Lewat Sahabat Kapas, Dian Sasmita Menjadi Ibu Bagi Anak-anak Lapas

Sumber: Best People Indonesia

Ada banyak cara untuk membantu sesama dengan permasalahan hidup yang kompleks. Langkah inilah yang dilakukan oleh Dian Sasmita, seorang ibu rumah tangga asal Solo sekaligus pendiri Yayasan Sahabat Kapas, untuk berbagi kasih membantu sesama.

Lewat keberaniannya untuk menjawab panggilan hati, ia merasakan dengan berbagi nikmat hidup kita tidak dikurangi, justru malah bertambah.

Lahir dan besar di Ambarawa, Jawa Tengah, membuat Dian memutuskan untuk berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Dalam perjalanan kuliahnya, ia mulai tertarik berkecimpung dalam perjuangan keadilan kaum lemah, seperti wanita dan anak korban kekerasan.

Tiga tahun usai lulus, ia kembali ke bangku kuliah untuk studi profesi advokat. Saat itu ia beberapa kali berkunjung ke lapas dan mengawali perkenalan dengan anak-anak di sana.

Di tahun 2009, ia berhenti kerja untuk fokus menjadi ibu rumah tangga. Tapi hati kecilnya kerap terusik, teringat dengan anak-anak yang menghuni di Rutan Surakarta. Setelah berdiskusi dengan suami, ia memutuskan untuk mengunjungi anak-anak di lapas di sela waktu luangnya, minimal seminggu sekali.

Awal Juli 2009, pembicara di Ubud Writers & Readers Festival 2019 ini mengajak teman seniman bernama Moyong Kasnuri masuk Rutan Surakarta dengan membawa kertas, kuas, dan cat tembok. Waktu itu mereka mendapat sambutan hangat dari anak-anak penghuni lapas.

Mereka bermain warna dan kertas di sudut aula bersama anak-anak penghuni lapas yang saat itu digunakan sebagai tempat besuk napi. Selain bermain, mereka juga mendengar curhatan anak-anak, dari rindu keluarga dan sedih karena dikeluarkan dari sekolah, hingga kejenuhan selama di dalam tahanan.

Setelah itu, Dian semakin menyadari bahwa anak-anak lapas ini sangat membutuhkan dukungan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi diri. Setiap minggu ia meluangkan waktunya untuk berkunjung dan berinteraksi.

Dengan bantuan beberapa teman, ia lalu membentuk Yayasan Sahabat Kapas. Penamaan ini dipilih karena psikis anak seperti kapas, mudah menyerap dan terbawa pengaruh lingkungan. Kapas bisa dibentuk menjadi lebih bagus, tergantung pada orang dewasa yang mengasuh.

Realitanya, anak-anak yang terjerat kasus kriminal atau tindakan kekerasan lainnya sesungguhnya adalah korban dari kondiri dan situasi di dalam masyarakat atau di lingkup keluarga mereka sendiri. Kondisi ekonomi keluarga juga bisa menjadi salah satu penyebabnya dan juga beberapa hal lain yang menjadi penyebabnya.

Sistem pemasyarakatan Indonesia sendiri belum optimal dalam memenuhi kebutuhan rehabilitasi bagi penghuni lapas yang masih berusia anak-anak. Konsep pembinaannya masih tidak jauh beda dengan orang dewasa. Sehingga kebutuhan khas anak, seperti belajar formal, pengembangan kognitif, pendampingan psikososial, hingga jaminan mereka tidak mendapat stigma ketika bebas masih luput dari perhatian pemerintah. Padahal ini seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah dengan melibatkan beberapa pihak seperti, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, dan Rutan (Rumah Tahanan).

Alasan inilah yang membuat Dian semakin yakin membentuk Sahabat Kapas untuk membantu anak-anak penghuni lapas tersebut. Kegiatan Sahabat Kapas memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan rasa aman anak-anak di penjara. Tak hanya itu saja. Ada juga trauma healing agar anak bisa percaya diri setelah menjalani hukuman.

Berawal dari kegiatan melukis untuk terapi psikologis, kegiatan Sahabat Kapas pelan-pelan mulai berkembang. Ada pelatihan membuat wayang beber, musik, sastra, puisi, dan menonton film. Intinya pada hal-hal yang menghibur dan mengurangi kejenuhan anak-anak. Di tahun 2010, Dian mendapatkan persyaratan legal dalam mengelola yayasan tersebut.

Untuk bisa terus menjalani aktivitas ini, tentu ia sebagai seorang istri membutuhkan pengertian berbagai pihak, terutama keluarga. Ia pun sering melibatkan sang suami dalam kegiatan-kegiatannya. Untungnya, suaminya malah sering turun tangan untuk dokumentasi. Bahkan mengajari anak-anak fotografi dan pembuatan film yang bisa menjadi bekal kemampuan setelah keluar dari penjara untuk bisa survive di masyarakat.

Setelah di Lapas Surakarta, penerima penghargaan Kartini Award 2014 ini bergeser ke Lapas Klaten untuk memberikan pendampingan psikologi dan pelatihan keterampilan. Di sini ia memberi pelatihan sablon untuk modal berwiraswasta karena kebanyakan anak-anak napi ini putus sekolah. Sehingga sulit mendapat pekerjaan formal setelah keluar dari penjara.

Lewat keterampilan sablon yang diajarkan kepada anak-anak ini, Dian mendirikan bisnis produk sablon yang diberi nama ‘Onjel’. Produknya sendiri berupa tas, kaus, dan tempat pensil yang ditulis dengan kata-kata yang mengajak dan mengedukasi masyarakat agar peduli pada anak-anak.

Karena belajar secara otodidak, masa awal memulai usaha menjadi masa yang sangat sulit. Banyak hasil sablon yang gagal. Misal, dari lima kaus sablon yang dikerjakan, empat diantaranya gagal produk. Tapi kegagalan itu tidak lantas menghalangi semangatnya dan para relawan, justru menjadi pembelajaran.

Lambat laun, produksi Onjel mulai bisa berjalan, bahkan sempat beberapa kali mengikuti pameran dan dipesan oleh masyarakat luas. Namun cara ini bukanlah memanfaatkan anak-anak untuk mencari uang. Karena hasil penjualan produk Onjel akan kembali untuk memenuhi kebutuhan mereka selama di lapas, seperti vitamin dan susu.

Namun sejak tahun 2015, Onjel sudah tidak dikerjakan lagi oleh anak-anak napi karena mereka sudah keluar dari lapas. Meski demikian, uang penjualannya tetap digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di lapas lain dan kampanye yayasan.

Untuk meningkatkan minat baca anak-anak, ia mengadakan program Buku Muter yang berkonsep seperti perpustakaan berjalan. Program ini awalnya sempat ditentang oleh pihak lapas karena seringkali buku-buku yang dipinjamkan tidak dirawat dengan baik.

Namun dengan kegigihan Dian untuk menjalankan program ini, akhirnya program ini bisa berjalan mulus dengan melibatkan anak-anak dalam pemeliharaan buku tersebut.

Program Onjel sendiri membawahi program #GerobakOnjel yang memberikan pelatihan barista kepada anak-anak yang sudah keluar dari lapas dan nantinya akan magang di kedai kopi. Setelahnya, mereka bisa praktik dengan menjual kopi di kedai kopi berjalan yang dinamai ‘Kayuhan Amal’.

Ia juga bekerja dengan beberapa perusahaan di Solo agar bisa menerima anak-anak napi pasca keluar dari penjara menjadi anak asuh agar bisa belajar di perusahaan tersebut. Ternyata, banyak pengusaha yang merespons.

Semakin dekat dengan anak-anak penghuni lapas ini, Dian menangkap bahwa anak-anak ini kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya sehingga ia dan teman-teman relawan sebisa mungkin menempatkan diri sebagai kakak bagi mereka. Banyak pelajaran hidup yang didapatkan dari anak-anak yang sudah mau bertanggung jawab atas perbuatan mereka ini di penjara.

Mimpi Dian hanya satu, anak-anak yang telah ia dampingi tidak lagi kembali ke lembah hitam. Memang ukuran pendampingannya bukan pada nominal uang, namun upaya agar mereka tidak kembali ke jalan gelap.

Ia juga berharap masyarakat luas bisa menghargai dan tidak melabeli mereka dengan stigma negatif. Hal inilah yang membuatnya terus menggalakkan kampanye hak anak dan sosialisasi anti kekerasan.

Setiap orang tentu memiliki masa lalu dan berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua. Anak-anak ini juga berhak mendapat kesempatan kedua dari kita sebagai masyarakat, untuk nantinya menjadi generasi penerus bangsa. Jika kita ingin diperlakukan tanpa diskriminasi, kenapa kita tidak mencoba untuk tidak mendiskrimasi mereka?

               



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi