Stand Up Comedy Mengantarkan Sakdiyah Ma’ruf ke BBC 100 Women

Sumber: Youtube

Saya pertama kali mengenal Sakdiyah Ma’ruf dari tayangan video TEDxUbud di YouTube yang diunggah sekitar pertengahan tahun 2016 silam. Sebagai perempuan keturunan Arab yang berhijab, menurut saya, ia cukup berani mendobrak batasan untuk terjun ke dunia stand up comedy yang didominasi oleh kaum Adam.   

Menilik profilnya, Sakdiyah Ma’ruf atau yang akrab disapa Diyah, dilahirkan dari keluarga keturunan Hadrami-Arab di Pekalongan, Jawa Tengah. Keluarganya kala itu “sangat konservatif” dalam banyak hal sewaktu ia masih kecil. Ia ditekankan untuk menikah dengan salah satu sepupu jauhnya, seperti yang telah dilakukan ibunya dan kebanyakan wanita keturunan Arab umumnya di tanah air.

Ia sendiri dibesarkan oleh Abah dan Mamanya untuk menjadi seorang gadis Muslim yang akan meneruskan identitas agama dan etnisnya. Ia juga dipersiapkan untuk bisa menikah dengan seorang kaya dan terhormat di masyarakat. Saat masih duduk di sekolah menengah atas (SMA), ia bahkan mengatakan bahwa ia membenci pernikahan dan tidak ingin menikah.

Tidak sampai disitu. Batasan-batasan yang diterapkan orang tuanya pun sangat banyak. Ia tidak boleh mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, kecuali kegiatan wajib seperti pramuka di sekolah, tidak boleh mengetahui siapa saja anggota lawan jenis yang menjadi anggota organisasi di sekolah, serta tidak boleh banyak berinteraksi dengan lawan jenis. Bahkan kedua orang tuanya melarang teman lawan jenisnya untuk ke rumah, yang membuat seluruh teman-temannya segan untuk bertandang ke rumahnya.

Namun di balik sifat “kolot” tersebut, kedua orang tuanya masih mengizinkannya untuk mengonsumsi aneka budaya barat, seperti acara televisi Full House, Roseanne, dan MTV. Ketertarikannya untuk belajar bahasa Inggris berawal dari menonton situasi komedi seperti The Cosby Show, Roseanne, Seinfeld, dan Full House yang menampilkan teks bahasa Indonesia. Hal ini terus berlanjut ketika ia memutuskan untuk memerdalam bahasa Inggris dengan mengambil studi Sastra Inggris di Universitas Gajah Mada (UGM).

Sewaktu masih sekolah menengah pertama (SMP), ia pernah mengikuti lomba lawak antar kelas untuk pertama kalinya. Sejak itu pula ia menemukan bahwa artis dari acara favoritnya adalah pelawak tunggal.

Dalam acara Kick Andy, Diyah menuturkan bahwa sejujurnya yang mengenalkannya pada dunia komedi adalah sang abah. Di matanya, abahnya ini adalah seorang yang sangat humoris dan lingkungan keluarga di sekitarnya pun sebenarnya juga memiliki selera humor yang tinggi.

Di tahun 2009, ia menonton Live in Broadway dari Robin Williams beberapa kali melalui DVD bajakan. Mula-mula ia mencoba menjadi pelawak tunggal di acara kampus sebagai pengisi acara. Setelah lulus, ia pun semakin tertarik untuk menekuni lebih dalam stand up comedy sembari bekerja menjadi interpreter dan penerjemah profesional.

Bagi Diyah, melakukan stand up comedy mengajarkannya untuk jujur dengan dirinya sendiri, mengakui pengalaman dan kelemahannya. Topik-topik yang ia bawakan seringkali tabu dibicarakan, seperti tentang perspektif keturunan Arab di Indonesia, keseteraan gender, agama, intoleransi, kekerasan terhadap perempuan, atau pun menantang ekstremisme Islam.

Ia terus mengasah kemampuannya dari satu panggung ke panggung lainnya di saluran televisi swasta, tempat lokal di Jakarta, ataupun mengisi acara panggung dengan komedian tunggal lainnya.

Selama beberapa kali naik panggung di TV, produser acapkali memintanya untuk menyensor materinya sendiri karena materinya dianggap terlalu konseptual, teoritis, atau sarat dengan pesan. Tapi justru itu yang membuatnya semakin terdorong untuk terus menyuarakan pendapatnya mewakili banyak perempuan di luaran sana.

Selama merintis karier sebagai komedian tunggal, tidak ada satupun anggota yang mengetahui aktivitasnya tersebut. Bisa dibilang ia awalnya diam-diam melakukan kegiatan tersebut karena sudah pasti sang abah akan melarangnya.

Namanya mulai semakin dikenal khalayak luas setelah mengikuti acara Stand Up Comedy Show dan lomba Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV di tahun 2011, di mana ia lolos audisi di Yogyakarta.

Kompetisi tersebut mencatatkan namanya sebagai komika wanita pertama dan komika wanita berhijab pertama di Indonesia. Di kompetisi tersebut ia hanya tampil sekali dengan materinya tentang Islam dan perempuan. Setelah itu, ia mengundurkan diri karena ingin fokus pada studi master pengkajian Amerikanya, walaupun ia kembali muncul di babak grand final yang mempertemukan Ryan Adriandhy dan Insan Nur Akbar.

Penampilan Diyah sebagai perempuan berhijab di atas panggung tentu sudah cukup membuat penontonnya mengernyitkan dahi. Ditambah lagi dengan materi yang dibawakannya selalu menyinggung isu-isu kontroversial yang biasanya dihindari oleh para komika lain demi menjaga image.

Tapi justru Diyah menganggap jalannya sebagai komika ini bisa membuka mata masyarakat akan isu-isu yang selalu tabu dibicarakan dengan cara lawak yang lebih ringan dan bisa diterima.

Komika inspirasinya selama berkarier satu dekade adalah Sarah Silverman, Tina Fey, Roseanne, Ellen, Kathy Griffin, Margaret Cho, Robin Williams, Stephen Colbert, Chris Rock, Jerry Seinfeld, Ricky Gervais, dan tentunya Louis CK yang menjadi komika favoritnya.

Diyah sendiri digambarkan sebagai sosok stand up comedian yang memiliki keceriaan dari sosok William, kepahitan Luois dan seperti Cosby, serta tidak pernah menggunakan kata-kata kotor atau sumpah serapah dalam pesannya.

Dari keberaniaan Diyah untuk menyuarakan tentang perempuan ke publik melalui panggung stand up comedy, tidak salah jika ia mendapat penghargaan dari Vaclav Havel International Prize for Creative Dissent 2015 untuk kategori stand up comedy, serta namanya masuk dalam daftar 100 wanita inspiratif dunia versi BBC 2018 atau “BBC 100 Women” di peringkat ke-54 dari 100 wanita terpilih.

 

 

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Sakdiyah_Ma%27ruf

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-46257719

https://beritagar.id/artikel/figur/sakdiyah-maruf-bukan-sekadar-humor

https://tirto.id/sakdiyah-maruf-komedian-asal-indonesia-yang-masuk-100-bbc-women-daiG

https://tirto.id/sakdiyah-ma039ruf-melempar-komedi-di-derasnya-arus-konservatisme-dcNs

https://www.suara.com/wawancara/2018/12/17/070000/sakdiyah-maruf-berkomedi-tentang-kehidupan-muslim-yang-intoleran

https://www.youtube.com/watch?v=QZuUCMLPYWM

 

 

                                 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi