Rorokenes, Bukti Tas UMKM Mampu Go International

Sumber: The Jakarta Post

Berita tas Rorokenes bikinan Syanaz ditahan oleh petugas imigrasi di Bandara Domodedovo pada awal Agustus lalu cukup ramai diperbincangkan karena dianggap petugas imigrasi Rusia kualitasnya sekelas tas keluaran Louis Vuitton, Bottega Vinetta yang harganya puluhan juta.     

Inilah bukti bahwa sebenarnya produk UKM kita mampu bersaing dengan merek-merek mendunia, asalkan mampu menghasilkan produk yang berkualitas secara konsisten dan mau mempromosikan dengan berbagai cara, seperti yang diungkapkan oleh Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah dalam berbagai wawancara.

Perjalanan bisnis Syanaz Nadya Winanto Putri ini sebenarnya bukanlah suatu hal yang disengaja. Awalnya dari permintaan Syanaz untuk dibelikan tas Bottega Vinetta seharga Rp 30 juta kepada sang suami di tahun 2014 yang dianggap ‘gila’. Gagal dapat tas mewah yang diinginkannya, ia lantas curhat kepada ayahnya. Ayahnya lantas malah menantang Syanaz untuk membuat tas sendiri.

Dari tantangan tersebut akhirnya ia pun mulai belajar membuat tas. Delapan bulan ia mempelajari seluk beluk tas, mulai dari cara memotong kulit, membuat pola, menganyam, menjahit, dan tetek bengek seputar produksi tas.

Setelah memiliki pengetahuan yang cukup untuk memproduksi tas, ia pun mulai mencari pengrajin tas. Mulanya ia membuat tas kulit untuk dipakai sendiri. Lalu ada seorang teman yang menanyakan dimana ia membeli tasnya, ia pun menjawab bahwa ia membuatnya sendiri. Lantas, temannya pun mau memesan tas buatannya.

Dari modal mulut ke mulut inilah akhirnya bisnis tas asal Semarang ini mulai berkembang. Ia menamai merek tasnya Rorokenes yang bermakna putri yang tangguh, cekatan, dan lincah namun lemah lembut.

Tas Rorokenes ini terbagi menjadi tiga: leather woven bag, men’s bag, dan ka.jeng wooden bag. Biasanya ia menggunakan bahan dari kulit sapi atau kulit buaya yang dianyam dan dikerjakan secara handmade.

Selain itu, untuk tas kategori ka.jeng wooden bag, ia mengombinasikan dengan kayu mahoni dan kulit sapi agar tas lebih tahan lama. Harga yang dibanderol setiap buahnya berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 3 juta.

Tas Anyaman Kulit Rorokenes (Sumber: Kargoku.id)

Selain itu untuk menonjolkan ciri khas Indonesia, ia menamai tas-tas koleksi Rorokenes ini dengan nama-nama Jawa, seperti Tenong Ayu, Kamandhaka, Dahayu, Citra Gunungan, Kamaratih, Keong Ayu, dan sebagainya.

Penjualannya sendiri dilakukan secara online dan offline. Penjualan online guna mengakomodasi pembeli asal luar negeri, dimana situs resmi Rorokenes menggunakan harga dalam satuan dollar.

Di Semarang, ia memiliki showroom sendiri untuk melayani pelanggan yang ingin melihat langsung tas-tas koleksinya sekaligus sebagai tempat produksi tas.

Selain dua tempat tersebut, Syanaz termasuk pengusaha yang aktif ikut serta dalam pameran fesyen seperti Jakarta Fashion Week atau UMKM yang diadakan pemerintah. Tak jarang Rorokenes juga dipercaya untuk mewakili Indonesia dalam pameran bisnis di mancanegara, seperti di Austria, Tiongkok, Slovenia, dan Rusia pada Agustus lalu.

Penjualan dari luar negeri ini juga yang cukup banyak membantu menaikkan pamor Rorokenes sebagai tas kulit merek lokal yang kualitasnya sudah mampu sejajar untuk go international.

Ketika ia akan mengikuti pameran Festival Indonesia di Moscow pada awal Agustus lalu, 10 sample tas kulit yang dibawanya untuk pameran disita oleh petugas imigrasi bandara karena menganggap Syanaz berbohong mengenai informasi harga.

Petugas imigrasi bandara menduga harga tas Rorokenes buatan Syanaz ini sangat mahal sekelas tas keluaran merek Louis Vuitton, Chanel, atau Bottega Veneta yang harganya puluhan juta rupiah. Meski ia sudah memberikan surat-surat lengkap saat itu, petugas bandara tetep kukuh ingin mengurasi tas miliknya selama 24 hari oleh Bea Cukai Rusia.

Akhirnya untuk pameran, mantan bankir Citigroup ini hanya memamerkan sepuluh tas berbahan karung goni yang dibawanya lewat bagasi pesawat dan satu tas punggung yang dipakainya. Meski pahit, ternyata banyak pembeli asing yang berminat untuk membeli tas miliknya tersebut melalui situs resminya.

Sebelum merintis bisnis tas, Syanaz sendiri adalah seorang ibu rumah tangga selama tujuh tahun dengan anak berkebutuhan khusus. Anak pertamanya sangat cerdas, tapi memiliki hambatan perkembangan karena ketidakselarasan (gifted disinkroni). Sementara anak keduanya memiliki kesulitan membaca dan menulis (mild dyslexia).

Memiliki dua anak berkebutuhan khusus tentunya menjadi tantangan sendiri bagi Syanaz ditengah kesibukannya menjadi seorang entrepreneur. Namun dengan dukungan kuat dari orang-orang terdekatnya, semua hambatan yang ada bisa dilaluinya.

Tak hanya itu saja. Inovasinya untuk selalu menghadirkan tas dengan model yang cantik dan bahan berkualitas menjadikan tasnya selalu menjadi favorit kaum hawa. Ia sendiri tidak ragu untuk bermain di ranah tas kulit untuk pria meski modelnya masih terbatas untuk melayani konsumen dari kalangan pria.

Tas Rorokenes ini sendiri sebenarnya membuktikan bahwa kualitas tas dalam negeri tidak kalah dengan merek asing yang sudah jauh melanglang buana. Selain itu, dengan harga yang lebih ekonomis dan model yang tidak kalah ciamik, kenapa kita tidak melariskan produk buatan dalam negeri?



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi