Langkah Besar Christina Suriadjaja Membesarkan Travelio

Sumber: Human Asia

Melihat nama belakang Christina Suriadjaja tentu bukanlah nama asing di dunia bisnis properti Indonesia. Ya, ia sendiri merupakan putri Johanes Suriadjaja dan cucu Benjamin Suriadjaja, pendiri PT Surya Semesta Internusa, Tbk. (SSI). Kakeknya sendiri merupakan adik dari William Suriadjaja, pendiri PT Astra International.

Dilahirkan dengan privillege lebih, justru membuat Christina tertantang untuk mendirikan perusahaan baru di luar milik keluarganya. Baginya, membangun komunitas dan membuat orang-orang percaya dengan visinya lebih menantang.

Lulusan University of Southern California mendirikan Travelio, perusahaan startup yang terjun di bidang sewa properti online pada tahun 2015. Keputusan tersebut didukung penuh oleh sang ayah yang melihat suburnya potensi di industri digital dan juga tidak mengharuskannya untuk meneruskan bisnis keluarga.

Travelio sendiri awalnya lahir dari business pitching yang dilakukan oleh Hendry Rusli, CEO dan Co-founder Travelio, kepada lembaga family fund keluarga Suriadjaja.

Family fund ini didirikan oleh mendiang Benjamin Suriadjaja untuk memberikan pendanaan aktivitas non-profit dan corporate social responsibility (CSR). Selain itu, family fund ini juga digunakan untuk melakukan investasi langsung pada perusahaan startup lokal.

Pada SWA, Christina menuturkan saat itu ayahnya menunjukkan proposal bisnis Travelio untuk dipelajari. Merasa cocok dengan visi misi, akhirnya Travelio berhasil mendapatkan modal pendanaan dari SSI dan tabungan pribadi miliknya sendiri. Maka ia pun tercatat sebagai co-founder bersama dua orang temannya.

Ia sendiri pernah mengawali karier sebagai management trainee di InterContinental Hotels Group di Singapura, usai menyelesaikan pendidikan master manajemen perhotelan di Cornell University. Meski hanya bekerja selama delapan bulan, hampir seluruh bidang manajemen dan riset, maupun operasional hotel dikuasainya.

Hal tersebut berkat dari rotasi pekerjaan yang dilakoni sebulan sekali. Ia pernah terjun langsung di restoran hotel yang harus sigap melayani konsumen, di bagian concierge yang harus memiliki pengetahuan terkait objek wisata, tempat belanja, transportasi kota, paket tur, dll., ia juga pernah mencicipi posisi marketing & communications.

Setelah empat bulan Travelio mulai berkembang dan ia merasa pekerjaannya di hotel tidak lagi menantang, ia pun memutuskan untuk keluar dan kembali ke tanah air untuk fokus membesarkan Travelio bersama kedua temannya.

Travelio sendiri awalnya perusahaan startup yang memungkinkan pelanggan menawar harga hotel yang mereka inginkan. Konsumen bisa menawar harga hotel dan mendapatkan harga yang lebih rendah daripada harga yang dipublikasikan oleh pihak hotel.

Karena keuntungan inilah, dalam waktu singkat banyak orang yang tertarik dan banyak pelanggan yang kembali menggunakan layanan Travelio jika ingin memesan hotel.

Sebagai Chief Strategy Officer, strategi bisnis yang digunakan oleh Christina sendiri cukup berbeda. Untuk mengedepankan citra brand barunya, wanita yang menghabiskan masa kecil di Singapura menjual baju #TravelioRai #SupportSoina untuk memberangkatkan sedikitnya 41 atlet penyandang cacat mental untuk berlaga di ajang “Special Olympics World Summer Games 2015” di Los Angeles.

Bersama Ade Rai, ia menggalang dana dengan menjual baju tersebut di situs blog.travelio.com dan Rai Fitness & Klub milik Ade Rai. Tak disangka, dari kerja sama tersebut, dalam waktu dua minggu telah terkumpul donasi sebanyak Rp 87 juta untuk keberangkatan tim SOIna ke AS. Sebagai duta SOIna, keduanya juga menggelar meet and greet dengan tim SOIna. Perlahan namanya pun mulai menggaung.

Perhatiannya pada dunia olahraga sendiri dilatar belakangi dirinya yang dulu menjadi atlet tim nasional netball Singapura selama tiga tahun. Sejak SMP hingga SMA, ia aktif dalam olahraga tersebut dan kerap ikut kompetisi ke luar negeri.

Baca juga: Inspiratif! Diajeng Lestari Berhasil Membawa Fashion Muslim Indonesia Lewat HijUp

                    Biografi - Nike Ardilla

Tinggal di asrama saat di Singapura juga menempa karakter dirinya untuk selalu sportif, jujur, dan haus akan tantangan. Integritas tersebut selalu ditanamkan oleh keluarganya jika ingin sukses dalam apapun, tak terkecuali berbisnis.

Meski terlahir dari keluarga taipan, tidak lantas membuat Christina berleha-leha dengan mengandalkan dana dari ayahnya. Di bawah PT Horizon Internusa Persada, salah satu entitas anak perusahaan PT Surya Semesta Internusa, Tbk., Travelio juga berjuang mengumpulkan dana dari pemodal ventura, korporat, dan investor.

Pada April 2016, Travelio sendiri memutuskan untuk pivot bisnis yang fokus pada persewaan properti seperti apartemen, villa, guest house, homestay, dan kos-kosan. Sehingga mereka tidak lagi bermain pada hotel seperti sebelumnya.

Di Travelio sendiri ada dua tipe supply properti, travel property management dan listing. Untuk listing, pemilik properti memberikan info detail propertinya di situs Travelio dan nantinya Travelio yang akan menghubungkan antara penyewa dan pemilik. Sedangkan travel property management, properti kosong yang akan diatur oleh pihak Travelio seperti hotel mulai dari check in, check out, hingga kebersihannya.

Pemilik properti yang menyewakan properti mereka di Travelio juga bisa memantau laporan secara terperinci melalui aplikasi Lio Partner, sehingga properti mereka bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan disewakan secara harian, bulanan, maupun tahunan.

Adalah Gobi Partners asal Shanghai yang menjadi investor utama Travelio. Dengan suntikan dana US$ 2 juta, Travelio terus menambah kerja sama untuk menjangkau lebih banyak properti. Saat ini 5.000 unit listing properti dan 1.800 unit apartemen dikelola oleh tim Travelio.

EY NextGen Award Winner 2017 ini tahu betul memanfaatkan koneksi bisnis keluarga yang cukup kuat untuk mengembangkan Travelio lebih luas lagi. Ia bekerja sama dengan Airbnb dan Booking.com sebagai platform distribusi yang menyediakan permintaan, sementara Travelio menyediakan penawaran properti karena memiliki jaringan pemilik properti dan developer.

Dalam mengelola manajemen sendiri, pengusaha yang namanya masuk dalam 30 Under 30 Forbes Asia 2017 ini sangat terstruktur dan ketat terhadap KPI (Key Performance Indicator) bagi pekerja di dalamnya. Tak hanya itu, ia juga selalu terpacu untuk menciptakan value bisnis dalam setiap strategi yang diambilnya agar bermanfaat bagi banyak pihak.

Bagi Christina sendiri, terlahir dari keluarga berada dan lebih dari berkecukupan, tetaplah harus bekerja keras untuk mencapai cita-cita seperti yang dilakukannya untuk membesarkan Travelio. Karena tidak ada sukses yang jatuh tiba-tiba dari langit.

Seperti kutipan Radhika Apte, “Even if you are born with a silver spoon, you have to work hard. I mean, you could be offered films on a platter, but if you don’t get up in the morning and learn your lines, it is not going to work.” (Bahkan jika kamu terlahir dengan sebuah sendok perak, kamu harus bekerja keras. Maksudku, kamu bisa menawarkan film di atas sebuah piring, tapi jika kamu tidak bangun di pagi hari dan mempelajari garismu, itu tidak akan berhasil.)

             

 

Sumber:

https://swa.co.id/next-gen/profile-next-gen/christina-suriadjaja-kembangkan-travelio-dengan-disiplin-pada-kpi

https://swa.co.id/next-gen/profile-next-gen/christina-suriadjaja-langkah-besar-di-bisnis-sewa-properti-online

https://id.linkedin.com/in/christina-suriadjaja

http://www.sindoweekly.com/business/magz/no-37-tahun-vii/langkah-gemilang-christina-bersama-travelio

https://dailysocial.id/post/sewa-properti-pribadi-jadi-fokus-baru-travelio

https://www.thehumanasia.com/en/christina-suriadjaja-travelio/

https://www.travelio.com/

http://marketplus.co.id/2017/06/christina-suriadjaja-travelio-com/



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi