Kevin/Marcus, Duo ‘Minions’ Andalan Indonesia

Sumber: Detik Sport

Mendengar nama Kevin/Marcus, tentu teringat akan berita mereka yang baru saja memenangkan Indonesia Open setelah melawan duo 'Daddies' Ahsan/Hendra.

Siapa sangka jika pasangan ini sendiri sebenarnya terbentuk karena ketidaksengajaan. Kevin/Marcus bukan berasal dari klub yang sama, Kevin berasal dari PB Djarum sedangkan Marcus dari PB Tangkas, tapi akhirnya dipasangkan oleh PBSI sebab pasangan Kevin sebelumnya, Selvanus Geh sedang sakit dan Markis Kido, pasangan Marcus, sering mengeluh sakit pinggang.

Marcus Fernaldi Gideon, atau akrab disapa Sinyo, sudah merintis kariernya sejak usia delapan tahun dan lebih banyak bermain di sektor ganda. Sebelum duet dengan Kevin, ia pernah dipasangkan dengan Markis Kido dan Agripina Pamungkas.

Tapi duetnya belum pernah mendongkrak prestasinya. Selain itu, ia sendiri sempat ingin mundur dari Pelatnas Cipayung di tahun 2013 karena tidak diikutsertakan pada ajang All England.

Sementara Kevin Sanjaya Sukamuljo yang merupakan junior Marcus, bukanlah pilihan para pelatih di PB Djarum sebelumnya selama menghuni asrama PB Djarum. Namun semangatnya untuk ingin memenangkan All England membuatnya tidak putus asa dan terus rajin berlatih untuk meningkatkan performanya di lapangan.

Setelah duet Marcus/Kevin terbentuk di awal tahun 2015, otomatis Kevin masuk Pelatnas Cipayung. Laga debut mereka adalah All England 2015 yang berhasil hingga babak perempat final. Sejak saat itu, mereka mulai mengukir prestasi-prestasi lain dan menjadi pasangan yang paling ditakuti.

Antara lain, medali perak SEA Games 2015, runner-up Chinese Taipei Open 2015, dan juara Chinese Taipei Master 2015. Seorang penggemar bernama Stephanie Zen menjulukinya sebagai ‘Duo Minions’ karena permainan mereka di lapangan yang lincah, gesit, dan memantul kesana kemari seperti tokoh Minions di film Despicable Me.

Dibanding pemain ganda putra lainnya, ukuran Kevin/Marcus juga terhitung tidak jangkung. Selain itu, dalam beberapa turnamen mereka juga kerap menggunakan seragam berwarna kuning cerah seperti tokoh ‘Minion’.

Di tahun 2016, mereka berhasil membawa piala dari Indonesia Master dan Malaysia Master. Tiga gelar Super Series juga berhasil dipersembahkan untuk Merah Putih di India, Australia, dan China. Kemenangan tiga kali Super Series ini, seolah menjadi pintu gerbang mereka berdua untuk semakin memantapkan kekuatan sebagai pemain bulutangkis yang patut diperhitungkan dunia.

Masih haus akan prestasi, di tahun berikutnya mereka berhasil meraih tujuh gelar Super Series di Hong Kong, China, Denmark, Jepang, Korea, Malaysia, dan India sekaligus memecahkan rekor dunia yang sebelumnya dimiliki oleh pasangan asal Korea, Lee Yong-Dae/Yoo Yeon-Seong yang meraih enam gelar Super Series sepanjang 2015.

Mereka juga berhasil memenangkan final World Superseries sekaligus All England untuk pertama kalinya. Karena prestasi mengagumkan inilah, BWF menganugerahkan penghargaan Best Male Players of the Year di tahun 2017.

Tidak ingin berhenti sampai disitu, Kevin/Marcus terus membuktikan konsistensi permainan dan prestasi mereka meskipun tentunya semakin berat karena titel peringkat satu dunia ada di pundak mereka.

Kemenangan di Indonesia Masters, India Open, All England, Indonesia Open, Japan Open, Denmark Open, Fuzhou China Open, dan Hong Kong Open berhasil digenggam, meskipun sayangnya gagal menjadi juara di Kejuaraan Dunia 2018 dan BWF World Tour Finals. Tapi mereka membayar prestasi mereka dengan medali emas ganda putra di Asian Games 2018.

Dari perjuangan dan prestasi yang berhasil mereka tunjukkan, keduanya berhasil meraup poin 104.483 sepanjang 2018 silam dengan total perolehan hadiah yang berhasil dikumpulkan sebesar USD 1.089.206,09, yang lagi-lagi rekor tersebut belum pernah dicapai oleh pasangan ganda putra lain di dunia.

Karena paling tampil banyak di babak final, BWF pun kembali menganugerahkan penghargaan Best Male of the Year seperti tahun 2017 sebelumnya, serta Indonesian Sport Awards di kategori Favorite Male Duo dan Athlete of the Year.

Sudah separuh melangkah di tahun 2019, duo ‘Minion’ kembali menunjukkan taring di lapangan dengan memenangkan laga Malaysia Masters, Indonesia Masters, Indonesia Open dan Japan Open yang berhasil dimenangkan kemarin (28/07) setelah melawan duo ‘Daddies’ Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.

Menduduki peringkat satu dunia selama beberapa tahun, tentu saja tetap memiliki beban tersendiri bagi mereka, apalagi dengan ekspektasi masyarakat yang besar dan lawan mereka di lapangan yang tentu mengenal teknik dan kemampuan bermain mereka di lapangan.

Tapi Kevin dan Marcus sendiri tidak ingin menganggap itu semua sebagai beban besar. Bagi mereka, juara yang diperoleh hanyalah setelah mereka berhasil memenangkan permainan dan naik podium untuk penyerahan piala atau medali. Esok hari mereka bukanlah sang juara lagi.

Prinsip tersebut yang selalu membuat Kevin dan Marcus untuk selalu dalam kondisi waspada dan tidak mudah terlena saat berlatih. Meski jam terbang semakin tinggi, keahlian, kemampuan, dan teknik bermain harus selalu ditingkatkan agar tidak mudah dikalahkan oleh lawan.

Selain itu, mereka juga selalu menjaga stamina agar bisa bermain gesit dan lincah dalam tempo cepat untuk menutupi kekurangan tinggi badan mereka yang umumnya tidak setinggi lawan main mereka di lapangan.

Bagi Kevin/Marcus, mewujudkan mimpi besar untuk menjadi pemain nomor satu dunia mungkin terdengar gila sebelum mereka berhasil mengukir prestasi bersama.

Tapi kegigihan, ketekunan, serta keyakinan mereka untuk bisa berprestasi, membuktikan bahwa mereka yang tadinya bukanlah siapa-siapa, bahkan tidak digadang-gadang untuk menjadi tongkat estafet prestasi bulutangkis, justru mampu tampil gemilang.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi