Nadirsyah Hosen dan Pilihan Jalan Dakwah Anti Mainstream

Sumber: suaraislam.co

Ada banyak jalan untuk berdakwah. Hal tersebut yang dipraktikkan betul oleh Nadirsyah Hosen, satu-satunya orang Indonesia yang jadi dosen tetap di Fakultas Hukum Monash University, Melbourne, Australia.

Tumbuh besar dalam ruang lingkup langgam Islam Nusantara tidak membuatnya antipati untuk bergaul dalam iklim intelektual ala Barat yang cenderung bebas dan modern. Pria kelahiran 1973 silam ini malah menganggap profesinya sebagai dosen hukum Islam sebagai salah satu caranya untuk dakwah Islam.

Suratan takdir Gus Nadir untuk menjadi seorang pengajar sendiri dipengaruhi oleh keluarganya. Kakeknya, KH. Hosen, adalah ulama dan saudagar berdarah Bugis yang juga pendiri Mu’awanatul Khair Arabische School di Lampung pada awal abad ke-20.

Sementara ayahnya, Prof. KH. Ibrahim Hosen, seorang ahli fikih yang pernah menjabat sebagai rektor IAIN Palembang dan Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) selama dua dekade.

Seperti kakeknya, sang ayah pernah mendirikan institusi pendidikan agama di Jakarta: Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (Institut PTIQ) tahun 1971 dan Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) di tahun 1977. Ia juga tidak jarang ikut menemani ayahnya ceramah di sekaligus nyantri—proses mengabdi dan berbakti serta belajar dari seorang kiai.

Pendidikan agamanya banyak dipengaruhi oleh gaya pendidikan khas NU (Nahdlatul Ulama) yang mana kerap berguru ke beberapa kiai. Pun begitu juga dengan Nadir yang selain berguru dengan ayahnya, juga ke beberapa teman ayahnya. Salah satu gurunya adalah KH. Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal (2005-2016).

Cita-cita Nadir untuk bisa mengenyam pendidikan di luar negeri rupanya sudah ada sejak kecil. Meski ayahnya cenderung anti Barat, tapi ia justru mendukung putranya untuk bisa studi ke luar negeri sekaligus jika bisa, mengajarkan Islam di barat. Ayahnya pula yang menyarankan agar Nadir tidak ahli pada satu bidang ilmu saja, tetapi juga menguasai ilmu-ilmu lainnya.

Untuk itu, selain banyak mempelajari fikih dari sang ayah dan beberapa kiai lainnya, ia memutuskan untuk belajar hukum di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Usai menyelesaikan studi S1, ia bertolak ke negeri Kanguru untuk mengambil dua program master berturut-turut.

Setelah mengantongi gelar Master of Arts (M.A.) untuk jurusan Islamic Studies dari University of New England dan Masters of Laws (LL.M.) dari Charles Darwin University, ia kembali ke tanah air untuk mengabdi pada almamaternya. Enam bulan ia mengajar di UIN Syarif Hidayatullah. Namun panggilan jiwa untuk kembali belajar rupanya tidak terbendung lagi.

Ia pun memutuskan untuk meneruskan jenjang studi doktoral (S3) di dua kampus dalam waktu bersamaan, University of Wollongong untuk ilmu hukum dan National University of Singapore untuk ilmu hukum Islam.

Setelah berkutat dengan studi kuliah, sebenarnya ia bisa saja memutuskan untuk kembali pulang dan mengajar di Indonesia. Bahkan jika ia mau, ia bisa menjadi rektor IIQ meneruskan tampuk kepemimpinan abahnya. Tapi ia justru memilih jalan takdir yang lain.

Mulanya ia menjadi research fellow (peneliti) di University of Quensland, Brisbane di tahun 2005. Pertengahan 2007, University of Wollongong--kampus tempatnya menempuh studi doktoral--membuka lowongan dosen untuk Fakultas Hukum. Ia pun mencoba melamar dan berhasil melalui seleksi ketat.

Sewindu berselang, Nadir ingin hijrah ke Melbourne untuk bergabung dengan Monash University. Selain itu, ia juga ingin membesarkan anak-anaknya di Melbourne yang lebih besar daripada Wollongong.

Proses perpindahannya ke Monash University sendiri cukup alot. Dekan Fakultas Hukum Wollongong menawarkannya gaji dan promosi agar tidak kehilangan dirinya. Namun ia yang sudah kepincut dengan tawaran Monash, tetap membulatkan tekad untuk pindah.

Lebih dari satu dekade menjadi dosen di Australia, ia merasakan banyak tantangan. Di Australia, jurusan hukum justru menjadi pilihan utama para calon mahasiswa sehingga passing grade untuk bisa menembus jurusan ini sangat tinggi. Berbeda dengan di Indonesia yang cenderung masih menjadi pilihan opsional bagi calon mahasiswa.

Selain itu, dengan mahasiswa yang kritis dan pintar, sebagai dosen ia harus mempersiapkan betul perkuliahannya. Mulai dari presentasi, mengunggah buku bacaan, hingga setiap paper yang masuk benar-benar dikoreksi. Dosen pun harus selalu siap di kampus bagi mahasiswa yang ingin diskusi mengenai paper mereka.

Setiap libur musim dingin (winter break), tak jarang ia mengisi kelas di beberapa cabang kampus Monash yang berada di luar negeri, seperti Malaysia dan Italia. Peserta kelasnya pun tidak hanya datang dari mahasiswa pascasarjana dan beragam latar belakang, tapi juga mahasiswa sarjana yang tertarik tentang Islam.

Bagi Nadir sendiri, menjadi dosen di negeri orang merupakan salah satu jalan dakwah sekaligus mengobarkan semangat nasionalisme meski tidak berada di tanah air.

Menjadi jalan dakwah dimana ia bisa menyiarkan ajaran Islam kepada para mahasiswanya yang datang dari berbagai latar belakang, dan meluruskan pemahaman Islam terutama di kalangan orang Barat yang masih menganggap bahwa Islam itu teroris.

Mengobarkan semangat nasionalisme dengan menjadi penghubung yang mampu menjembatani bila ada kampus di Indonesia yang ingin bekerja sama dengan kampus di luar negeri.

Dengan adanya dosen Indonesia yang mengajar di negara lain, tentu membuat kolaborasi tersebut menjadi lebih mudah.  Baginya itu juga bisa menjadi salah satu cara untuk kampus di Indonesia bisa go international.

Rais Syuriah Cabang NU Australia dan New Zealand ini juga aktif menulis publikasi jurnal internasional dan beberapa buku bahasa Indonesia: Tafsir Alquran di Medsos (2017), Kiai Ujang di Negeri Kanguru (2019), Dari Hukum Makanan tanpa Label Halal hingga Memilih Mazhab yang Cocok: Islam Q&A (2015), dan Modern Pespectives on Islamic Law (2013).

Ia pun menyadari kekuatan media sosial untuk dakwah dengan memanfaatkan Twitter sejak Oktober 2015. Akun Twitternya, @Na_dirs, hingga saat artikel ini ditulis sudah diikuti oleh 267.300 pengikut.

Cuitannya sendiri tidak pernah jauh dari topik Islam, terutama soal tafsir dan hukum Islam yang sudah dikuasainya. Ia juga melayani tanya jawab yang dikirimkan oleh para pengikutnya.

Lahan dakwahnya ini digunakannya untuk melawan propaganda dari penyebar kebencian dan kelompok radikal. Bagi penulis buku Islam Yes, Khilafah No! Ini, di era digital seperti saat ini, hukumnya fardu kifayah—wajib dan baru gugur bila sudah dikerjakan muslim lainnya—untuk berdakwah ke kalangan milenial di media sosial.

Menengok sosok Nadirsyah Hosen ini mengingatkan saya pada suatu hadits Rasulullah Sholallahu 'alaihi wa Salaam yang berbunyi:

ن أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم، ومن أراد الدنيا والآخرة فعليه بالعلم

“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu”.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi