Sayurbox, Startup Jual Sayur Kekinian Ala Amanda Susanti

Sumber: Good News From Indonesia

Kita mengenal Indonesia sejak lama sebagai negara agraris. Namun, petani di bumi pertiwi ini belum lah dapat mencapai titik kesejahteraan dari mata pencahariannya tersebut.

Masih banyak petani yang belum merasakan margin besar dari hasil penjualan produk pertanian. Lantaran banyaknya mata rantai distribusi yang harus dilalui dari produsen ke konsumen, dimana pengepul atau tengkulak yang justru mendapat margin lebih besar.

Permasalahan tersebut yang akhirnya memunculkan ide Amanda Susanti untuk mendirikan startup Sayurbox. Idenya pertama kali muncul saat bertemu seorang petani singkong bernama Misto yang menjual hasil panennya kepada pedagang desa setempat. Namun omzet yang didapat terbilang rendah.

Amanda sendiri pernah berpengalaman mengelola kebun sendiri seluas dua hektar di daerah Parungkuda, Sukabumi. Bekerja bareng dengan para petani membuatnya ikut merasakan kesulitan petani mencari akses langsung untuk menjual produk pertanian ke konsumen.

Mata rantai distribusi yang panjang antara petani dan konsumen akhir membuat harga produk menjadi mahal, terutama produk pertanian organik yang beberapa tahun belakangan mulai digandrungi. Ia ingin masyarakat di kota besar bisa makan produk organik yang lebih sehat dan segar dengan harga yang bagus.

Berangkat dari sana, Amanda yang lulusan Manajemen dari University of Manchester, Inggris, menggandeng para petani untuk memotong mata rantai distribusi agar mereka bisa langsung menjual ke konsumen rumah tangga atau ke restoran dalam skala besar.

Ia mulai membangun bisnis pertanian ini yang dinamainya Sayurbox dengan menawarkan produk ke orang-orang terdekatnya dan menjual secara online di media sosial pada pertengahan 2016.

Ia tak sendiri membangun Sayurbox, tetapi menggandeng dua rekannya, Rama Notowidigdo dan Metha Trisnawati. Ketiganya memiliki visi misi yang sama untuk membantu petani lokal bisa menanam tanaman dengan lebih baik, dan menjual produk langsung ke konsumen.

Dari media sosial, permintaan pasar akan produknya terus meningkat. Sayurbox akhirnya memutuskan membuat website untuk memudahkan pelanggan mengakses produk-produk pertanian yang tersedia. Ketika pesanan terus meningkat, ia akhirnya meluncurkan aplikasi.

Nilai lebih yang ditawarkan Sayurbox tidak hanya sekedar mendapatkan produk pertanian yang dipetik langsung dari lahan petani yang dipanen, tetapi juga tidak memakai banyak pestisida untuk menjaga produknya tetap organik. Selain itu, ada beberapa produk pertanian yang jarang tersedia di supermarket atau pasar tradisional, tapi Sayurbox menyediakannya.

Ketika memulai bisnis ini, Amanda menggandeng dua petani untuk mitra mereka dalam mensuplai produk. Namun perlahan-lahan, mitra petani terus bertambah dan datang dari berbagai daerah seperti Bogor, Sukabumi, Lembang, Cipanas, Jawa Timur.

Bahkan ada beberapa dari mereka yang mengajukan diri untuk menjadi mitra. Hingga kini, sudah ada lebih dari 200 petani yang siap mensuplai kebutuhan produk pertanian kepada pelanggan Sayurbox.

Dalam proses penjualannya, Sayurbox menerima pesanan dari pelanggan dengan sistem PO. Lalu pesanan akan dikumpulkan menjadi satu dan diteruskan kepada petani agar dipanen. Setelah dipanen, petani akan mengirim sayuran segar tersebut ke hub Sayurbox untuk didistribusikan kepada pelanggan.

Karena menggunakan sistem PO, sayuran akan diantar pada hari-hari tertentu yakni Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Sistem digunakan agar tidak ada produk pertanian yang terbuang dengan percuma. Petani juga mendapatkan kepastian bahwa hasil panennya tersebut memang sedang dibutuhkan.

Hingga saat ini, Sayurbox hanya melayani konsumen rumah tangga di area Jabodetabek dan Bandung. Ke depannya, dengan aplikasi yang telah diluncurkan, ia ingin mengembangkan sayap dengan merambah konsumen skala besar seperti restoran dan catering dan merambah daerah-daerah lain di Indonesia agar bisa ikut merasakan kemudahan mengonsumsi sayuran organik langsung dari petani dengan harga layak.

Berbisnis di bidang agriculture seperti ini bukanlah tanpa tantangan. Awalnya Amanda dan kawan-kawan menghadapi tantangan untuk meyakinkan petani agar mau ikut dalam ekosistem Sayurbox.

Selain itu, tidak semua petani paham teknologi smartphone sehingga tidak jarang petani tidak ingin bergabung karena kesulitan menggunakan teknologi dalam transaksi jual beli.

Tak hanya itu saja. Amanda juga harus terus mengedukasi para petani agar menanam bibit-bibit tanaman organik untuk menghasilkan tanaman yang berkualitas baik, sehat dan segar untuk dikonsumsi.

Membuka tahun 2018, Sayurbox mendapatkan pendanaan awal dari Patamar Capital senilai US$ 300.000 atau setara Rp 4,2 miliar. Selain itu ada pula tambahan investasi dari Insignia Ventures asal Singapura.

Sayurbox sendiri berhasil mewakili Indonesia dalam kompetisi startup Seedstars Worldd yang membuatnya berpartisipasi dalam Konferensi Regional Seedstars Asia di Bangkok pada November 2017, serta Seedstars Global Summit di Swiss pada April 2018.

Sayurbox juga berhasil mengantarkan Amanda pada penghargaan 30 Under 30 Forbes Asia 2019 sebagai pemuda inspiratif di bawah usia 30 tahun di bidang industri, manufaktur, dan energi.

 

 

Sumber:

https://www.sayurbox.com/faq

https://dailysocial.id/post/sayurbox

https://swa.co.id/youngster-inc/youngsterinc-startup/kiat-amanda-kembangkan-sayurbox

https://katadata.co.id/berita/2019/03/13/sayurbox-startup-pertanian-yang-bantu-tingkatkan-pendapatan-petani

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/29/startup-karya-anak-bangsa-ini-bercita-cita-menyejahterakan-para-petani-di-indonesia

https://www.idntimes.com/life/inspiration/francisca-christy/kisah-inspiratif-lepas-kuliah-s2-dari-london-metha-trisnawati-pilih-jualan-sayur-online

https://angin.id/2018/02/23/metha-trisnawati



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi