Prelo, Platform Barang Bekas Anti KW Buatan Fransiska Hadiwidjana Kini Diperhitungkan di Asia

Fransiska Putri Wina Hadiwidjana, adalah salah seorang wanita langka yang menggeluti dunia programming bersaing dengan para pria dengan mengembangkan startup bernama Prelo.

Ia menyadari betul meskipun saat ini telah ada keseteraan gender, tetap saja jumlah perempuan yang berkecimpung di bidang ini masih sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan jumlah kaum pria.

Sejak remaja, ia telah tertarik mencoba berbagai macam kesempatan dan menjawab tantangan. Prestasinya dimulai ketika ia bergabung bersama camp khusus persiapan olimpiade di bawah binaan Yohanes Surya selama sembilan bulan.

Ia menjadi satu diantara 12 siswa SMP terbaik se-Indonesia yang membawa Indonesia menjadi juara umum International Junior Science Olympiad (IJSO) 2004. Di ajang tersebut, ia berhasil meraih medali perak.

Dari camp tersebut, ia bertemu dengan banyak orang terbaik dari berbagai bidang. Sejak saat itu, tumbuh minatnya untuk berkuliah di ITB dan menjadi orang hebat.

Pilihannya jatuh pada jurusan Teknik Informatika karena merasa tertantang, meski ia langganan juara kompetisi nasional di bidang fisika atau kimia semasa SMA.

Dalam pemrograman, sesuatu dibangun dari hal yang sangat abstrak. Ketika ada pelatihan Pascal, hanya dia orang pertama yang bisa memecahkan masalah.

Kepuasan batin setelah memecahkan masalah membuatnya merasa tidak bisa berhenti. Pengalaman yang telah didapat dari tantangan juga membuatnya bisa mencuri start dalam banyak hal.

Ia sebagai kaum minoritas di jurusannya tetap merasa percaya diri dengan kemampuannya.  Wisudawati terbaik ITB dengan IPK tertinggi pada 2012 ini, selama masa kuliah rajin mengikuti magang.

Sebagian besar perusahaan incarannya adalah perusahaan kelas dunia seperti Schlumberger, Google, Microsoft, dan Batavia Incubator yang mengharuskannya untuk ikut seleksi internship terlebih dahulu.

Tak hanya itu saja. ia pernah menjajal perusahaan terkemuka sekelas Inbound ID dan lembaga negara bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, UKP-PPP. Ia juga menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia dalam program utama Singularity University Graduates Studies Program 2012.

Di Singular University, ia bersama kedua rekannya membuat produk unggulan sarung tangan pendeteksi kanker payudara bernama AugMI Labs. Ia sempat memenangi MIT100K Data Prize Competition dan diundang ke Chili.

Dengan segudang pengalaman magangnya, selepas menyelesaikan kuliah ia mantap untuk menjadi entrepreneur dengan mendirikan perusahaan IT.

Di tahun 2013, ia mulai mewujudkan mimpinya dengan membuat platform Kleora yang fokus pada e-commerce khusus untuk wanita. Namun bisnis ini kurang mendapat respon bagus dari pasar, sehingga Fransiska kembali tertantang untuk mengembangkan platform miliknya.

Pemegang beberapa paten ini menemukan bahwa di Indonesia belum ada platform online yang khusus menjual barang bekas berkualitas.

Ia mendapati hal ini ketika membangun Kleora banyak pelanggannya yang mengeluhkan bahwa barang bekas yang dijual di platform-nya ternyata barang palsu. Padahal banyak orang yang menginginkan barang bekas tapi keaslian barangnya juga tetap terjamin.

Peraih penghargaan Forbes 30 Under 30 2018 ini juga terinspirasi dari shade bedak milik temannya yang tidak terpakai karena suka belanja make up secara online. Walaupun di Instagram banyak layanan jual beli seperti ini, market place yang khusus mewadahi layanan tersebut belum ada.

Bergerak dari ide tersebut, ia mengganti bisnis Kleora menjadi Prelo, yang mana platform ini mewadahi orang-orang untuk menjual barang bekas berkualitas. Melalui Prelo, ia menginginkan penggunanya mengurangi konsumsi pembelian barang baru dan menerapkan kebiasaan memakai barang bekas atau barang pinjaman.

Fransiska sendiri juga melihat kebiasaan orang-orang yang menjual barang bekas miliknya selalu memiliki cerita unik dibaliknya. Berangkat dari pengamatan tersebut, di situs Prelo penjual bisa memasukkan cerita dibalik barang bekas yang dijualnya.

Wanita yang dinobatkan oleh Forbes sebagai salah satu tech entrepreneur paling inspiratif di Asia juga melihat kakaknya yang baru punya bayi, menyadari bahwa barang kebutuhan bayi itu mahal dan masa pakainya sangat cepat.

Akhirnya, selain sebagai platform jual beli barang bekas, Prelo mengembangkan layanan sewa barang di tahun 2017. Setahun berikutnya, Prelo memiliki fitur jasa titip.

Untuk keamanan transaksi, diberlakukan rekening bersama sehingga baik pembeli maupun penjual tidak perlu khawatir uang mereka akan hilang.

Untuk menjaga keaslian barang, setiap barang yang diunggah ke website Prelo akan diverifikasi terlebih dahulu oleh tim mengenai keaslian dan harga pasaran barang tersebut. Sehingga, barang-barang yang telah tersedia di situs adalah barang yang sudah diverifikasi oleh tim Prelo.

Meski telah menggenggam kesuksesan, Fransiska tidak lantas merasa puas. Baginya masih banyak tantangan lain yang belum dijawabnya. Selagi muda, ia ingin berkontribusi untuk mengembangkan perangkat lunak agar menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat.

 

 

Sumber:

https://ardisaz.com/2015/10/08/belajar-dari-perjalanan-panjang-fransiska-hadiwidjana/

https://tekno.akurat.co/id-80703-read-fransiska-hadiwidjana-tokoh-di-balik-lahirnya-prelo

http://www2.jawapos.com/baca/artikel/2964/programmer-muda-fransiska-hadiwidjana

https://www.teras.id/bintang/pat-4/56086/fransiska-hadiwidjana-menerapkan-kebiasaan-memakai-barang-bekas-atau-pinjaman

https://tekno.kompas.com/read/2016/04/21/14413057/5.Kartini.Muda.yang.Berkarya.di.Bidang.Teknologi

https://patents.justia.com/inventor/fransiska-putri-wina-hadiwidjana

https://www.linkedin.com/in/fransiskapw/

http://www.metropolitan.id/2018/04/kelola-barang-bekas-kini-diperhitungkan-di-asia


Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
0 komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi