Multitalenta, Risa Saraswati Sukses Bersama Karier Horornya

Sumber: Tribunnews Bogor

Pencinta cerita-cerita mistis tentunya sudah tidak asing dengan salah satu akun YouTube “JurnalRisa” yang digawangi oleh Risa Saraswati. Akun yang telah memiliki 2.231.840 subscribers saat tulisan ini ditulis, berisi konten seputar petualangan Risa ke berbagai tempat yang disinyalir dihuni oleh makhluk gaib dan tentunya komunikasi Risa dengan para makhluk gaib disana.

Memiliki kemampuan supranatural yang diturunkan dari sang kakek tidak lantas membuat hidupnya berjalan mulus. Sejak balita ia telah bergaul dengan makhluk gaib tanpa disadarinya. Ia kerap asyik ngobrol sendiri dengan teman-teman gaibnya yang dianggapnya seperti manusia biasa.

Ketika duduk kelas lima SD (Sekolah Dasar), barulah ia mulai bisa membedakan manusia dan hantu setelah mendapat penjelasan dari sang kakek. Tak hanya Risa, adiknya dan beberapa saudara sepupunya juga memiliki kemampuan serupa dengannya.

Keluarganya sempat membawanya berobat ke psikiater dan beberapa pesantren untuk menghilangkan kemampuannya tersebut. Sayangnya upaya tersebut bukannya berhasil, malah membuatnya semakin peka dengan makhluk gaib.

Kawan kecilnya yang masih berteman akrab dengannya hingga saat ini, yaitu Peter, Hans, William, Hendrik, dan Janshen. Perkenalannya bermula sebagai tetangga. Konon mereka meninggal karena dibunuh oleh tentara Jepang.

Pertemanan yang cukup akrab dengan teman-teman uniknya ini membuatnya pernah mencoba bunuh diri tiga kali ketika SMP karena bisikan mereka. Ia pernah menenggak satu strip obat warung tapi gagal karena hanya menimbulkan efek ngantuk biasa.

Ia pernah berupaya memotong urat nadi tangannya dengan cutter yang dibeli di toko buku. Tapi ternyata macet saat akan dipakai yang membuatnya lagi-lagi gagal bunuh diri.

Percobaan bunuh diri yang terakhir adalah loncat dari angkot (angkutan kota) yang sedang melaju. Ketika hampir loncat, tangan ibu-ibu penumpang menyelamatkannya.

Percobaannya untuk bunuh diri tentu membuat keluarganya cemas. Tidak hanya bunuh diri. Ketika remaja, ia pun sering kerasukan setan karena menolak untuk berkomunikasi dengan makhluk astral tersebut.

Akhirnya ia pindah ke rumah kakeknya dan dibentengi dari pertemanan dengan Peter, dkk. hingga ia kuliah. Dibawah bimbingan sang kakek, ia berusaha untuk rajin beribadah dan membaca doa-doa khusus.

Setelah dewasa dan dirasa bisa mengendalikan kemampuannya, barulah ia bersahabat dengan mereka. Ia sendiri harus menjaga tubuh tetap fit agar bisa mengontrol kapan ia ignin melihat atau tidak, karena ketika lemah otomatis akan terbuka.

Risa yang telah menekuni dunia tarik suara sejak SMA ini pernah bergabung menjadi vokalis sebuah band bernama Homogenic. Bersama Homogenic, ia merilis album Epic Symphony (2004), Echoes of Universe (2006), dan album kompilasi Jakarta Movement (2006).

Bakat seni yang menurun dari keluarganya ini lantas menggerakkannya untuk menciptakan lagu sendiri. Di tahun 2009 setelah memutuskan mundur dari band Homogenic, wanita berusia 34 tahun ini mendirikan proyek solo dengan menjadi vokalis band Sarasvati.

Ia menciptakan lagu berjudul “Story of Peter” yang berisi tentang kerinduannya akan teman-teman gaibnya, Peter cs, yang juga menjadi awal baru baginya untuk membuka diri kepada orang lain terkait kemampuan supranaturalnya.

Album Story of Peter yang diluncurkannya memuat tujuh lagu berbahasa Inggris, dengan lima lagu ditulis oleh Risa sendiri, sementara dua lagu lainnya merupakan lagu daur ulang, antara lain Question milik Space Astronauts dan Perjalanan milik Franky & Jane.

Baca juga:   Raditya Dika: Komedia Adalah Sebagian Hidup Saya

         Arief Muhammad 'Poconggg': Meraih Sukses Dibalik Anonimitas

Pernah menjadi penyiar radio Rase FM Bandung di tahun 2006, di sela-sela siarannya setiap malam Jumat, ia kerap menebarkan Ghost Tweet di kalangan pendengarnya. Karena pertanyaan tentang Peter cs hampir sama, ia akhirnya menulis sekaligus jawaban di blog.

Dari cerita-cerita horor yang ditulisnya di blog pribadinya, penerbit pun tertarik untuk menerbitkan kisahnya menjadi sebuah buku. Sejak 2011, akhirnya lahir buku pertamanya, Danur, yang menjadi best seller dengan puluhan ribu kopi.

Setelah sukses dengan Danur, penulis yang juga bekerja sebagai PNS di Bandung ini pun menerbitkan buku-buku berikutnya yang hingga saat ini telah berjumlah mencapai 20 buku.

Beberapa buku tersebut ada yang bergenre fiksi dan non fiksi, serta ada yang ditulisnya berkolaborasi seperti Risara (2014) yang ditulisnya bersama Sara Wijayanto, serta Senjakala (2018) yang ditulis bersama suaminya.

Menulis buku tentunya memiliki tantangan tersendiri, seperti menyesuaikan mood menulis maupun mengumpulkan informasi-informasi untuk membangun sebuah cerita yang solid.

Untungnya, kebiasaan membacanya yang telah dipupuknya sejak kecil sedikit banyak membantu Risa dalam menggali ide buku-bukunya. Selain itu, menjaga tubuh tetap fit dan mood bisa terjaga juga salah satu yang mempengaruhi cepat tidaknya buku tersebut selesai.

Seperti beberapa buku non fiksinya yang merupakan hasil wawancara dengan teman-teman hantunya yang sangat membutuhkan chemistry mood yang sesuai dengan dirinya.

Dari sekian banyak buku yang telah dihasilkannya, Asih (2017) merupakan buku tercepat yang ditulisnya dalam waktu tiga hari, William (2017) seminggu, Danur sebulan, dan Senjakala (2018) yang buku waktu tujuh bulan.

Sebagai salah satu buku terlaris di Indonesia, Danur ternyata menarik rumah produksi untuk mengadaptasi novel-novelnya ke layar lebar hingga 2021. Film Danur (2017) yang diperankan Prilly Latuconsina juga menuai sukses dengan menjadi salah satu film horor Indonesia terlaris sepanjang masa.

Meski Risa tidak terlibat langsung dalam penggarapan filmnya, agar cerita di buku tetap terjaga, ia memercayakan kepada seorang kenalannya untuk menulis naskahnya.

Cerita yang diambil dari bukunya hanya diambil satu cerita yang memiliki karakter dan penceritaan yang kuat, karena novel yang ditulisnya kebanyakan seperti kumpulan cerpen. 

Hingga kini, sudah ada lima film yang diangkat dari novel Risa, antara lain Danur (2017)Danur 2: Maddah (2018), Rasuk (2018), Asih (2018), dan Silam (2018).

Walaupun banyak yang menyukai karyanya, banyak pula yang tidak percaya dengan kisahnya. Tapi ia selalu menanggapi dengan santai dan tetap terus berkarya. Baginya, karya-karyanya tersebut bukan untuk dipercaya atau tidak dipercaya, tapi memberi hikmah agar manusia belajar dan tidak bertindah bodoh seperti kisah tersebu.

Semoga menginspirasi Anda, untuk bisa menjadi diri sendiri dalam berkarya.

 

Sumber:

https://beritagar.id/artikel/figur/risa-saraswati-bersama-hantu-sepanjang-waktu

https://www.idntimes.com/life/inspiration/vita/eksklusif-kisah-risa-saraswati/full

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20170407115919-234-205706/kisah-upaya-bunuh-diri-risa-saraswati-dan-persahabatan-gaib

https://id.wikipedia.org/wiki/Risa_Saraswati

https://keepo.me/lifestyle/silam-rilis-ini-5-novel-horor-risa-saraswati-yang-diangkat-ke-layar-lebar

https://www.gramedia.com/blog/8-teman-hantu-risa-saraswati-yang-kisahnya-dibuat-buku-best-seller/#gref

https://www.gramedia.com/products/ivanna-van-dijk



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi