Reynold Wijaya Sukses Dirikan Modalku Tanpa Bantuan Keluarga

Sumber: kontan.co.id

Lahir dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai entrepreneur, tentu membuat Reynold Wijaya, CEO dan Co-founder Modalku, ini memiliki figur langsung dan jiwa entrepreneur yang diadopsi dari orang tuanya yang mendirikan Grup Unifam dengan produk permen Milkita, es Kiko, dan Cola Candy.

Sudah tidak asing jika orang tua memiliki perusahaan keluarga, tentu anak-anaknya nantinya yang akan meneruskan tonggak bisnis tersebut. Tapi Reynold justru merasa tertantang untuk mendirikan perusahaannya sendiri di bidang teknologi finansial (fintech).

Lulus kuliah dari jurusan teknik industri di University of Michigan pada 2010 silam, ia memutuskan pulang untuk membantu perusahaan keluarganya. Meski lulusan luar negeri dan ikut perusahaan keluarga, ia memilih untuk merintis karier dari bawah. 2011, ia diangkat menjadi Manajer Operasional PT Unifam Food.

Untuk mematangkan ilmu dan kemampuan mengelola perusahaan, ia kembali lagi ke almamaternya untuk melanjutkan sekolah master di jurusan yang sama seperti jurusan sebelumnya. Ia lulus setahun berikutnya, dan kembali melanjutkan karier di Unifam.

Agustus 2014 menjadi titik balik karier Reynold. Ia berpikir untuk mandiri dan mundur dari bisnis keluarga. Ia pun kembali ke bangku kuliah mengambil jurusan bisnis dan administrasi di Harvard Business School.

Di kampus ternama tersebut, ia bertemu dengan Kelvin Teo dan Iwan Kurniawan yang menjadi mitranya mendirikan Modalku. Dari perbincangan sederhana, rupanya tercetus ide untuk membuat perusahaan teknologi finansial yang fokus pada pendanaan bagi UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).

Dia melihat bisnis model ini sebetulnya sudah lazim di Amerika, namun masih sangat jarang di Indonesia. Selain itu, banyak UMKM yang seringkali ditolak oleh perbankan ketika mengajukan peminjaman modal yang menjadi celah peluang bisnis ini.

Modal pendanaan pinjaman darimana? Tentu saja, dari para investor, baik individu atau organisasi, yang mau memberikan modalnya langsung ke peminjam berbasis teknologi digital yang populer disebut P2P lending (peer-to-peer lending).

Kurang lebih selama setahun, ia dan rekannya melakukan riset dan analisis mengenai model bisnis P2P lending tersebut ketika mamsih menjadi mahasiswa di Harvard. Setelah itu, mereka mengajukan proyek tersebut ke DBS Bank, bank terbesar di Asia Tenggara yang berbasis di Singapura.

Tak disangka, DBS tertarik untuk menjadi investor dan akhirnya terbentuk perusahaan fintech bernama Funding Societies di Singapura pada tahun 2015. Ia memilih Singapura terlebih dahulu untuk tes pasar karena di Indonesia lebih rumit daripada Singapura.

Sukses diterima pasar Singapura, Reynold dan kawan-kawan membawa model bisnis P2P lending ke Indonesia pada Januari 2016 dengan nama Modalku yang melayani area Jabodetabek.

Produk yang ditawarkan oleh Modalku adalah pinjaman dana untuk modal usaha tanpa agunan dari Rp 50 juta hingga Rp 2 miliar dengan tenor pinjaman bervariasi, mulai dari 3-24 bulan. Bunga pinjaman yang dipatok sendiri cukup tinggi, sebesar 20% p.a.

Ada pula invoice financing yang menyediakan dana cepat menggunakan invoice atau tagihan pelanggan yang belum dilunasi maksimal 80% dari nilai tagihan. Sama seperti pinjaman dana yang bisa mendapatkan pembiayaan hingga Rp 2 miliar, yang membedakan hanyalah tenor pinjaman yang lebih singkat, yaitu 15-90 hari.

Selain itu, Modalku juga mengajak masyarakat untuk berinvestasi pada pendanaan UMKM tersebut dengan tingkat pengembalian dana sebesar 20% p.a.

Selang tujuh bulan beroperasi di Indonesia, Modalku berhasil mendapatkan pendanaan seri A sebesar Rp 100 miliar melalui perusahaan induk mereka, Funding Societies dari berbagai investor seperti Sequoia India dan Alpha JWC Ventures.

2017, Modalku berekspansi ke Bandung dan Surabaya untuk melayani pelanggan lebih luas lagi dan mendirikan kantor perwakilan resmi, juga tim lokal di masing-masing kota. Di saat yang sama, Modalku bersama perusahaan induknya juga berekspansi ke Malaysia.

Selain ekspansi, Modalku juga meluncurkan aplikasi mobile untuk memudahkan peminjam dapat mendaftar secara online hingga proses pencairan dana melalui smartphone.

Juni 2017, Modalku resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bergabung dalam International Association of Credit Portfolio Managers (IACPM), forum asosiasi internasional mengenai manajemen risiko kredit.

Pertumbuhan yang agresif setelah pendanaan ternyata berefek pada kinerja perusahaan yang memuaskan. Awal tahun 2018, Modalku di Indonesia, Singapura, dan Malaysia berhasil menembus volume pinjaman modal usaha sebesar Rp 1 triliun. Indonesia sendiri menjadi pasar terbesar dengan lebih dari 50% total pinjaman.

April 2018, Modalku berhasil meraih pendanaan seri B sebesar Rp 350 miliar yang dipimpin oleh SoftBank Ventures Korea dan beberapa investor lainnya. Pendanaan ini sendiri merupakan pendanaan terbesar yang pernah diraih platform P2P lending di Asia Tenggara.

Tak hanya itu. Pemerintah Indonesia juga memilih Modalku sebagai mitra distribusi surat utang negara sejak seri SBR004 dan sukuk tabungan sejak seri ST-002. Modalku juga tersertifikasi ISO 20071 dan menjadi P2P lending pertama di Indonesia yang memiliki sertifikat tersebut.

Tiga tahun sejak berdiri, Modalku menunjukkan kinerja yang signifikan dan terus bertumbuh berkali-kali lipat, serta menggandeng kerja sama dengan Bank Sinarmas untuk mengelola rekening penampungan selama proses pemberian pinjaman berlangsung, dan Tokopedia untuk memudahkan pelaku UMKM mendapatkan akses pinjaman modal usaha.

Dari sisi transaksi, Modalku telah menyalurkan pinjaman sebanyak Rp 7,509 triliun dengan tingkat NPL (Non Performing Loan) 0,8% yang tergolong masih lumrah.

Ditengah isu fintech pinjam online bodong di Indonesia, Modalku berhasil masuk dalam perusahaan startup terbaik “Fintech 250” 2017 dan 2018 versi CB Insights. Juga menjadi satu-satunya perusahaan P2P lending di Asia Tenggara yang masuk dalam daftar “The Fintech 100” versi KPMG dan H2 Ventures pada November 2018.

Reynold sendiri dan Iwan Kurniawan berhasil terpilih dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2018 dan Modalku menjadi satu-satunya perusahaan Fintech asal Indonesia yang masuk dalam kategori Keuangan dan Modal Ventura.

Meski terlahir dari keluarga berada, hal tersebut tidak serta merta membuat Reynold menggantungkan modal usaha dari keluarganya. Justru bisnis yang didirikannya tersebut murni dari kocek sendiri dan pendanaan investor.

Selain itu, baginya bisnis sendiri tidak hanya sekedar mencari uang dan keuntungan, tapi juga harus berdampak pada banyak orang dan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi