Suksma Ratri Buktikan Positif HIV Bukan Vonis Mati

Sumber: Good News From Indonesia

Bagi sebagian orang, penyakit HIV/AIDS terdengar menyeramkan yang membuat semesta ini terasa runtuh seketika. Penyakit ini selalu berkonotasi menular dan tidak bisa disembuhkan sehingga cepat atau lambat, penderitanya akan segera menemui ajalnya. Tapi tidak bagi Suksma Ratri yang selama 13 tahun ini melewati hari demi hari sebagai ODHA atau orang dengan HIV/AIDS.

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan menghancurkan sel CD4 (sel T). Sel CD4 ini sendiri adalah bagian dari sistem imun yang secara spesifik bertugas melawan infeksi yang masuk ke dalam tubuh.

Infeksi HIV menyebabkan jumlah sel CD4 turun secara drastis sehingga sistem imun tubuh tidak kuat melawan infeksi. Sekali seseorang tertular virus HIV, maka virus itu akan seumur hidup ada di dalam tubuhnya.

Sementara itu, AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah tahap akhir dari infeksi HIV jangka panjang. Bisa dibilang AIDS adalah penyakit kronis akibat infeksi HIV yang memunculkan sekelompok gejala penyakit yang berkaitan dengan menurunnya daya tahan tubuh.

Ratri sebenarnya sudah cukup aware akan risiko terkena HIV/AIDS lantaran pernah menikah dengan seorang mantan pengguna napza suntik. Apalagi menurut cerita mantan suaminya, dia dan teman-teman sesama pengguna sering saling pinjam jarum suntik supaya lebih hemat.

Sebelum menikah, ia pernah mengajak mantan suaminya untuk tes HIV tapi ditolak dengan alasan sudah pernah dua kali tes dan hasilnya negatif.

Pernikahan harmonis yang diimpikannya rupanya tidak benar-benar terwujud karena tidak lama setelah positif mengandung, ia mulai menemukan bukti janggal bahwa mantan suaminya kembali ke kebiasaan lama menggunakan narkoba. Pernikahannya sendiri hanya bertahan dua tahun.

Setahun setelah bercerai, ia tiba-tiba mendapat kabar dari mantan suaminya bahwa ia positif HIV. Ia dan putrinya yang saat itu masih berusia dua tahun disarankan untuk segera tes juga karena bisa jadi istri tertular HIV.

Rupanya kekhawatiran dokter terbukti. Ratri memang tertular HIV dari suaminya. Namun untungnya putrinya negatif HIV yang membuatnya cukup lega.

Sewaktu mendapat vonis positif HIV, ia tidak terkejut dan bisa menanggapi kondisi itu dengan tenang karena sebelumnya sudah memiliki cukup pemahaman tentang HIV/AIDS. Ia tahu jika itu bukan vonis mati.

Jika menjalankan pengobatan yang benar dan pola hidup sehat, penderita HIV bisa punya harapan hidup yang tinggi. Melihat reaksinya yang sangat tenang dan biasa saja, keluarga besarnya pun akhirnya tidak bereaksi berlebihan.

Ratri yang saat itu bekerja sebagai public relations sebuah hotel di Bandung memilih untuk mengundurkan diri. Ia fokus bekerja di LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak dalam edukasi HIV/AIDS, Rumah Cemara. Di yayasan itu, ia berperan sebagai manajer kasus.

Berbekal pengetahuan tentang HIV/AIDS yang sudah dimilikinya dan menjalani hidup sebagai ODHA, ia seolah menemukan dunianya. Ketika menerima vonis itu sendiri, ia berjanji untuk menjalani hidupnya dengan jauh lebih baik dari sebelumnya. Hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan kampanye HIV/AIDS ke berbagai tempat di seluruh Indonesia untuk mengedukasi masyarakat yang menuntutnya untuk travelling sebulan sekali.

Di tengah kesibukannya mengurus LSM, terdengar kabar bahwa mantan suaminya sedang sakit parah. Awalnya ia tidak peduli, tapi dorongan dari rekan-rekannya di Rumah Cemara membuatnya akhirnya memutuskan untuk mengunjungi mantan suaminya tersebut bersama putrinya. Benar saja, ternyata AIDS sudah menggerogoti tubuh suaminya hingga kurus kering dan pada Maret 2007, mantan suaminya meninggal.

Akhir 2007, Ratri bekerja di Coordination of Action Research on Aids and Mobility (CARAM Asia), LSM regional yang menangani masalah HAM dan kesehatan termasuk HIV/AIDS. Di sana ia mengurus para buruh migran yang mengidap HIV/AIDS.

Selama di Negeri Jiran, kiprahnya sebagai aktivis HIV/AIDS kian nyata. Dia tidak ragu untuk memperjuangkan nasib buruh migran yang dipulangkan paksa karena menderita penyakit mematikan itu. Menurutnya, buruh migran itu tertular HIV/AIDS setelah bekerja di negara tujuan, bukan sejak di Indonesia.

Hingga saat ini, masih ada 62 negara yang memberlakukan HIV related travel restriction karena menganggap virus itu dari luar, meskipun sebenarnya epidemi HIV/AIDS sudah ada di negara-negara itu.

Berkat semangat dan konsistensinya dalam kampanye anti HIV/AIDS, Ratri akhirnya terpilih sebagai pembicara pembuka dalam Sidang Istimewa PBB 2008 di New York, AS. Biasanya pembica forum tersebut dipilih dari Afrika karena populasi penderita HIV/AIDS di sana cukup besar. Tapi tahun itu ada seleksi terbuka untuk menjadi pembicara pembuka Sidang Istimewa PBB yang mengangkat tema HIV/AIDS.

Ratri sendiri disarankan oleh rekan kerjanya karena saat itu usianya 30-an, perempuan, korban KDRT, dan tertular HIV dari suami. Sehingga dianggap selling point-nya cukup tinggi untuk bisa terpilih seleksi. Ia sendiri akhirnya bisa menyisihkan ratusan pelamar dari seluruh dunia dan berangkat ke New York.

Pengobatan HIV nya sendiri tidak selamanya berjalan mulus. Tahun 2012 ia sempat mengalami masalah pengobatan karena salah satu obat yang dikonsumsinya memberi efek ruam pada kulitnya, dari kaki hingga leher. Selain itu, kadar HB-nya juga sempat terjun bebas di angka 7. Hasilnya, pengobatannya diberhentikan untuk sementara.

Aktivitasnya yang padat justru mengundang tanda tanya orang-orang terdekatnya. Mereka heran karena menurut mereka, seharusnya dengan kondisi Ratri yang positif HIV lebih baik banyak istirahat agar tidak mudah lelah.

“Saya tidak merasa ada penurunan pada daya tahan tubuh saya. Saya merasa biasa saja. mungkin karena saya terlalu bersemangat dan berpikir positif, saya jadi tidak mudah lelah,” kata Ratri dalam wawancara dengan Klikdokter.com.

Putrinya sendiri baru mengetahui bahwa Ratri memiliki virus HIV setelah ia berusia sepuluh tahun ketika anaknya mencari namanya di mesin pencarian daring bersama teman-teman sekolahnya. Beruntungnya, putrinya bisa bersikap dewasa untuk menerima ibunya yang memiliki virus HIV.

Kini penulis buku Dari Balik Lima Jeruji dan Siluet dalam Sketsa itu kembali berkarier sebagai PR di Solidaridad Network Indonesia, yayasan nirlaba asal Belanda yang fokus pada pengembangan pertanian dan pemberdayaan petani.

Meskipun pekerjaannya sudah tidak berkaitan dengan masalah HIV/AIDS, ia masih jadi pembicara di berbagai seminar atau forum terkait penyakit tersebut. “Bahkan, sampai ada yang bilang, udah kalau soal HIV, hubungi Ratri saja,” ujar dia pada wawancara dengan Jawapos.

Sudah lebih dari satu dekade Ratri hidup bersahabat dengan virus HIV di tubuhnya. Beberapa pakar medis memperkirakan harapan hidup penyandang HIV positif adalah 15 tahun. Bukan tidak mungkin dalam dua tahun lagi ia menemui ajal. Tapi Ratri menyikapi dengan santai. Ia sendiri sudah menikah lagi dengan lelaki berkebangsaan Inggris.

Yang terpenting, penderita HIV harus pandai mengatur virus tersebut. Harus bisa menyeimbangkan gaya hidup dengan mengelola stres, minum antiretrovial dan vitamin secara teratur, mengatur pola makan, dan memperbanyak olahraga. Karena mereka tidak ingin dikasihani, tapi mereka ingin dihargai.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi