Lewat Campursari, Didi Kempot Berhasil Bikin Anak Muda Makin Ambyar

Sumber: Kompas.com

Siapa tidak kenal dengan Didi Kempot? Meski nama ini terkenal di era ’90-an, tapi kini nama Didi Kempot seperti terlahir kembali. Lama tidak muncul di media, baru-baru ini, namanya kembali populer di kalangan generasi muda dan dianggap sebagai Godfather of Broken Heart.

Saya pribadi mengingat Didi Kempot sebagai musisi campursari yang cukup hits semasa ketika orang tua saya masih muda. Lagu ‘Cucak Rowo’ yang sering diputar oleh tetangga saya di hari minggu pagi sering terngiang-ngiang di telinga hingga saya hapal dengan nadanya waktu itu.

Pria kelahiran Surakarta, 31 Desember 1966 ini tumbuh dengan perjuangan ibunya. Kedua orang tuanya berpisah ketika ia masih berusia 1,5 tahun. Praktis, ia tinggal dengan ibunya di Ngawi, sementara kedua kakaknya tinggal bersama sang ayah di Surakarta.

Ayahnya, Ranto Edi Gudel atau akrab disapa Mbah Ranto, dikenal sebagai pemain ketoprak atau pementasan khas Jawa ternama di Surakarta. Ibunya sendiri juga berkecimpung di dunia seni.

Tidak heran jika darah seni mengalir di darah pria bernama asli Dionisius Prasetyo itu dan kakaknya, Mamiek Prakoso alias Mamiek Podang, yang berprofesi sebagai pelawak dan sempat bergabung ke dalam grup Srimulat.

Ketertarikannya pada dunia musik semakin membuncah ketika ia duduk di bangku SMP. Demi belajar gitar, ia nekat menjual sepeda pemberian ayahnya yang membuatnya dimarahi habis-habisan oleh sang ayah. Tapi ia tidak ingin menyerah begitu saja.

Saat SMA, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah agar bisa fokus menekuni dunia musik. Ayahnya pun tidak keberatan atas keputusannya karena menjadi seniman yang lebih penting adalah praktek, bukanlah sekolah tinggi-tinggi. Belajar sendiri bisa dilakukan di mana saja baginya.

1984, Didi mulai mengamen di Kepabron, Solo, menggunakan gitar. Lagu-lagu yang sering dibawakannya adalah lagu berbahasa Jawa. Disela-sela waktunya, ia juga mulai menulis lagu. Dari sekian banyak tempat, Stasiun Balapan adalah salah satu yang paling sering didatanginya bersama lima orang kawannya, Dani Pelo, Comet, Rian Penthul, Heri Gempil, dan Mamat Kuncung.

Suatu kali ketika ia mengamen di Keprabon, ada pemimpin Pemuda Pancasila, Yapto Soelistyo Soerjosoemarno yang menanyakan lagu ciptaannya yang ia nyanyikan. Kemudian Yapto menyarankan Didi untuk ke Jakarta. Didukung oleh orang-orang terdekat, ia pun mengadu nasib ke ibu kota di tahun 1987.

Tiba di Jakarta, ia mengumpulkan uang dari mengamen bersama delapan orang temannya. Ia sendiri ikut terbawa bis kota ke berbagai wilayah. Meski mendapatkan hasil tak menentu, ia menyadari jika uang yang diberikan penumpang lebih banyak didapat jika ia menyanyi lagu pop Jawa, daripada lagu pop biasa. Dari situ, ia semakin semangat untuk terus mengasah kemampuannya di genre musik tersebut.

Selain mengamen dan menulis lagu, ia juga mulai merekam lagu-lagu ciptaannya dan mengirimkannya ke studio rekaman sebagai demo. Seringkali, rekaman itu hanya berakhir di pos satpam. Namun rezeki memang tidak ke mana. Musica studios memanggil Didi karena tertarik dengan demo yang dikirimnya. Ia kemudian dibantu Pompi, anggota band No Koes, dalam mengaransemen musiknya.

Pelan-pelan, lagu We Cen Yu mulai dikenal luas di masyarakat. Lagu bernuansa jenaka itu dipilih karena lagu galau tidak laku. Nama panggungnya ‘Didi Kempot’ yang berarti Kelompok Penyanyi Trotoar mulai digunakannya sejak saat itu. Rezeki lainnya pun mulai menghampiri. Ia ditawari oleh TVRI untuk membuat video klip dan tayang di televisi nasional satu-satunya saat itu. Ia senang bukan main.

Single demi single pun ditelurkan, seperti Cidro yang berkisah tentang seseorang patah hati. Lagu ini tidak begitu laku di tanah air, tapi justru menjadi hits di Suriname dan Belanda. Pada 1993, ia berangkat ke Belanda untuk konser di sana. Dilanjutkan di tahun 1996, ia kembali ke Belanda dan ke Suriname. Di Suriname, ia lebih terkenal lagi karena banyak orang asli dan keturunan Jawa.

Karena ketenarannya di dua negara tersebut, dari 1996 hingga 1998, ia merilis 10 album yang hanya ada di Belanda dan Suriname, diantaranya Layang Kangen, Trimo Ngalah, dan Suke Teki.

Popularitasnya di tanah air baru dicicipinya kala album Stasiun Balapan (1999) meledak di pasaran. Media cetak dan elektronik mulai meliputnya. Ia sendiri mondar-mandir ke stasiun televisi untuk promo album.

Setelah itu diikuti album Tanjung Mas Ninggal Janji, Seketan Ewu, Plong (2000), Ketaman Asmoro (2001), Poko’e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas (2004), dan Ono Opo (2005). Jika dikumpulkan, selama 35 tahun menjadi musisi, ia sudah menulis 700 lagu dan merilis hingga 50 album.

Di tahun 2000-an, popularitas Didi Kempot sempat menurun. Hanya penggemar setianya yang senantiasa mengikutinya dari panggung ke panggung off air. Tawaran manggung atau tayang di televisi berkurang drastis. Apalagi zaman di era internet dan media sosial belum lahir di tanah air, tidak ada kicauan viral untuk mempromosikan dirinya.

Didi sejatinya tidak pernah mematok harga khusus untuk setiap penampilannya. Ia mengaku pernah dibayar Rp 750 ribu. Tapi ia tidak pernah patah arang. Prinsipnya: “suatu saat pasti aku akan dapat lebih dari ini.”

Prinsipnya menjadi kenyataan belasan tahun kemudian. Minggu, 9 Juni 2019 ia tampil seperti biasanya di sebuah pentas panggung di sudut kota Solo. Kemeja batik lengan panjang, rambut gondrong rapi disisir ke belakang dan dibalut minyak rambut, lalu dikuncir kuda menjadi penampilan khasnya.

Ia tidak pernah menyangka penampilannya di malam itu akan mengantarkannya pada popularitas yang menarik media-media nasional mencari dirinya. Semua itu karena sejumlah kicauan para sadboi dan sadgerls—julukan penggemar Didi Kempot—yang merekam aksinya di atas panggung.

Ternyata kicauan itu viral di media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Facebook. Ditambah lagi video reaksi penggemarnya yang benar-benar totalitas, hingga menangis tergugu, menghayati lagu lirih Didi meski sang penyanyi tidak sampai se-melankolis itu membawakannya.

Lagu Cidro yang berhasil bikin para penggemarnya menangis tergugu itu akhirnya malah naik daun baru-baru ini. Meski usia lagu itu sudah 30 tahun, tapi anak-anak muda sekarang justru bisa lebih menikmatinya. Itu yang membuat mimpinya berhasil, membuat generasi muda bisa ikut menikmati dan menyukai campursari.

Namanya kembali bersinar, tak ayal ia kebanjiran tawaran manggung. Jadwal untuk bertemu dengannya juga semakin susah. Berbagai julukan pun disematkan pada suami Yan Vellia ini, seperti ‘Bapak Loro Ati Nasional’ atau ‘Bapak Patah Hati Nasional’, Godfather of Broken Heart, atau ‘Lord’ Didi karena mayoritas lagunya bertema patah hati yang dekat dengan apa yang biasa dialami oleh anak muda.

Para penggemar loyal Didi pun membentuk komunitas yang menamai diri mereka ‘Sobat Ambyar’. Sebelumnya ada julukan ‘Kempoters’ untuk para penggemarnya, tapi tidak begitu dikenal. Media sosial resmi Didi Kempot yang baru dibuat beberapa bulan lalu dengan segera meraup ribuan pengikut.

Baru-baru ini, ia manggung di Synchronize Fest 2019 yang diadakan di Jakarta. Penampilannya sukses membius para sobat ambyar untuk bersama-sama ambyar di panggung tersebut. Didi Kempot bukan hanya menjadi tokoh yang menaikkan popularitas campursari, tapi juga melanggengkan keambyaran hati para anak muda yang sedang patah karena cinta.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi