Namira Zania Diantara Down Syndrome, Tari, dan Modelling

Sumber: Femina

Down syndrome memang bukanlah penyakit langka, juga bukan penyakit menular karena disebabkan oleh kelainan pada kromoson nomor 21. Tapi stigma yang masih melekat bagi mereka yang mengidap penyakit ini adalah anak-anak yang tidak bisa melakukan apapun. Para pengidap disabilitas intelektual ini sering dianggap akan selalu ketergantungan dengan orang lain.

Tuduhan dan stereotype ini berhasil dibuang jauh oleh Namira Zania, seorang penari dan model yang menderita down syndrome. Titel pekerjaannya bukan sembarangan.

Sejak 2015 silam, saat usianya masih 18 tahun ia sudah bekerja secara profesional dan mendapatkan bayaran layaknya orang non down syndrome. Bahkan, Namira sendiri sudah pernah tampil di sejumlah ajang bergengsi dan bekerja sama dengan beberapa nama tersohor di industri hiburan tanah air.

Awal ketertarikannya di dunia tari berasal dari ajakan sang bunda untuk menonton saudara sepupunya yang sedang pementasan tari. Matanya menunjukkan ketertarikan akan penampilan tari tersebut.

Ditambah lagi, di tahun 2012 Indonesia sedang dilanda demam boyband dan girlband Korea yang menyebabkan munculnya boyband dan girlband serupa di tanah air, seperti SM*SH dan Cherrybelle.

Namira pun semakin tertarik dengan gerakan tarian lincah Cherrybelle diiringi lagu-lagu berirama ceria dan menyenangkan di TV. Bahkan ia tidak segan untuk menirukan koreografi Cherrybelle dan meminta keluarganya untuk merekam dirinya yang sedang menari.

Melihat antusiasmenya, sang bunda memutuskan untuk memasukkannya ke Gigi Art of Dance, satu-satunya sekolah tari di Jakarta yang menerima murid down syndrome.

Penggemar tarian hip hop dan Kpop ini menjadi salah satu murid pertama yang masuk ke dalam tersebut. Awalnya tentu saja cukup sulit baginya untuk menyamakan gerakan koreografi dengan penari lainnya.

Cara komunikasi yang dibutuhkan pun cukup berbeda dan menantang dibandingkan dengan orang normal lainnya. Tapi kegigihan pelatih tari dan Namira sendiri membuatnya bisa mengingat dan mengikuti gerakan-gerakan tarian baru yang diiringi musik secara tepat.

Setelah menggelar penampilan tari untuk proyek ‘Danshare: Share through Dance, Care to Share’ di tahun 2013, ia mulai ikut serta dalam penampilan yang diadakan di World Dance Day Singapura. Kemampuan tariannya pun meningkat pesat.

Tak hanya itu saja. Kemampuan bersosialisasinya juga ikut meningkat karena peserta kelas tari down syndrome yang semakin banyak. Kelas tari yang diikutinya pun tidak hanya sekedar menyelaraskan gerakan dan pikiran, tapi juga meningkatkan ikatan batin dan kemampuan bersosialisasi antar anak-anak down syndrome tersebut.

Seiring dengan meningkatnya kemampuan tariannya, ia pun disarankan untuk ikut dalam kelas tari biasa. Namun rupanya hal tersebut sempat membuatnya stress berat karena ia kesulitan untuk mengikuti pelajaran di kelas, meskipun para peserta dan pelatih sangat menerimanya di kelas.

Kesulitan tersebut tidak lantas membuatnya mundur dan menyerah dari dunia tari. Setelah rehat sejenak agar mood-nya kembali sedia kala, ia pun kembali lagi ke dunia tari. Bahkan ia pun memutuskan untuk berhenti sekolah agar lebih fokus untuk menjadi penari.

Baginya, dunia seni membuatnya jauh lebih bahagia daripada di sekolah formal yang menurutnya membosankan. Ia sendiri juga telah dipercaya menjadi asisten pelatih tari di sanggar tarinya, sejajar dengan pelatih lainnya.

Tari sendiri menjadi alternatif terapi bagi penderita down syndrome seperti Namira, karena kecintaan mereka untuk menggerakkan tubuh diiringi musik bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga mood sekaligus meningkatkan kemampuan motorik dan konsentrasi mereka. Apabila ditekuni secara serius, menjadi penari bisa menjadi salah satu profesi yang menjanjikan agar mereka bisa lebih mandiri.

Namira yang merupakan ARMY—sebutan untuk penggemar boygroup BTS—ini sendiri selain menggeluti dunia tari, juga mulai menjajal karier di dunia modelling. Berawal dari wawancara dengan salah satu TV nasional, ibunya memperhatikan bahwa sang putri kerap memperhatikan penampilan dan angle wajahnya di depan kamera, serta mempresentasikan dirinya dengan baik di depan audiens dan kamera.

Hal tersebut membuat ibunya mendukung agar ia mulai menjajal dunia modelling secara profesional. Ia pun tak ragu untuk mulai belajar make up agar kelihatan menarik dan cantik.

Karier modelnya dimulai dari menjadi model untuk foto-foto komersial, lalu merambah di industri fesyen dengan berlenggak-lenggok di catwalk Jakarta Fashion Week 2018 untuk koleksi karya Tatum O’Neil dan Sean Sheila dari British Council.

Ia juga pernah tampil di video klip kolaborasi penyanyi Glenn Fredly, Vidi Aldiano, Tompi, Tulus, Endah n Rhesa, dan Andien untuk lagu Semua Murid Semua Guru (2018) dan video klip penyanyi Gloria Jessica, jebolan The Voice Indonesia 2016, untuk lagu Luka yang Kecil (2018).

2018 lalu saat ajang Asian Para Games 2018 digelar di Jakarta, ia pun ikut unjuk gigi untuk menari bersama teman-teman segrupnya dari Gigi Art of Dance. Tak cuma itu. Ia diminta oleh HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) dan INAPGOC untuk menjadi mentor yang mengajar 300 fasilitator Asian Para Games. Tugasnya mengajarkan relawan cara bergaul dengan para disabilitas.

Selain tampil di Asian Para Games, Namira dan kawan-kawannya juga tampil di Asian Youth Festival Theatre 2018 di Singapura. Sebelumnya mereka juga rutin tampil dalam acara teater musikal yang bekerja sama dengan komunitas disabilitas di Bandung.

Meski terlahir berbeda, para penyandang disabilitas juga bisa melakukan aktivitas dan hidup mandiri seperti halnya orang normal pada umumnya. Hanya saja, kita yang terlahir sempurna terkadang lupa untuk menyadari bahwa mereka hadir ke dunia justru bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi