Sri Mulyani, Ibunya Ekonomi Indonesia

Sebagai seorang menteri terbaik di dunia, tentu bukan hal yang mudah bagi Sri Mulyani untuk melakukan pencapaian-pencapaian besar dan bisa mendapatkan bonus dengan predikat tersebut. 

Ketertarikannya dibidang ekonomi telah muncul sejak ia duduk dibangku SMA.  Keinginan tersebut semakin kuat kala ia akan memasuki universitas. 

Ia lebih memilih jalannya sendiri, mengabaikan permintaan orang tuanya untuk bersekolah di jurusan kedokteran dan teknik, untuk meneruskan jenjang pendidikan sarjananya di jurusan ekonomi pembangunan di Universitas Indonesia.

Keseriusannya dibidang ekonomi pun dibuktikan ketika ia lulus pada tahun 1986 dengan menyandang predikat lulusan terbaik.  Selepas sarjana, ia memulai karirnya sebagai peneliti di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) dan asisten peneliti di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 

Dua tahun kemudian, ia menerima tawaran untuk melanjutkan studi magister dan doktor sekaligus ke luar negeri. Akhirnya ia pun menjatuhkan pilihan pada University of Illinois Urbana-Champaign, Amerika Serikat, dan berhasil menyelesaikan studinya hanya dalam waktu empat tahun saja.

Sekembalinya ia ke Indonesia, ia kembali ke Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat UI untuk menjabat wakil direktur pendidikan latihan.  Ia juga sempat memegang posisi wakil kepala bidang peneliti LPEM, dan kepala program magister perencanaan kebijakan publik UI.

Kemonceran Sri Mulyani dibidang ekonomi membuatnya kembali hijrah ke negeri Paman Sam. Pada tahun 2001, ia menjadi konsultan USAID (US Agency for International Development) sekaligus menjadi pengajar ekonomi Indonesia di Andrew Young School of Policy Studies di Georgia State University. 

Pada tahun 2002, ia dipercaya oleh IMF untuk memegang tampuk kepemimpinan sebagai direktur eksekutif mewakili 12 negara Asia Tenggara. 

Dua tahun ia bersua bersama IMF, akhirnya ia harus pulang kampung ke tanah air karena panggilan presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menunjuknya sebagai menteri negara perencanaan pembangunan nasional Indonesia dalam Kabinet Indonesia Bersatu hingga tahun 2005. 

Setahun kemudian, ia dipindah tugaskan untuk mengisi posisi menteri keuangan merangkap menteri koordinator bidang perekonomian. Tidak mudah menjadi menteri wanita yang seringkali diremehkan karena wanita dianggap kurang mampu dalam memimpin dalam lelaki. 

Sri Mulyani butuh usaha lebih dalam meyakinkan staf kementriannya akan kebijakan-kebijakannya terkait kementrian dan ekonomi Indonesia. 

Kerja keras tersebut membuahkan hasil dimana cadangan valuta asing negara mencapai nilai tertinggi sebesar $50 miliar. Ia juga mengatur pengurangan utang negara 30% dari PDB (pendapatan domestik bruto) dari 60%, yang mengakibatkan penjualan utang negara institusi asing semakin mudah. 

Ia juga mengubah struktur pemerintah di kementrian keuangan, serta menaikkan gaji petugas pajak untuk mengurangi sogokan di departemen keuangan. 

Ia pun dinobatkan sebagai wanita paling berpengaruh nomor 23 di dunia pada tahun 2008 versi majalah Forbes dan Asia’s Finance Minister of The Year oleh Emerging Markets pada tahun 2007 dan 2008.

Kasus Bank Century yang menjadi perbincangan hangat di tahun 2008 ternyata ikut menyeret nama Sri Mulyani. Kebijakannya yang dianggap merugikan negara hingga triliunan rupiah karena adanya dugaan penyelewangan dalam aliran dana bailout Rp 6,7 triliun. 

Meski ia tidak pernah terikat dengan parati politik manapun, tekanan politik yang berdatangan padanya cukup menggerahkan meski ia tetap yakin bahwa ia tidak ada sangkut paut dengan penyelewengan dana tersebut. 

Baca Selengkapnya: Biografi - Sri Mulyani

Mei 2010 ia mengundurkan diri dari jabatan menteri keuangan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2. Sri Mulyani segera kembali terbang ke Amerika Serikat untuk memenuhi pinangan Bank Dunia sebagai direktur pelaksana yang mengatur dan bertugas diatas 74 negara di Amerika Selatan, Karribean, Asia Timur dan Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara. 

Pada tahun 2014, ia kembali dinobatkan sebagai wanita paling berpengaruh di dunia urutan ke-38 versi majalah Forbes.

Tahun 2016 menjadi tahun terakhir Sri Mulyani bersama bank dunia.  Ia kembali harus pulang kampung karena panggilan Presiden Joko Widodo yang memintanya untuk kembali mengisi posisi menteri keuangan. 

Kembalinya Sri Mulyani di kabinet Jokowi dianggap sebagai langkah terbaik Jokowi selama menjadi presiden RI.  Lagi-lagi kerja kerasnya berkontribusi besar untuk bangsa ini dimana ia berhasil mengurangi target defisit fiskal yang dikhawatirkan menembus angka 3% menjadi 2,5% saja. 

Baca Lainnya: Susi Pudjiastuti: Wanita Nyentrik Berdedikasi Memajukan Laut Indonesia

Mengenal Politikus Generasi Milenial: Tsamara Amany

Biografi - Tri Rismaharini

Ia berhasil memperbaiki sistem perpajakan Indonesia melalui program tax amnesty yang digagasnya yang realisasi pembayaran tebusannya jauh melebihi proyeksi Bank Indonesia. Ia juga mendapat sorotan karena berhasil menagihkan pajak Google dan Facebook.

Pada tahun 2017 ia dinobatkan oleh majalah Finance Asia sebagai menteri keuangan terbaik se-Asia 2017.  Maret 2018 lalu, ia diganjar penghargaan sebagai menteri terbaik di dunia oleh World Government Summit atas kontribusinya terhadap negara melalui kebijakan-kebijakan ekonomi.  Sri Mulyani juga menjadi salah satu figur srikandi Indonesia dimana wanita dapat ikut andil dalam memajukan bangsa.

 

Sumber:

Biografi Sri Mulyani



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi