Septi Peni Wulandani: Jadi Ibu Rumah Tangga Juga Harus Profesional

Sumber: thediaryofquestions.wordpress.com

Permintaan sang suami untuk menjadi ibu rumah tangga karena tidak ingin anak-anaknya kelak dididik oleh orang lain, cukup mengejutkan Septi Peni Wulandani 24 tahun yang lalu. Angannya untuk menjadi wanita karier setelah mendapat SK CPNS di Kementrian Kesehatan pun harus dikubur.

Tapi ia akhirnya menuruti permintaan sang suami dan memilih mengundurkan diri. Sontak, keputusan ini pun diprotes oleh ibunya yang notabene single parent dan menganggap perempuan itu harus bekerja agar bisa mandiri, meski ia sendiri tetap pada pendiriannya.

Memutuskan menjadi ibu rumah tangga di Indonesia ternyata tidak semudah yang dibayangkan karena acapkali dicap sebagai perempuan yang menganggur, tidak punya pekerjaan. Ia sendiri mengaku iri dengan kesibukan wanita karier di sekitarnya di tahun pertama menikah.

Ketika anak pertamanya lahir, Enes Kusuma, ia mulai menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga yang secara langsung terlibat dalam pengasuhan dan mendidik anak-anaknya.

Dibimbing oleh sang suami, ia sendiri banyak berproses dari yang tadinya menjadi kasir keluarga, punya ilmu untuk meningkatkan kemampuan menjadi manajer keuangan. Ketika jadi tukang masak, harus naik tingkat menjadi manajer gizi bagi keluarga kecilnya. Saat menjadi tukang antar jemput anak, harus meningkat menjadi manajer pendidikan keluarga.

Septi dan suaminya juga sering mengobrol dan berdiskusi metode-metode apa yang bisa diterapkan untuk membina keluarga kecil mereka ini. Dari sana, ia mulai menyadari bahwa selama ini tidak ada sekolah khusus yang membekali seorang wanita untuk menjadi ibu profesional. Menjadi ibu seperti menerima suratan garis takdir setelah melahirkan seorang anak.

Bagi Septi, ibu rumah tangga bukan pekerjaan yang bisa disepelekan karena besarnya tanggung jawab yang dipikul seorang ibu untuk membimbing anak-anaknya. Sudah seharusnya wanita bangga menjadi ibu rumah tangga karena itu pekerjaan yang mulia.

Ia sendiri terinspirasi dengan sebuah ungkapan “Al-ummu madrasatul ula” yang berarti, ibu adalah madrasah pertama dan utama untuk anak-anaknya. Inilah yang memotivasinya untuk terus berbenah diri demi menjadi madrasah terbaik bagi ketiga anaknya.

Selama ini, daster dan bau bawang kerap melekat pada image ibu rumah tangga. Ia ingin mengubah image tersebut. Sama seperti ibu bekerja, ia bangun pagi dan mengenakan pakaian profesional dari jam 7 pagi hingga 7 malam. Perlahan tapi pasti, apa yang dilakukannya hingga tahun 2009 cukup membuahkan hasil.

Tahun 2011, muncul Komunitas Ibu Profesional ketika anak pertama dan keduanya sudah remaja dan si bungsu berusia 7 tahun. Ibu Profesional dimulai secara offline dari dua ibu yang sama-sama tinggal di Salatiga. Setiap minggu mereka belajar bersama. Dari dua ibu, jadi empat, kemudian delapan, dan seterusnya hingga dalam kurun waktu setahun sudah ada 100 ibu yang ikut belajar.

2012, ia mulai bermain di ranah online dengan menggunakan situs. Angkatan pertama inilah yang menjadi fasilitatornya, yang terus bergulir apabila sudah naik kelas dan ada kelas baru. Dari situ mulai muncul Komunitas Ibu Profesional di wilayah lain seperti Sumatera, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Selain online, mereka juga kopi darat di berbagai daerah. Melihat masifnya perkembangan komunitas ini, Septi kemudian menjalankan webinar atau web seminar secara online dengan materi yang sistematis untuk disampaikan secara rutin tiap pekan.

Webinar ini sendiri karena bisa diakses dari mana saja, tentu saja akhirnya mampu menjangkau ibu-ibu lain di seluruh Indonesia, bahkan beberapa ibu di Asia Tenggara. Dalam kurun waktu 2013-2015, ada sekitar 3.000 ibu di luar negeri yang ikut webinar ini.

Agar pembelajaran semakin mudah, ia membuat kelas di aplikasi chatting WhatsApp di tahun 2015. Ternyata cara ini membuat Ibu Profesional semakin diminati. Hingga 2018, sudah ada 21.000 ibu yang belajar di institut ini yang tersebar di berbagai negara seperti Korea Selatan, Filipina, Singapura, Malaysia, hingga Amerika Serikat.

Septi membagi proses pembelajaran menjadi empat tahap: “bunda sayang”, “bunda cekatan”, “bunda produktif”, serta “bunda sholehah”. Masing-masing tahapan membutuhkan waktu belajar selama setahun.

Di tahap pertama, “bunda sayang”, ia mengajak ibu-ibu untuk selalu merasa bahagia ketika mendidik buah hati.

Masuk tahap kedua, “bunda cekatan”, ia mendorong para anggota untuk mengubah pola pikir mereka terhadap peran ibu rumah tangga. Di tahap ini, hasil pembelajaran yang diharapkan adalah ibu bisa mengatur kegiatannya sebagai manajer rumah tangga dan manajer keluarga. Lewat komunitas yang dibentuknya ini, ia ingin mengubah pola pikir tentang aktivitas sehari-hari di rumah agar dapat dilakukan seperti halnya seorang profesional bekerja.

Setelah menempuh dua tahap awal, Septi mengajak para ibu untuk menyelami “bunda produktif” yang bertujuan mendorong para ibu untuk bisa mandiri secara finansial sambil tetap berperan mengasuh anak dan mengurus keluarga. Di tahap “bunda sholehah”, para ibu diharapkan bisa memberi manfaat terhadap lingkungan sekitar, tidak hanya di dalam lingkup keluarga saja.

Yang membedakan dengan kelas parenting pada umumnya adalah para ibu yang menjadi fasilitator ini langsung praktik untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah diajarkan. Bukan hanya teori dari psikolog yang terkadang belum dijalankan. Dari hasil praktik tersebut, biasanya banyak menemukan teori baru yang bisa diterapkan di pembelajaran masa mendatang.

Hasil didikan yang diterapkan pada ketiga anaknya Enes (23), Ara (22), Elan (17) dengan konsep pendidikan yang ramah dan layak untuk anak memang memuaskan. Mereka bisa mencari cara sendiri, menemukan passion sendiri, dan menemukan komunitas sendiri untuk berkembang.

Ketiga anaknya sejak usia sembilan tahun diajarkan untuk membuat proyek yang sesuai dengan passion mereka sendiri. Setiap minggunya mereka diharuskan untuk mempresentasikan ide hingga perkembangan proyek tersebut.

Selain home schooling dengan ibu sebagai pendidik, Septi dan suami menerapkan model belajar ‘nyantrik’, proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak akan datang perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Yang terpenting mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli selama magang.

Hasilnya, Enes bisa berkuliah di Singapura setelah SMP dan menjalankan banyak proyek peduli lingkungan. Ia sendiri pernah memperoleh penghargaan dari Ashoka dan sudah diliput koran berkali-kali. Ara, sejak usia 10 tahun telah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5.000 sapi dan proyek tersebut ikut membangun suatu desa. Elan di usia belia menciptakan robot dari sampah

Sebelum berkecimpung di Ibu Profesional, Septi sebelumnya pernah menemukan metode Abacabaca, metode membaca dengan merangkai suku kata, dan metode Jarimatika, metode berhitung menggunakan jari. Metode ini ditemukannya ketika mengajari Enes membaca dan berhitung.

Selama tahun 2000-an awal, metode Jarimatika yang sudah dipatekannya ini benar-benar populer di kalangan pendidik dan digunakan di sekolah untuk belajar matematika menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Bahkan buku metode ini sudah dibuat dalam bentuk braille bagi tunanetra.

Founder School of Life Lebah Putih ini pernah diberi beberapa penghargaan atas karyanya seperti Women Entrepreneur Award Ashoka Foundation 2007, Inspiring Woman Award 2008 & 2009, Tokoh pilihan majalah Tempo, dan Kartini Award 2009.

 

           

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi