Rini Sugianto Dibalik Karakter Animasi Film Box Office Hollywood

Sumber: Kinibisa

Semasa kecil, Rini Sugianto hanyalah pembaca setia yang tergila-gila dengan komik Petualangan Tintin karangan kartunis terkenal asal Belgia, Helge. Tapi siapa sangka jika beberapa tahun kemudian ketika beranjak dewasa, ia bisa menjadi animator dari komik favoritnya itu dalam film The Adventure of Tintin: The Secret of Unicorn.

Perempuan kelahiran Lampung 39 tahun silam ini bukan seorang yang gemar melukis atau menggambar di masa kecilnya seperti yang pada umumnya dilakukan oleh pekerja yang berkecimpung di dunia gambar atau animasi.

Ia justru malah tidak suka dua kegiatan tersebut. Tapi tergila-gila membaca komik, terutama serial Petualangan Tintin. Ia sendiri mengidolakan tokoh Tintin, seorang wartawan berambut jambul yang berpetualang keliling dunia bersama anjingnya yang diberi nama Sn

Ia sendiri sempat menghabiskan masa remajanya di Jakarta dan Bogor. Lulus SMA, alumnus SMA Regina Pacis Bogor ini memilih Universitas Katolik Parahyangan Bandung dan mengambil jurusan Arsitektur sebagai tempat belajarnya. Di sana ia mulai belajar teknologi digital 3D untuk membuat bangunan dan diaplikasikan untuk proyek skripsinya.

Setahun bekerja sebagai arsitek, Rini rupanya harus berurusan dengan animasi tiga dimensi untuk kepentingan pekerjaannya. Pengerjaan animasi yang harus detail dan presisi rupanya membuat dia jatuh hati dengan dunia animasi. Tidak ingin setengah-setengah, ia terbang ke negeri Paman Sam untuk belajar animasi, meskipun awalnya sempat ditentang orang tuanya.

Tahun 2002, ia tercatat sebagai mahasiswa program master di Academy of Arts San Fransisico. Kampus ini sendiri dikenal sebagai kampus papan atas di Amerika Serikat untuk mempelajari dunia animasi. Alumninya sendiri banyak bekerja di studio animasi ternama seperti Dreamworks, Pixar, atau Walt Disney.

Bagi Rini, animasi bukanlah ilmu yang mudah dipelajari. Tidak hanya dituntut untuk jago gambar, tapi juga dituntut untuk memperhatikan lingkungan sekitar. Seorang animator harus memperhatikan detail di sekitarnya agar bisa menciptakan animasi yang lebih hidup dan terlihat nyata.

“Waktu belajar dulu, saya tidak pernah memperhatikan, kalau orang nengok dari kanan ke kiri seperti apa sih? Biasanya cuma kepalanya saja yang nengok. But it’s not like that, yang gerak dulu badannya, baru kepalanya.” tuturnya kepada VOA Indonesia. “Aku tiap hari memperhatikan manusia bagaimana cara dia berdiri, duduk, berjalan supaya aku bisa menciptakan karakter yang aku inginkan sesuai dengan aslinya,” katanya menambahkan.

Selain dituntut jeli, animator juga ditantang untuk bisa membuat penonton percaya bahwa karakter di dalam film benar-benar hidup hingga tidak bisa dibedakan antara peranan aktor dan hasil kreasi CGI (Computer Generated Imagery).

Setelah lulus S2 bukan berarti ia serta merta mudah mendapat pekerjaan impiannya. Ia pun menerima tawaran magang dari sebuah perusahaan video game. Ia butuh waktu cukup lama untuk bekerja di perusahaan video game sebelum bekerja di studio film animasi. Ia sendiri pernah menjadi animator lepas untuk Blackpoint Studios, lalu bekerja untuk Stormfront, Offset, dan Blur Studio.

Setelah lima tahun menggeluti animasi video game, barulah ketika ia pindah ke Weta yang berbasis di New Zealand ia memegang proyek animasi film. Di Weta pula ia berkesempatan untuk menjadi animator komik favoritnya, The Adventure of Tintin: The Secret of Unicorn (2011) yang disutradarai oleh Steven Spielberg. Ia mendapat jatah untuk menciptakan 70 shot animasi film itu untuk durasi empat menit. Didampingi oleh anjing peliharaannya, ia berhasil menciptakan animasi tokoh Tintin dan Snowy.

Selain mengerjakan animasi film Tintin, ia juga menggarap animasi film box office Hollywood seperti The Avengers (2012), The Hobbit: An Unexpected Adventure (2012), Ironman 3 (2013), The Hunger Games: Catching Fire (2013), dan The Hobbit 2: The Desolation  of Smaug (2013).

Setelah dari Weta, ia bekerja berpindah ke beberapa studio animasi sekaligus menjadi animator lepas jarak jauh. Beberapa film lain yang digarapnya antara lain TED 2 (2015), The Avengers: Age of Ultron (2015), Teenage Mutant Ninja Turtles (2014), dan Teenage Mutant Ninja Turtles: Half Shell (2016).

Selain aktif sebagai animator, perempuan yang gemar mendaki gunung ini juga memiliki program mentoring di situs flashframeworkshop.com yang sudah dibina sejak 2012 lalu. Program yang dilakukan secara online ini dimulai sejak ia dapat banyak email dari teman-teman dan pelajar di Indonesia yang tertarik dengan animasi setelah melihat pemberitaannya di media massa.

Meskipun karyanya sudah beberapa kali bertengger di film box office Hollywood, ia tetap hati-hati dan tidak ingin terlalu membanggakan prestasi-prestasinya. Menurut istri Brandon Riza ini masih banyak tantangan yang harus dihadapinya sebagai seorang animator.

“Tantangan paling besarnya mungkin untuk tetap menghasilkan animasi yang bagus. Animation industry ini very competitive, dan saingannya dari mana-mana. Lulusan-lulusan baru dari sekolah-sekolah animasi juga tidak kalah dengan animator yang sudah bekerja bertahun-tahun,” tuturnya pada kompas.com

Di samping itu, animator sebetulnya pekerjaan yang cukup melelahkan karena harus kuat duduk dan menatap layar komputer dalam waktu lama. Kesabaran tingkat tinggi juga diperlukan karena pekerjaan ini sifatnya harus jeli hingga ke detail kecil. Tidak heran jika pengerjaan animasi untuk beberapa menit bisa memakan waktu beberapa hari.

Never give up, there’s always a way. Prinsip itulah yang selalu dipegangnya selama berkarier. Karena hidup itu berarti menjalani sebuah proses yang tidak bisa instan. Jika ingin mencapai tujuan tertentu, maka sudah wajib hukumnya untuk fokus pada apa yang diinginkan. Selain fokus, juga harus selalu meminta kritik dan masukan yang diiringi banyak latihan agar keterampilan dan kemampuan semakin meningkat: practice makes perfect.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi