Sandhy Sondoro yang Tak Pernah Padam

Sumber: indonesianlantern.com

Bagi sebagian musisi Indonesia, go international merupakan opsi setelah karier musik di dalam negeri sukses besar. Tapi hal itu justru tidak dilakukan oleh Sandhy Sondoro yang justru memulai karier musiknya di luar negeri, baru memutuskan untuk masuk ke pasar musik dalam negeri.

Pria bernama asli Sandhy Soendhoro ini lahir dari keluarga pencinta musik. Musik pop Amerika, folk, jazz, dan blues sering terdengar di rumahnya lewat permainan gitar ibu atau ayahnya sehari-hari. Meski demikian, ia tidak serta merta menyadari bahwa ia memiliki passion yang besar di dunia musik.

Tamat SMA, ia memutuskan pergi ke California untuk mengunjungi pamannya dan tinggal di sana. Setahun kemudian ia pergi ke Jerman untuk belajar arsitektur. Ia mulai bermain musik dengan bergabung bersama sebuah band di kampusnya. Lagu-lagu rock dari band Van Halen, Mr. Big, atau The Black Crowes sering dibawakannya.

Tinggal sendiri dan membutuhkan tambahan uang memaksanya untuk mencari pekerjaan sampingan sambil kuliah. Ia bekerja di toko kelontong, tapi mimpi dan minatnya untuk bernyanyi dan bermain gitar jauh lebih kuat daripada bekerja kantoran. Suatu hari, ia melihat seorang penyanyi jalanan dan meminta untuk bergabung.

Karier musiknya pun dimulai. Ia meminjam gitar milik temannya dan bernyanyi di jalanan Biberach an der Riss. Hal itu dilakoninya secara rutin tiga kali seminggu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengamen sendirian. Prinsipnya, ia akan melakukan berbagai cara untuk mendapat perhatian orang-orang agar mengetahui musiknya.

Selain bermusik di jalanan, ia juga rajin tampil di bar, club, dan metro. Tampil di hadapan penonton langsung ini yang mengasah penjiwaannya terhadap lagu yang dibawakannya. Perlahan, ia mulai dipercaya untuk tampil di beberapa festival musik seperti Bode Museum Isle Festival. Ia pernah tampil di acara konser amal “Berlin for Asia” 2005 untuk gempa dan tsunami di Samudera Hindia.

Atas dorongan teman-temannya, tahun 2007 ia mengikuti ajang pencarian bakat SSDSDSSWEMUGABRTLAD di televisi ProSieben sekaligus mempromosikan lagu ciptaannya sendiri ke khalayak luas. Lagu yang dibawakannya di ajang ini adalah “Down on the Streets” yang terinspirasi dari pengalamannya di metro Berlin. Lagu yang dinyanyikannya di ajang ini sukses membawa namanya semakin tersohor di Jerman, meski ia hanya menduduki peringkat lima.

Keikutsertaannya di ajang pencarian bakat membuatnya banyak mendapat tawaran untuk tampil di acara musik di televisi. Tidak lama, ia merilis album perdananya bertajuk Why Don’t We (2008) yang menjadi bahan perbincangan di surat kabar. Single kolaborasinya bersama Dublex Inc. bertajuk Shine berhasil menembus tangga lagu favorit di sejumlah radio di kota-kota besar Eropa, seperti Berlin, Madrid, dan Paris.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin memberinya penghargaan Satya Lencana Karya Satya di tahun 2008 atas kontribusinya di dunia musik sekaligus mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

Setelah mengeluarkan album indie, produsernya mendorong Sandhy untuk mencoba peruntungan di New Wave International Contest of Young Pop Singers di Jurmala, Latvia, pada tahun 2009. Ajang pencarian bakat ini tergolong cukup prestisius di kawasan Eropa Timur dan menyedot banyak penonton. Cukup mengejutkan, 11 dari 12 juri memberinya nilai sempurna berupa 10 poin dan hanya satu juri yang memberinya 9 poin di babak final. Tidak heran jika ia berhasil keluar sebagai juara yang kedelapan. Lagu ciptaannya, End of the Rainbow, dipilih sebagai lagu terbaik 2009 setelah dinyanyikan di babak final di ajang tersebut.

Namanya pun semakin menarik perhatian publik Eropa tatkala penulis lagu tersohor asal AS Diane Warren mengundangnya untuk menyanyi di The Palladium Theatre Hollywood untuk PBS Special TV Broadcast. Penyanyi lain yang mengisi acara itu antara lain Celine Dion, Cher, Jane Fonda, Toni Braxtion, Eric Benet, Fantasia, Gloria Estefan, Leann Rimes, Due Voci, dan Patti Austin.

Rupanya berita kemenangan Sandhy di ajang tersebut terdengar hingga ke tanah air. Sejak saat itu, banyak orang Indonesia yang mulai melirik musiknya dan dia diundang manggung di sejumlah tempat. Sony Music memasukkan Sandhy ke dalam album kompilasi Jazz in the City (2009) bersama beberapa musisi jazz ternama dunia. Di album itu, ia menyanyikan lagu Malam Biru (Kasihku) dan End of the Rainbow.

Untuk pertama kalinya ia merilis album di tanah air bertajuk Sandhy Sondoro di tahun 2010. Album berisi 15 buah lagu itu menggunakan lagu Malam Biru (Kasihku) sebagai lagu andalannya dan namanya berhasil melambung di kancah permusikan Indonesia.

Tahun 2011, ia kembali merilis album Find the Way dengan lagu andalannya Tak Pernah Padam. Lagu ini semakin melejitkan namanya dan berhasil mengantarkannya untuk membawa pulang tiga piala di ajang AMI Awards 2011.

Bapak satu anak ini mendapat status warga negara kehormatan dan visa seumur hidup yang khusus oleh Pemerintah Jerman berkat prestasinya di dunia musik selama lebih dari dua dekade tinggal di Jerman. Inilah yang membuatnya masih aktif merilis album di Jerman untuk menjangkau pangsa pasar musik Eropa.

Album lain yang dirilis setelah Find the Way adalah Vulnerability (2014), Berlin! Berlin! Ick Lieb Dir So Sehr (2016), Love Songs (2016), dan Beautiful Soul (2018). Selain sibuk berkarier solo, ia juga pernah membentuk grup Trio Lestari bersama Glenn Fredly dan Tompi pada tahun 2013 dengan single andalannya Gelora Cinta.

Kekuatan Sandhy sebagai musisi adalah pada penghayatannya terhadap suatu genre musik, khususnya soul  dan blues yang biasa dibawakannya. Dia mampu bernyanyi seperti para pelantun soul-blues tulen yang umumnya adalah orang-orang Afro. Inilah yang membuatnya mampu diterima di pasar karena sering mengasah kemampuannya dengan menyanyi di depan publik. Bahkan orang Afro tulen sendiri menyukai musiknya.

Mentor ajang pencarian bakat musik karaoke digital ini memperoleh penghargaan untuk kategori musik populer dalam ajang The First Ceremony of the International Professinal Music Awards “Bravo” di Moscow pada 2018 silam.

Menjadi diri sendiri yang otentik justru memberikan warna yang berbeda dan Sandhy telah membuktikan hal tersebut yang menjadikan dirinya bisa menjadi musisi sukses seperti saat ini. Semoga menginspirasi!

 

 

 

           

           

           

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi