Stafsus Presiden Andi Taufan Sukses Berdayakan Perempuan dan UMKM Desa

SUmber: Dailysocial

Tidak semua perempuan memiliki akses untuk bisa mandiri secara ekonomi. Padahal perempuan adalah pelaku ekonomi potensial tapi masih banyak yang kesulitan mendapatkan akses modal. Masalah ini yang ditangkap oleh Andi Taufan Garuda Putra sepuluh tahun lalu yang kemudian mengilhami dirinya mendirikan Amartha.

Pria berdarah Bugis ini mengawali karier sebagai konsultan bisnis untuk IBM Global Business Services setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung. IBM sendiri dikenal sebagai salah satu perusahaan dambaan banyak anak muda di dunia.

Saat masih bekerja di IBM, perusahaannya mendapat proyek kelapa sawit dan ia ditugaskan keliling ke luar daerah dan mengunjungi kebun-kebun sawit. Dari sana ia melihat sendiri ketimpangan masyarakat pinggiran. Taufan bahkan sempat berbincang dengan ibu-ibu di sana.

Ternyata yang menjadi penghambat masyarakat yang tinggal di kawasan pinggiran untuk maju secara ekonomi adalah masih banyak yang kesulitan untuk mendapatkan akses permodalan. Terutama perempuan yang dianggap sebagai pekerja sektor informal yang acapkali dinomor duakan di lingkungan masyarakat.

Taufan sendiri akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan mendirikan Amartha yang bergerak di pinjaman untuk usaha mikro. Bisnis berdampak sosial ini khusus memberikan akses permodalan kepada perempuan di desa yang selalu terlibat utang dengan rentenir.

Bahkan mereka sulit mendapatkan pinjaman usaha dari lembaga keuangan konvensional karena lokasi yang sulit dijangkau atau tidak memenuhi persyarakat seperti tidak punya tabungan di bank atau tidak punya sejarah kredit.

Cara kerja di Amartha sendiri saat itu adalah dengan mewajibkan para perempuan membentuk kelompok untuk saling mendukung mengembangkan usaha satu sama lain dan membantu bila ada anggota yang mengalami kesulitan dengan sistem yang bernama tanggung renteng. Sistem ini pertama kali menerapkannya di Desa Ciseeng, Kabupaten Bogor.

Dengan pola pembiayaan kelompok yang berbasis bisnis sosial, bapak satu anak ini tadinya hanya memberikan pinjaman kepada sekitar 20 orang peminjam. Tidak disangkanya, pertumbuhan peminjam terus bertambah hingga mencapai 200 orang.

Selain dilandasi nilai-nilai sosial, niat awal Taufan mendirikan bisnis ini adalah ingin membantu mencapai sustainable development goals (SDG) melalui pilar pengentasan kemiskinan, partisipasi perempuan dalam pembangunan, dan mengurangi ketimpangan pendapatan di pedesaan.

Kegigihannya membangun bisnis ini membuahkan hasil ketika ia mendapatkan penghargaan Ashoka Young Change Makers Awards 2010. Penghargaan ini juga sekaligus sebagai bukti kerja keras kepada orang tua Taufan yang awalnya sempat menentang dan tidak mendukung bisnisnya karena dianggap nekat meninggalkan kemapanan yang sudah ada.

Jatuh bangun berbisnis tentu sudah menjadi santapan yang tidak terlewatkan. Begitu pula Taufan yang sudah pernah merasakan jatuh bangunnya membangun dan membesarkan Amartha.

Awalnya ia memberi pinjaman kepada satu orang yang membuka usaha warung nasi. Rupanya ini menarik banyak orang lain yang ingin meminjam uangnya lagi karena sistem yang diterapkannya berbeda dengan pinjaman bank keliling di daerah yang biasa mengenai bunga. Tapi ternyata tidak berlangsung lancar karena ada beberapa orang yang tidak bisa mengembalikan utang karena ada keluarga yang sakit atau ada usaha lain.

Dari masalah itu ia memilih untuk belajar lebih dalam mengenai pembiayaan di pedesaan yang jangan hanya modal dan kepercayaan saja daripada sekedar angkat tangan. Alumnus Harvard Kennedy School ini belajar dari internet mengenai cara memberi pinjaman yang baik, mengatasi kredit macet, hingga akhirnya ia bisa menemukan formula yang tepat dengan bekerja sama dengan ibu-ibu yang mau nalangin modal dulu dan berhasil.

Pendirian Amartha sendiri bermodalkan Rp 15 juta yang mana Rp 500 ribu per orang. Modal ini didapat dari orang tua teman-teman ketika ia kuliah. Setahun jalan ia bisa dapat seribu orang. Secara bertahap ia mulai ke bank hingga berhasil dapat Rp 5 miliar.

Selang waktu lima tahun perusahaannya berjalan, pada tahun 2015, startup berbasis teknologi sedang melejit di tanah air. Bisnis financial technology (fintech) juga mulai ikut bermunculan seperti peer-to-peer lending, jual beli saham, investasi ritel, perencanaan keuangan, dan lain sebagainya.

Taufan yang baru pulang dari menimba ilmu S2 di Amerika pun memilih mengubah Amartha dari lembaga keuangan mikro konvensional menjadi peer-to-peer lending yang bisa menghubungkan investor dengan usaha mikro perempuan di pedesaan dengan memanfaatkan teknologi.

Harapannya, dengan semakin banyak dana yang disalurkan, akan ada banyak perempuan di luar sana yang terbantu. Perubahan ini membawa Amartha menjadi salah satu fintech lending yang diperhitungkan di Indonesia.

Melihat peluang bisnis Amartha yang sudah teruji sebelum era fintech, Mandiri Capital Indonesia menyuntikkan dana kepada Amartha dalam putaran pendanaan seri A bersama Lynx Asia Partners, Beenext, dan Midplaza Holding di tahun 2017. Dalam waktu dekat, akan ada penerimaan pendanaan seri B yang salah salah satu investornya dari Line Ventures.

Setelah menjadi fintech, total dana yang disalurkan Amartha sendiri cukup signifikan. Hingga pertengahan November 2019 lalu, total dana yang telah disalurkan telah mencapai Rp 1,5 triliun, meningkat lebih dari 150 persen dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp 700 miliar. Pelan-pelan, Amartha juga mulai memekarkan diri ke berbagai provinsi di Pulau Jawa.

Oktober 2019, pertama kalinya Amartha menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi. Sulawesi Selatan dipilih menjadi cabang pertama di Sulawesi. Sebentar lagi, Amartha juga akan mulai bergerak ke Pulau Sumatera.

Dengan prestasi dan pencapaian yang signifikan, Amartha telah mendapat beberapa penghargaan seperti Mastel Digital Inclusion Awards 2018 untuk kategori startup fintech, UN Capital Development Fund (UNCDF), 30 Promising Growth-stage Startups 2018 dari Forbes Indonesia dan InnovationXchange (iXc), dan SDG Geneva Summit 2019 sebagai perusahaan jasa keuangan yang berdampak meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan berkelanjutan pertama, yakni pengentasan kemiskinan.

Prestasi dan misi yang diusung Taufan untuk memberdayakan perempuan lewat UMKM desa lewat Amartha, membuatnya beberapa waktu lalu dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai salah satu staf khusus presiden milenial bersama enam orang anggota lainnya.

Well, untuk melompat ke tempat yang lebih tinggi, tentu kita harus meninggalkan zona nyaman. Seperti yang dilakukan Taufan yang merelakan jabatannya di IBM demi membangun lembaga mikro keuangan. Tapi siapa sangka jika di situlah ia banyak mendapatkan kesuksesan. Semoga menginspirasi!

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi