Menggapai Mimpi Tanpa Suara Lewat Kopi Tuli

Sumber: Cikopi

Bisnis kedai kopi adalah salah satu bisnis yang saat ini sedang naik daun dan bersaing ketat, selain bisnis rintisan teknologi. Meskipun demikian, masih ada celah peluang yang bisa dicoba untuk terjun ke bisnis ini. Hal ini sudah dibuktikan oleh tiga sekawan dalam mendirikan Kopi Tuli.

Kopi Tuli atau biasa disingkat Koptul, adalah buah ideasi Putri Sampaghita Trisnawinny, Adhika Prakoso, dan Tri Erwin Syah Putra. Mereka bertiga adalah penyandang tunarungu. Tapi keterbatasan ini tidak menghalangi mereka untuk menggapai mimpi membangun bisnis kopi.

Putri yang merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara (Binus) sebelumnya sudah melamar ke 500 perusahaan yang berujung penolakan. Berbagai cara melamar kerja pun ditempuh, entah lewat email atau mengirim dengan amplop. Tapi setiap ia memberi keterangan ‘disabilitas tuli’ ia tidak pernah mendapat panggilan.

Suatu kali, ia mencoba untuk mengirim lamaran dengan tidak memberi tahu bahwa ia tulis. Rupanya cukup membuahkan hasil. Ia pernah diundang hingga tahap wawancara, lalu ditanya kenapa suaranya berbeda. Ia berujar jika ia tuli. Setelah itu, ia ditolak secara halus dengan mengatakan bahwa perusahaan sudah menerima kandidat lain.

Cita-citanya yang ingin menjadi wanita karier seolah kandas karena ia tidak bis diterima perusahaan mana pun karena keterbatasan fisiknya tersebut. Demi mengisi waktu luang, ia sempat membangun Yayasan Sampaguita untuk pelatihan teman tuli berupa pelatihan tata boga, menjahit, melukis di gelas, serta membuat dompet dan tas kulit. Hingga kini, sudah ada sekitar 700 teman tulis yang dilatih agar mereka tidak mengalami diskriminasi seperti dirinya.

Pengalaman yang hampir serupa juga dirasakan oleh Adhika yang sealmamater dengan Putri. Ia pernah pindah kuliah karena lingkungannya kurang menerima cara berkomunikasinya. Setelah lulus, ia berjibaku melamar ke 200 perusahaan dan ditolak. Hal tersebut sempat membuatnya minder.

Lain halnya dengan Erwin. Ia sewaktu SMP di sekolah umum sering mengalami perundungan atau bullying. Alat bantu dengarnya sering dipegang-pegang. Juga, lulusan seni rupa Universitas Negeri Jakarta ini sering diganggu terus-menerus hingga tidak memiliki teman di sekolah. Ini lah yang membuatnya untuk bertekad harus bisa mandiri, meski ia memiliki kekurangan.

Lalu akhirnya, ketiga sekawan yang dulunya bertemu di TL (Taman Latihan setingkat taman kanak-kanak bagi anak-anak disabilitas) Santi Rama, Jakarta Pusat ini berkumpul di medio 2018 lalu. Mereka saling bercerita dan berdiskusi mengenai bisnis apa yang bagus. Akhirnya tercetuslah ide untuk bisnis kopi karena Adhika suka minum kopi dan senang meracik kopi.

Tanpa pikir panjang, mereka bertiga ini pun segera berguru kepada pebisnis mengenai soal dasar-dasar bisnis kopi. Mereka juga menyusuri seluk-beluk kedai kopi dari BSD City hingga Bandung, berakhir dengan menemukan petani lokal di Ciwidey yang saat ini menyuplai kopi untuk Koptul. Selain dari Ciwidey, biji kopi juga dipasok dari Papua berdasarkan saran dari kerabat terdekat.

Mereka juga mengambil kursus barista di Toffin Indonesia dan tiga tempat berbeda lainnya, serta giat bereksperimen dalam meracik kopi menggunakan mesin espresso manual hingga 10 gelas sehari demi menemukan rasa yang pas dan menyentuh hati, sesuai dengan slogan kedai mereka, “Taste that touch your heart.”

Proses belajar saat mengikuti kursus sendiri juga penuh tantangan bagi mereka harus menajamkan visual untuk memperhatikan gerak bibir pengajar kursus. Belum lagi jika ada gerak bibir yang sulit diamati untuk dipahami. Terkadang, ia sendiri harus banyak mencatat materi agar bisa dipelajari sendiri di luar jam kursus.

Bahkan Putri sendiri yang awalnya bukan tidak suka kopi akhirnya rela belajar dan mencicipi berbagai racikan kopi demi bisnis barunya tersebutnya. Witing tresno jalaran soko kulino, pepatah Jawa yang artinya jatuh cinta karena terbiasa, menggambarkan dirinya yang akhirnya menyukai kopi karena setiap hari terbiasa belajar meracik kopi.

Setelah cukup siap, akhirnya kedai pertama mereka berhasil berdiri pada 12 Mei 2018 dengan meminjam garasi rumah milik teman Adhika yang disulap menjadi kedai kopi di kawasan Depok. Lima bulan setelahnya, Koptul menambah gerai di Jakarta Selatan berkat kerja sama dengan Iman Gagah, teman tuli lain, yang tertarik untuk membuka cabang Koptul di Jakarta agar lebih banyak masyarakat yang aware dengan penyandang tuli.

Bagi mereka, memutuskan berbisnis kedai kopi bukan sekedar mengikuti arus tren masa kini. Kopi dianggap sebagai media komunikasi karena biasanya orang-orang ngopi sambil mengobrol santai. Di sinilah mereka berusaha membangun sebuah ruang yang bisa menjembatani komunikasi orang-orang normal dengan penyandang tuli. Agar orang-orang di Kopi Tuli berinteraksi, ditiadakan fasilitas Wi-Fi gratis yang biasanya selalu ada di kedai kopi lain pada umumnya.

Ini juga yang menjadi kekuatan bisnis mereka, menjadikan kedia kopi sebagai ruang interaksi teman dengar (sebutan untuk orang-orang normal) dan teman tuli. Selain itu, agar masyarakat lebih ‘melek’ dan sadar bahwa penyandang tuli juga bisa berkarya dan membangun bisnis selayaknya orang normal lainnya.

Pemberian nama Kopi Tuli sendiri bukan bermaksud untuk dikasihani atau mengolok-olok, justru sebagai identitas para pendirinya. Tiga sekawan ini juga memberdayakan penyandang tunarungu lain sebagai pegawai yang membantu kegiatan bisnis di Koptul.

Untuk memudahkan komunikasi, di gelas kemasan Koptul ada alfabet dalam bahasa isyarat yang bisa dipelajari oleh masyarakat luas mengenai cara berkomunikasi dengan teman tuli. Juga ada 12 pilihan menu yang masing-masing diwakili oleh simbol berupa huruf isyarat.

Selain menggunakan simbol bahasa isyarat di pilihan menu yang dicetak besar, mereka juga menyediakan kertas kosong untuk komunikasi verbal dengan para pelanggan karena terkadang gerak bibir beberapa orang untuk pelafalan tertentu kurang begitu jelas, sehingga pelanggan bisa menuliskan apa yang ingin dipesan agar tidak terjadi salah paham.

Menu-menunya sendiri menggunakan nama alam dan akronim nama pendirinya, seperti Kopi Siput (Si Putri) yang memadukan kopi dengan alpukat, kopi marmer hitam, dan kopi arang dengan susu. Harga yang dibanderol pun masih di kisaran Rp 20 ribu per gelasnya.

1,5 tahun berdiri, Koptul mendapat sambutan hangat, terutama dari sesama teman-teman tuli. Kedai ini sendiri setiap harinya bisa menjual  150-200 gelas setiap harinya dengan omzet mencapai jutaan rupiah.

Adhika, Putri, dan Erwin tidak ingin hanya sebatas bisnis kedai kopi. Mereka memiliki rencana lain untuk menyosialisasikan bahasa isyarat ke sekolah-sekolah. Saat ini, kedai kopi mereka juga digunakan untuk Ruang Belajar teman tuli. Erwin sendiri yang memiliki sertifikasi pengajar bahasa isyarat juga aktif mengajar bahasa isyarat kepada teman-teman dengar lain.

Selain mendirikan kedai kopi, mereka juga berencana ke depannya ingin membuka bakery dan pelatihan barista demi membuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk teman-teman tuli berkarya. Dunia mereka boleh jadi sunyi tanpa suara, tapi Kopi Tuli adalah salah satu cara mereka menyuarakan eksistensi dan kemampuan mereka kepada dunia.

           

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi