bogor, Sukabumi, Makassar, Malang, dan Pangandaran. Tidak menutup kemungkinan akan ada daerah lain yang menjadi sasaran ekspansi.

Untuk monetisasi bisnisnya sendiri, Tanijoy menerapkan sistem bagi hasil dimana petani dan investor masing-masing mendapatkan bagian 40% dari penjualan, sedangkan sisanya sebesar 20% untuk Tanijoy.

Dari 20% keuntungan yang didapat, Tanijoy masih menyisihkan 10% sebagai dana cadangan apabila gagal panen yang disimpan sebagai bentuk asuransi kepada investor.

Selain itu, ia jgua masih mengalokasikan 25% dari keuntungannya untuk mitra lahan. Pemilik lahan bisa menggunakan sistem bagi hasil atau sewa lahan yang di luar sistem perjanjiannya.

Meskipun bisnis pertanian masih memiliki prospek yang cerah di tanah air, Nanda sendiri menghadapi beberapa masalah ketika merintis startup yang berbasis social enterprise ini. Mulai dari kurangnya modal, keterbatasan lahan, sampai akses pasar yang sulit.

Bermodalkan awal Rp 5 juta, ia menggunakan uang tersebut untuk membeli peralatan kantor dan membangun website. Tapi langkahnya ketika berhadapan dengan petani yang cukup menemui banyak jalan terjal.

Mulai dari riset menentukan produk yang cocok untuk pasar dan teknologinya. Belum lagi berhadapan dengan tengkulak yang tidak senang jika petani beralih ke sistem yang lebih menguntungkan seperti Tanijoy.

Bahkan ia sendiri pernah dikirim black magic atau ilmu hitam yang ingin menghentikan usahanya, yaitu dikirim jeroan ayam yang sudah terlihat berantakan di depan rumah dan salah satu tim yang kesurupan.

Tapi itu tidak menghalangi keinginan Nanda dan kawan-kawannya untuk bisa membantu menyejahterakan dan menaikkan taraf hidup petani di Indonesia. Baginya, membangun langsung social enterprise saat ini membuatnya hidupnya lebih bermanfaat bagi orang lain. tidak hanya menghasilkan uang, tapi juga berbagi dan berkolaborasi untuk manfaat bagi banyak orang.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi