Menganyam Mimpi Mama-Mama NTT Melalui Du'Anyam

Source: Instagram

Flores, Nusa Tenggara Timur, masih terkenal sebagai salah satu daerah di Indonesia Timur yang memiliki angka kematian ibu dan bayi tertinggi di Indonesia. Hal ini disebabkan keadaan ekonomi yang rendah dan kurangnya asupan nutrisi pada masa kehamilan. 

Ketika berkunjung ke Kabupaten Sikka, di salah satu desa di kabupaten tersebut, Hanna Keraf, co-founder Du’Anyam, mendengar langsung sebuah kisah bahwa ada seorang ibu yang mengalami keguguran pada kehamilan ketujuh dan nyaris meregang nyawa. 

Ibu tersebut tidak kuasa untuk tidak menghentikan kehamilan berikutnya meski nyawanya hampir melayang di kehamilan ketujuh tersebut.

Selain itu fakta lain yang muncul disana adalah bahwa setiap perempuan disana masih tidak berhak atas otoritas rahim mereka sendiri, karena keterbatasan ekonomi yang membuat mereka harus menggantungkan nafkah dari suami mereka. 

Berangkat dari permasalahan sosial yang demikian membuat hati Hanna tergugah untuk melakukan sesuatu membantu para wanita di daerah tersebut.

Hanna bersama Ayu dan Melia berinisiatif untuk membangun sebuah perusahaan sosial yang diberi nama Du’Anyam pada tahun 2014, setelah melakukan riset sosial mendalam tentang Flores. 

Perusahaan berbasis online ini memanfaatkan kemampauan menganyam daun lontar para ibu di daerah tertinggal di Flores dan membantu menjual hasil kerajinan anyaman berkualitas secara online.

Anak muda pun yang tadinya sudah tidak berminat untuk menganyam, jadi tergugah untuk ikut belajar menganyam dan bisa menghasilkan uang sendiri.

Barang kerajinan yang dihasilkan pun beragam. Ada tapis beras, tas gantung, piring, kebutuhan hotel seperti sandal hotel.

Tadinya Hanna, dkk. ingin berbisnisi kain tenun Flores, namun perputaran uangnya lebih lambat dibandingkan kerajinan anyaman. Akhirnya mereka mantap untuk memulai berbisnis kerajinan anyaman bersama 10 mama di Desa Duntana ini.

Selain menjual secara online melalui website resmi dan market place, Du’Anyam juga membantu memasarkan hasil kerajinan anyam tersebut secara offline dengan bekerja sama dengan beberapa hotel di Bali, Lombok, dan Jakarta.

Harapannya sederhana saja dalam membangun Du’Anyam. Dapat membantu perekonomian para ibu di Flores dan meningkatkan kesejahteraan taraf hidup mereka, sehingga mereka bisa mandiri dan memiliki penghasilan sendiri melalui keterampilan menganyam daun lontar yang telah dimiliki oleh para ibu tersebut.

Meski demikian, sangatlah tidak mudah bagi Hanna, Ayu, dan Melia untuk mengedukasi para ibu dalam hal mengajarkan kerajinan anyam dan melatih etos kerja mereka untuk menghasilkan kualitas anyaman yang seragam dan bisa memenuhi permintaan pasar. 

Ditambah lagi, dari segi biaya transportasi cukup memakan biaya yang besar karena terbatasnya fasilitas transportasi dan lokasi yang berada di pedalaman.  Ia sempat frustasi untuk melalui fase sulit tersebut.   

Namun kini, perjuangan berdarah-darah yang dilakukan Hanna, Ayu, dan Melia berbuah manis. Ibu-ibu di Flores sendiri juga mengalami perkembangan dan peningkatan ekonomi yang cukup signifikan.

Mereka mengaku jika dulunya para ibu hanya memperoleh pendapatan sebesar 6-8 juta pertahun dari hasil bertani, kini ibu-ibu bisa memperoleh 100-200 ribu per hari dari menganyam. 

Para ibu disana menuturkan bahwa mereka dapat membantu suami untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan anak-anak mereka. Selain itu mereka jadi lebih sering pegang uang fisik, dimana sebelumnya hanya beredar ketika musim panen selepas menjual hasil bumi di pasar.

Disamping itu, Du’Anyam juga memiliki proyek sosial untuk membantu mengembangkan kandang ayam keluarga para ibu di Flores tersebut, supaya ayam yang diternakkan dapat menghasilkan telur dan daging yang bergizi.

Tak hanya bermitra dengan para ibu di 17 desa di Flores, Du’Anyam juga dipercaya dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia untuk membantu ibu-ibu di Nabire, Berau, dan Sidoarjo dalam pemberdayaan ekonomi melalui kerajinan anyaman sama seperti di Flores.

Bisnis Du’Anyam semakin cerah setelah mulai merambah industri ritel di penghujung 2017. Hal tersebut ditandai peluncuran sejumlah produk fesyen Du’Anyam seperti tas di ajang Jakarta Fashion Week 2017. Du’Anyam berkolaborasi dengan beberapa merk busana, antara lain Contempo, Cotton Ink, dan Impromptu.

Du’Anyam juga aktif bekerja sama dalam beberapa agenda Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Salah satunya dengan menjadi duta Indonesia dalam ajang Indonesia Paviliun di Italia pada beberapa waktu silam.

Pada peringatan Sumpah Pemuda 2017, para co-founder ini berkesempatan memamerkan karyanya di hadapan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.

Mama-mama perajin sangat senang ketika mengetahui produk mereka dipegang oleh Presiden, bahkan ketika produknya sudah sampai ke luar negeri.

Para co-founder ini aktif memberi kabar kemajuan Du’Anyam untuk menunjukkan sekaligus memotivasi para mama perajin bahwa pekerjaan mereka bernilai bagi orang lain.

Selain berhasil menembus pasar internasional lewat pameran Salone del Mobile Milano di Milan, Italia, Du’Anyam juga berhasil unjuk gigi di pameran Seoul International Handmade Festival 2018.

Pada perhelatan pesta olahraga terbesar se-Asia, Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang, Du’Anyam berhasil menjadi salah satu UMKM yang memegang lisensi untuk menjual merchandise resmi Asian Games.

Ia diganjar beberapa penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri seperti dana hibah dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) 2014, Global Social Venture Competition Southeast Asia, dan UnLtd Indonesia. 

Selain itu, ia mengklaim bahwa penghasilan penganyam yang bermitra dengan Du’Anyam hingga saat ini telah meningkat sebesar 40%. 

Angel investor asal Singapura, Northstar Foundation, pada bulan Maret silam mengucurkan dana yang tidak disebutkan nilainya kepada Du’Anyam untuk pengembangan bisnis dan pemberdayaan perempuan yang lebih besar ke depannya.

 

 

Sumber:

https://qlapa.com/blog/duanyam

http://www.wanitawirausaha.com/article/kisah-sukses/azalea-ayuningtyas-pemilik-du-anyam-mengatasi-masalah-nutrisi

https://www.liputan6.com/citizen6/read/3493657/duanyam-kewirausahaan-sosial-yang-sejahterakan-wanita-ntt-lewat-anyaman

https://telusur.co.id/2018/05/31/du-anyam-ukm-yang-mampu-raih-lisensi-asian-games-berkat-social-entrepreneurship/

https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/duanyam-anyaman-mama-mama-ntt-di-asian-games

https://dailysocial.id/post/du-anyam-funding-northstar-foundation/

http://www.harpersbazaar.co.id/articles/read/3/2017/3608/Cerita-Wanita-Hebat-Azalea-Ayuningtyas-Hanna-Keraf

https://www.duanyam.com/

https://www.instagram.com/tobo_byduanyam/

https://kumparan.com/abigail-mreizghi-alvio-linchia/berurai-air-mata-dan-keringat-hanna-keraf-sejahterakan-wanita-ntt-lewat-du-anyam

 


Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
0 komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi