Sabrina & Elena Bensawan: Tidak Perlu Menunggu Tua dan Kaya untuk Berbagi

Sumber: Regional Kompas

Sabrina Bensawan dan Elena Bensawan. Nama yang mungkin bagi sebagian orang masih terasa asing, tapi juga terasa dekat bagi sebagian yang lain. Dua gadis remaja ini berbeda dari remaja pada umumnya.

Disaat remaja seusianya lebih memilih untuk menghabiskan waktu luang dengan pergi ke mal bersama teman-teman sebaya, bermain gadget, atau mengurusi tugas sekolah, keduanya malah memilih untuk pergi ke panti jompo, kolong jembatan, atau lorong-lorong rumah sakit.

Melalui uluran tangan mereka banyak anak yang dapat melanjutkan sekolah, tertolong dari sakit parah, dan memutus rantai kemiskinan di keluarga mereka.

Kakak beradik yang terpaut usia dua tahun ini adalah pendiri Saab Shares, sebuah komunitas sosial yang didirikan di tahun 2014 di kawasan Jakarta Barat. Yayasan ini membantu anak-anak, perempuan, lansia, dan keluarga kurang mampu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Saab Shares sendiri didirikan saat usia Sabrina menginjak 16 tahun. Waktu itu ia ingin merayakan ulang tahunnya yang ke-16 secara sederhana sambil perpisahan dengan teman-teman yang akan pindah ke luar negeri.

Sang ibu memberinya ide untuk melarang teman-temannya membawa kado. Bila mereka memaksa, mereka bisa membawa uang yang disumbangkan ke orang yang membutuhkan, dengan membelikan kebutuhan di panti jompo.

Di luar dugaan, ternyata uang tersebut terkumpul sebanyak Rp 4,5 juta dan bisa dibelikan kebutuhan yang cukup banyak untuk para lansia.

Ketika memberikan langsung bantuan tersebut ke panti jompo, ada perasaan yang tersentuh yang dirasakan oleh Sabrina. Bahwa bantuan tersebut ternyata sangat berarti bagi para lansia disana dan terpancar wajah kebahagiaan dari para lansia ketika ia menyalurkan bantuan tersebut.

Sejak saat itu, ia dan adiknya mulai sering mengunjungi kolong jembatan atau daerah kumuh di Jakarta. Disana mereka berdua mendukung organisasi atau komunitas yang sudah ada program bimbingan belajar kepada kaum kurang mampu.

Banyak pula fakta baru yang mereka temui di lapangan; banyak anak tidak sekolah karena orang tua mereka tidak peduli dengan pendidikan anak mereka sendiri.

Seperti yang pernah dialaminya saat mengajar di kolong jembatan, ada seorang ibu dari salah satu anak murid yang marah karena anaknya tidak bisa dapat uang karena belajar di tempatnya mengajar.

Hal tersebut membuatnya terheran-heran, mengingat betapa kedua orang tuanya sangat memperhatikan pentingnya pendidikan.

Dari kegiatan sosialnya, akhirnya Sabrina dan Elena memutuskan untuk membuat program yang berdampak secara jangka panjang. Tidak hanya hanya merubah hidup anak-anak, tapi juga seluruh keluarga pra sejahtera sehingga mampu memutus rantai kemiskinan di dalam satu keluarga.

Bermodal uang Rp 5 juta, Sabrina dan Ellena memberanikan diri untuk mengontrak sebuah rumah minimalis di Kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Di rumah tersebut, yang disebutnya sebagai Rumah Belajar, dibagi menjadi beberapa ruangan.

Ada ruang belajar, ruang baca, dan dapur yang dihias dengan berbagai perlengkapan dan hiasan yang menarik anak-anak dan dibuat senyaman mungkin. Seperti di ruang musik, ada beberapa alat musik seperti angklung, keyboard, dan gitar yang bisa bebas digunakan oleh anak-anak.

Kegiatan di rumah belajar ini dulunya dimulai dari enam anak dan diberikan secara cuma-cuma. Fokusnya adalah dengan memberikan materi berupa soft skill dengan membangun karakter, bahasa Inggris, musik, kelas etika, public speaking, hingga kelas tari untuk mendidik anak-anak agar mereka menjadi individu berkarakter baik dan siap terjun di masyarakat.

Kegiatan Rumah Belajar Bersama Anak-Anak Asuh Saab Shares (Sumber: Kompas.com)

Setiap minggunya mereka menyeleksi anak-anak dan ibu yang mendaftar ke Rumah Belajar Saab Shares untuk mengetahui minat belajar mereka. Hal tersebut dilakukan agar bantuan gratis yang diberikan tidak salah orang dan jadi terbuang percuma. Pun begitu pula dengan tenaga pengajar dan asisten di Rumah Belajar.

Rumah Belajar ini sendiri termasuk dalam fokus di divisi pendidikan Saab Shares. Selain mendirikan Rumah Belajar, ada juga Rumah Baca yang sudah beridiri di Jakarta dan Yogyakarta, juga di Papua yang sedang dalam proses pendirian.

Rumah Baca ini merupakan perpustakaan milik Saab Shares untuk meningkatkan minat baca anak-anak, orang tua, dan masyarakat kurang mampu secara keuangan.

Mereka juga memberikan beasiswa kepada anak-anak yang memiliki penyakit berat dan berasal dari keluarga kurang mampu, juga anak-anak dari keluarga pra sejahtera hingga tingkat universitas.

Pemilihan penerima beasiswa ini tidak hanya dilihat dari nilai akademis yang baik, tapi juga karakter dan akhlaknya supaya menghasilkan hal yang sangat baik.

Beberapa anak asuh Saab Shares kini juga telah terlibat dalam kegiatan sosial dan bahkan ada juga yang ikut turut serta memberikan bantuan ke beberapa daerah lain di luar Jakarta.

Di divisi kesehatan, Saab Shares aktif membantu anak-anak berpenyakit berat dari seluruh Indonesia, seperti hidrosefalus, atresia bilier, atresia ani, tessier facial cleft, kanker, dsb. untuk kebutuhan yang tidak ditanggung oleh jaminan sosial atau BPJS, seperti susu, popok, vitamin, atau sejumlah uang untuk biaya tinggal jika pasien berasal dari luar kota berobat ke RSCM.

Duo Bensawan Bersama Anak-Anak Asuh dengan Penyakit Berat (Sumber: saabshares.org)

Ada juga program pengobatan gratis di daerah marginal seperti pemberian obat dan vitamin gratis, pemeriksaan gigi dan mata gratis, dan pemberian kacamata gratis untuk lansia dan anak-anak.

Sabrina pun sadar bahwa perempuan di dalam sebuah keluarga memiliki posisi penting untuk memutus rantai kemiskinan. Hal itu yang membuatnya untuk melahirkan program pemberdayaan wanita di Rumah Belajar dengan memberikan kelas keterampilan, motivasi, dan seminar untuk pengembangan diri.

Kelas keterampilan ini bisa dipilih sesuai dengan minat ibu-ibu peserta. Ada kelas membuat kue/jajanan tradisional, membuat aksesoris, merias wajah, dan memayet di atas batik yang nantinya dibantu pasarkan melalui social enterprise “Heritage by Sabrina”.

Saab Shares juga siap membantu memberikan modal material untuk ibu-ibu yang berkomitmen menjadikan ilmu keterampilan tersebut sebagai sumber penghasilan. Bahkan ada peserta Saab Shares yang kini telah bekerja sebagai pemayet pada desainer.

Uang untuk menghidupi kegiatan Saab Shares darimana?

Sejak kecil, kedua gadis remaja jebolan Raffless College ini telah diajarkan untuk berbisnis oleh sang ibu. Keuntungan dari hasil penjualan dari Heritage by Sabrina, Saab Couture—bisnis clothing line Sabrina, dan 8 Couture milik Elena digunakan untuk mendukung kelangsunga Saab Shares.

Ada pula donatur yang ingin ikut berbagi mendanai kegiatan sosial Saab Shares, entah berdonasi langsung atau melalui situs crowdfunding Kitabisa. Sabrina pernah melelang lukisan karyanya untuk membantu biaya kuliah seorang mahasiswa ITB dan biaya operasi seorang anak yang terkena radang otak.

Disamping itu, mereka membuat beberapa merchandise berupa set cangkir dan piring bernama Educatea, serta pouch dengan print lukisan yang dilukis sendiri.

Komitmennya untuk terjun membantu sosial membuahkan sejumlah penghargaan, seperti 30 Under 30 Forbes Asia 2019 dan E&Y Social Entrepreneurs of the Year 2018.

Berkomitmen untuk memenuhi panggilan membantu sesama memang pekerjaan yang tidak mudah. Hal tersebut dirasakan betul oleh dua remaja ini karena menyangkut urusan mengubah mindset orang lain. Tapi selagi bisa, tidak perlu menunggu dewasa dan kaya untuk bisa berbagi dengan sesama.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi