Jonathan Sudharta Mendobrak Batasan Akses Layanan Kesehatan dengan Halodoc

Sumber: Republika

Tidak semua orang memiliki akses layanan kesehatan yang memadai. Apalagi persebaran dokter di Indonesia belum merata untuk melayani seluruh penduduk Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Di kota besar pun, waktu yang dibutuhkan untuk berobat hingga mendapatkan obat dari resep dokter tidaklah sebentar. Hambatan inilah yang menjadi peluang bagi Jonathan Sudharta, CEO dan founder Halodoc, untuk mendirikan startup di bidang kesehatan.

Jonathan sendiri bukan seorang dokter, tenaga kesehatan, atau apoteker. Lima belas tahun lalu, ia mengawali karier sebagai medical representative, yaitu tenaga yang mempromosikan obat atau alat kesehatan ke dokter. Kala itu, ia sering menunggu dokter hingga pukul 1 atau 2 pagi.

Sambil menunggu dokter itulah ia sering mengobrol dengan para pasien yang juga menunggu dokter. Dari obrolan inilah ia menemukan masalah bahwa sebenarnya antrean untuk konsultasi dengan dokter yang paling banyak memakan waktu. Padahal konsultasinya sendiri tidak sampai satu jam.

Karena ia kenal dan berhubungan baik dengan banyak dokter, banyak pasien yang menghubungi dia untuk menanyakan apakah pasien tersebut harus kembali lagi ke dokter untuk diperiksa, apakah boleh minum obat setengah dosis, atau apakah boleh tidak meminum obat ini dan itu.

Seiring berjalannya waktu, ia yang banyak membantu di perusahaan ayahnya, Mensa Group yang bergerak di bidang farmasi dan alat kesehatan, semakin sering menemui permasalahan itu. Tidak hanya masalah menunggu dokter, tapi menunggu giliran resep obat di apotek juga cukup melelahkan bagi banyak orang.

Di Mensa Group, ia pernah mengembangkan Apotikantar.com untuk layanan online pembelian obat dan linkdokter.com sebagai wadah para dokter untuk saling berbagi informasi seputar kesehatan.

Lima belas tahun kemudian, melihat data bahwa jumlah dokter di Indonesia yang masih terbilang sedikit dan banyak pasien yang masih sulit bertemu dokter, menggerakkan nuraninya untuk membuat perubahan.

Tahun 2015, ia presentasi ke Kementerian Kesehatan mengenai platform yang dikembangkannya, yakni platform yang menghubungkan pasien dengan dokter secara online. Kementerian Kesehatan sempat ragu karena belum pernah ada di Indonesia dan regulasinya belum ada. Tapi karena kemajuan teknologi, sudah saatnya lembaga pemerintah membuka diri dan membangun regulasi yang lebih berorientasi ke masa depan.

April 2016, Halodoc resmi meluncur di pasaran dengan situs dan aplikasi yang bisa diunduh di Google Play Store dan App Store. Dengan tim yang solid dan pengalamannya belasan tahun di industri kesehatan, membuat Halodoc tumbuh melesat bagai roket.

Lima bulan setelah peluncuran resmi, startup ini mendapat suntikan investasi pendanaan seri A sebesar US$ 13 juta dari grup investor yang terdiri dari Clermont Group, Gojek, Blibli, dan NSI Ventures. Pertumbuhannya pun hingga setahun berdiri meningkat lima kali lipat.

Banyak dokter dan pasien yang tergabung di Halodoc untuk memanfaatkan layanan konsultasi online seperti layanan konsultasi tatap muka konvensional ini. Selain konsultasi lewat chatting, pasien bisa berkonsultasi lewat video call jika ada keluhan yang harus ditunjukkan, seperti gejala alergi. Dokter di Halodoc juga akan merujuk pasien ke rumah sakit terdekat dan dokter yang tepat jika diperlukan penangann khusus.

Menariknya, hingga memasuki tahun ketiga, presentase pengguna yang berkonsultasi ke dokter umum sebesar 60 persen dan dokter spesialis sebesar 40 persen dan merata dari berbagai daerah di tanah air, dari Sabang sampai Merauke. Ini menunjukkan bahwa banyak pasien, terutama yang bertempat tinggal di luar kota besar, yang terbantu dengan kehadiran Halodoc.

Halodoc sendiri cukup selektif dalam memilih dokter yang akan bekerja sama. Ada beberapa kualifikasi khusus dan tentunya Surat Izin Praktik (SIP) sebagai tolak ukur bahwa seorang dokter tersebut memang diperbolehkan untuk praktik melayani pasien. Dokter yang tersedia juga ada beragam, mulai dari dokter umum, dokter spesialis anak, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dokter spesialis penyakit dalam, hingga psikolog dengan biaya konsultasi yang relatif terjangkau.

Bila pasien yang berkonsultasi dengan dokter di Halodoc membutuhkan obat yang diresepkan oleh dokter, pasien tinggal membeli melalui apotek yang bekerja sama dengan Halodoc dan nantinya akan diantar ke rumah dengan Gojek.

Efisiensi akses layanan kesehatan inilah yang ingin dicapai oleh Jonathan, agar masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan mematahkan stigma bahwa ke dokter itu mahal atau lama antrenya.

Tahun 2019 ini Halodoc sudah dua kali diguyur pendanaan, yang pertama pada Maret 2019 lalu oleh UOB Venture Management dan sejumlah investor lain sebesar US$ 65 juta, kedua pada Juli 2019 lalu oleh Bill & Melinda Gates Foundation sebesar US$ 22 juta.

Tidak heran jika Halodoc digadang-gadang akan masuk ke dalam jajaran startup unicorn di Indonesia menyusul Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

Dengan pertumbuhan user tahun 2018 lalu yang mencapai 2.500% dan 20.000 dokter yang telah bergabung, Halodoc menambah layanan lain berupa cek laboratorium yang bisa ambil sampel di rumah dan hasil pemeriksaannya akan dikirimkan melalui aplikasi. Halodoc juga telah bekerja sama dengan BPJS dan beberapa asuransi kesehatan swasta agar peserta asuransi bisa mengintegrasikan asuransi mereka dengan layanan kesehatan di Halodoc.

Ketika gempa Lombok beberapa waktu lalu, Halodoc sendiri sangat membantu para pengungsi di sana karena mereka kebingungan setelah menerima banyak bantuan obat tapi tidak tahu untuk apa kegunaannya. Berkat tim CSR Halodoc yang terjun langsung ke sana dan membantu menghubungkan pengungsi dengan dokter dari seluruh Indonesia lewat aplikasi Halodoc, mereka bisa berkonsultasi dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Bagi pria yang dulunya mantan kapten timnas hoki es ini, Halodoc bukanlah murni sebuah bisnis yang berorientasi pada profit, tapi merupakan perusahaan berbasis sosial dengan misi untuk menembus batasan akses layanan kesehatan. Halodoc ingin agar masyarakat tidak perlu risau mengenai layanan kesehatan karena terhalang biaya atau sulitnya akses layanan untuk dijangkau.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi