Inspiratif! Diajeng Lestari Berhasil Membawa Fashion Muslim Indonesia Lewat HijUp

Sumber gambar: kumparan

Bagi sebagian orang, menjadi pegawai kantoran yang bekerja rutin dari pukul 9 hingga 5 dan gaji cukup terasa menjenuhkan. Mereka merasa kurang tertantang karena pekerjaan yang dikerjakan itu-itu saja.

Hal tersebut juga dirasakan oleh Diajeng Lestari, founder HijUp, Islamic fashion e-commerce pertama di dunia. Sebelumnya ia adalah pegawai kantoran. Lulusan ilmu politik Universitas Indonesia pernah menjadi konsultan di GTZ, lembaga pemerintahan Jerman yang bekerja sama dengan Indonesia di bidang pelayanan publik selama 9 bulan.

Setelahnya ia bekerja sebagai market researcher di MARS selama 1,5 tahun. Disana ia banyak belajar tentang selera pasar, membuat brand, penempatan brand, potensi yang ada di Indonesia. Meski cukup betah bekerja sebagai market researcher, ia merasa jenuh dan ingin memiliki usaha sendiri supaya lebih impactful.

Selepas keluar dari pekerjaannya, ia berdiskusi dengan sang suami, Ahmad Zaky, pendiri Bukalapak, untuk berbisnis sendiri. Beruntungnya, sang suami mendukung penuh keinginan Ajeng untuk berwirausaha.

Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan bahwa sudah sejak lama ia memimpikan untuk memiliki sebuah bisnis sendiri karena sang ibu dulunya juga merupakan seorang pebisnis. Ajeng kecil seringkali diajak ibunya mengunjungi berbagai bazaar untuk kepentingan bisnis ibunya.

Semasa kuliah, ia pernah mengikuti mata kuliah management of change yang diampu oleh Rhenald Kasali. Dari sana ia menyadari jika ingin menjadi agen perubahan di masyarakat, maka harus mulai bergerak untuk melakukan hal kecil dulu.

Dari kelas tersebut ia mendapat pelajaran berharga bahwa belajar adalah proses kehidupan, jadi bukan hanya bangku kuliah yang menjadi parameternya.

Putri dari pasangan H. Heru Soekotjo dan Endang Nurul Kusumawardhani ini sudah sejak lama menyukai bidang visual. Ketika ada seorang teman yang merupakan anggota Hijab Community dan membuat fashion line sendiri, ia bertanya apa yang dibutuhkan supaya bisnisnya lebih berkembang lagi.

Temannya tersebut mengungkapkan jika dia membutuhkan sistem. Ajeng pun melakukan survei singkat ke beberapa calon klien. Ternyata ia mendapatkan jawaban yang serupa.

Para pemilik bisnis fashion line ini membutuhkan sistem supaya kegiatan bisnisnya lebih teratur, terutama di sisi operasional seperti kapan harus stok produk, beli bahan, membuat desain baru, dan mengetahui jumlah pasti pasar yang potensial.

Selain itu, pada masa itu ia merasa sebagai seorang muslimah cukup sulit untuk bisa tampil modis karena fesyen muslim yang ada di pasaran kurang begitu beragam. Dia merasa akan lebih baik jika ada toko yang khusus menyediakan segala kebutuhan fesyen muslim.

Awalnya yang ingin membuat sebuah software, akhirnya ia memutuskan untuk membuat sebuah platform yang serupa mal online yang bisa digunakan oleh banyak orang. HijUp.com pun terbentuk pada Agustus 2011.

Urusan IT sendiri diback-up terlebih dahulu oleh perusahaan suaminya yang telah lebih dulu berkecimpung di dunia IT dengan perusahaan Bukalapak.

Mencari rekanan tenant untuk berjualan di tempat miliknya bukanlah hal yang mudah. Berulang kali ia diremehkan dan ditolak oleh beberapa pihak karena konsep bisnisnya yang dianggap tidak menguntungkan, nama perusahaan yang aneh, hingga hasil foto yang jelek.

Tapi semangatnya tidak luntur untuk menjadikan HijUp sebagai katalisator untuk pertumbuhan brand-brand Islamic fashion di Indonesia.

Ajeng terus menerus mencoba hingga ada 14 tenant yang mau bekerja sama dengannya. Bisnisnya bermodalkan ruangan berukuran 3 x 3 meter dan dua orang pegawai, admin komputer dan admin gudang.

Nahasnya, admin komputer yang direkrutnya hanya bekerja satu hari. Di hari pertama HijUp mulai beroperasi, ia memutuskan untuk resign. Seketika Ajeng terkejut dan panik.

Bisa dibayangkan di hari pertama bisnis beroperasi, tapi adminnya tidak ada. Ia sempat menangis di hari itu, tapi berusaha untuk menguatkan diri. Setelahnya ia mengerjakan urusan administrasi sendiri.

Tidak hanya administrasi, mulai dari hal sepele seperti membeli gantungan baju, menjadi stylist ketika pemotretan, mengkoordinasikan pemotretan, hingga dealing dengan tenant HijUp dilakukannya sendiri. Kasarnya menjadi CEO yang juga merangkap office boy (OB).

Dengan mengusung konsep mall online, HijUp menyediakan berbagai macam produk terbaik desainer fesyen muslim Indonesia. Produk yang disediakan antara lain busana muslim, kerudung, mukena, tas, sepatu, kosmetik, dan produk perawatan kulit.

Target pasar HijUp sendiri adalah muslimah muda di Indonesia yang berusia 20-35 tahun yang kebanyakan berprofesi sebagai karyawan, karena tuntutan untuk grooming yang tinggi.

Pemasaran yang masif dilakukan secara online melalui media sosial dan video tutorial hijab di Youtube terbukti cukup ampuh mendatangkan pengunjung website dan mendongkrak penjualan. Penghargaan 100.000 subscribers dari YouTube pun berhasil diperoleh HijUp.

Keunikan HijUp ini sendiri adalah membuat foto produk dan memberikan informasi produk yang sangat detail. Sehingga walaupun tidak langsung melihat barangnya, konsumen bisa merasakan lewat website. Inilah yang dinamakan experience offline to online oleh Ajeng.

Tak sedikit berbagai desainer dari luar negeri menawarkan diri untuk menjadi salah satu tenant di HijUp. Tapi prinsip Ajeng untuk memajukan industri fesyen dalam negeri membuatnya berani menolak tegas permintaan tersebut.

Penerima penghargaan The Iconic Women 2018 ini juga sudah pernah menulis satu buku berjudul Hijupreneur di tahun 2013 yang menceritakan tentang mengapa dan bagaimana Ajeng membangun dan membesarkan HijUp.

Sebagai seorang entrepreneur, baginya yang terpenting adalah people dan value di dalam perusahaan tersebut. Orang-orang di perusahaan harus orang-orang yang tepat, tidak hanya kemampuan yang mumpuni, melainkan attitude dan passion harus sejalan dengan nilai perusahaan.

Value perusahaan juga sangat penting untuk membangun citra di kalangan internal dan eksternal perusahaan, seperti yang selama ini diterapkan oleh HijUp dengan rangkaian value T.H.E – Trusted, Helpful, Empower.

Kini HijUp karya anak bangsa, telah mengglobal dengan mengakuisisi marketplace modest fashion terbesar di London yakni Haute-Elan untuk ekspansi bisnis di benua biru.

 

           

Sumber:         

https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20180212135433-25-4123/kisah-sukses-pendiri-hijup-diajeng-lestari

https://www.linkedin.com/in/diajeng-lestari-94496a46/

https://kumparan.com/@kumparanstyle/bincang-karier-diajeng-lestari-ceo-hijup-27431110790538203

https://www.liputan6.com/bisnis/read/2989335/bukan-uang-ini-yang-diimpikan-diajeng-lestari-saat-bangun-hijup

https://swa.co.id/swa/headline/diajeng-lestari-ingin-menjadi-wirausahawan-yang-impactfull

https://www.dream.co.id/orbit/hijupcom-dan-geliat-fesyen-hijab-indonesia-yang-mendunia-160407k.html

https://economy.okezone.com/read/2015/06/26/320/1172003/jenuh-jadi-pegawai-diajeng-lestari-sukses-di-bisnis-hijup

https://swa.co.id/youngster-inc/youngsterinc-startup/diajeng-lestari-hijup-com-e-commerce-fashion-muslim-yang-mendunia

https://id.wikipedia.org/wiki/Hijup

https://internasional.kompas.com/read/2015/07/25/102000131/Startup.Busana.Muslim.Indonesia.Dapat.Dana.7.Digit

https://dailysocial.id/post/diajeng-lestari

https://www.viva.co.id/gaya-hidup/inspirasi-unik/1027972-sembilan-wanita-ini-sabet-penghargaan-the-iconic-women-2018

https://dailysocial.id/post/hijup-akuisisi-haute-elan


Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
0 komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi