Ikuti Kata Hati, Marshall Utoyo Sukses Bangun E-Commerce Furnitur Fabelio

Sumber: Fabelio

Memutuskan untuk pindah jalur karier mengikuti kata hati tentu tidak mudah bagi sebagian orang. Tapi Co-founder Fabelio Marshall Tegar Utoyo ini adalah salah satu orang yang berani ambil risiko untuk hal tersebut.

Sudah sejak lama ia tertarik pada dunia desain. Tapi setelah lulus SMA ia memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur yang membuatnya berakhir kuliah di jurusan keuangan Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (Institut Teknologi Bandung).

Setelah lulus kuliah sarjana, pria kelahiran 1990 lalu ini sempat melanjutkan kuliah S2 di negeri kanguru di jurusan keuangan. Kemudian ia sempat mengaplikasikan ilmunya semasa kuliah dengan bekerja di bagian accounting. Merasa bukan seperti jati dirinya, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti kata hati dengan banting setir ke dunia desain.

Banting setir berarti memulai dari nol. Ia mengambil short course desain di Jerman sebagai bekalnya untuk bisa berkarier di dunia desain. Setalah itu ia mendirikan studio FASA bersama dua orang temannya yang sama-sama berprofesi sebagai desainer. FASA sempat memenangkan beberapa penghargaan, membuktikan bawah inilah sesungguhnya tempatnya berada. Orang tua Marshall sendiri sempat tidak percaya jika anaknya beneran bisa desain.

Sembari bekerja di FASA, ia dan rekannya mendirikan Conclave Co-working Space di tahun 2012 yang awalnya dipicu oleh kesulita mereka sebagai mahasiswa dalam mencari tempat ideal dan nyaman untuk mengerjakan tugas kuliah. Tak hanya itu, kebutuhan individu terhadap ruang bekerja yang nyaman menjadi peluang bisnis bagi keduanya.

Sebelum membangun Conclave, mereka berkeliling ke beberapa kota seperti Hong Kong, Sydney, Singapore, Seoul, dan Tokyo untuk mendapatkan referensi suasana co-working space disana, cara kerjanya, dan seperti apa rupanya. Setelah mendapatkan investor, akhirnya Conclave resmi dibuka untuk umum di Jakarta Selatan.

Co-working space ini uniknya dibuka 24 jam, tersedia perpustakaan, dan ada auditorium berkapasitas 120 orang. Konsep desainnya sendiri merujuk pada Kota New York yang dibangun secara nyaman dan efisien. Hingga kini, Conclave sudah membuka tiga co-working space di Jakarta.

Dari Conclave, Marshall rupanya bertemu dengan Christian Sutardi yang menjadi partner bisnisnya di Fabelio. Fabelio sendiri terbentuk karena ketertarikan mereka pada dunia e-commerce yang sedang berkembang pesat di tanah air. Ditambah, Christian dan rekan lainnya, Khrisnan Menon, telah berpengalaman di dunia e-commerce dan marketing online karena pernah bekerja di Lazada, FoodPanda, dan beberapa e-commerce lain.

Sementara itu, Marshall sudah tidak asing dengan dunia furnitur karena ia sudah terjun di sana dan memiliki perusahaan sendiri yang bergerak di bidang yang masih berkaitan. Jadilah, Marshall dan kedua rekannya tersebut menjadi tiga serangkai yang klop karena mampu saling melengkapi.

Mereka ingin membangun e-commerce sendiri tapi ingin produk yang tidak biasa, bukan produk yang sudah umum seperti marketplace, fashion, atau travel. Akhirnya tercetuslah ide untuk jualan produk furnitur lewat online yang belum banyak digarap di tanah air.

Indonesia sebenarnya dikenal memiliki banyak penghasil furnitur dari berbagai daerah dengan khas ukiran daerah masing-masing. Seperti Jepara yang terkenal sebagai penghasil furnitur dengan ukiran Jepara, atau Bali yang juga terkenal dengan ukiran Balinya.

Namun selama ini, masih banyak kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat dalam memilih furnitur terbaik dan berkualitas untuk melengkapi hunian mereka. Seringkali pilihan model furnitur dan pilihan harga yang terbatas, serta pilihan penggunaan material pada furnitur menjadi masalah yang sering dihadapi oleh konsumen, terutama jika tidak tinggal di kota besar.

Bisnis furnitur online sendiri belum banyak dijamah oleh para founder startup. Pemain di dunia furnitur dari dalam negeri sendiri masih didominasi oleh Informa atau pengrajin daerah, juga mulai diramaikan oleh IKEA asal Swedia yang terkenal akan model furnitur Skandinavian yang bergaya minimalis.

Marshall bersama rekan-rekannya ingin mendobrak pasar tersebut melalui Fabelio. Ia menjadi tim desain furnitur sementara dua rekannya fokus membangun model bisnis Fabelio.

Untuk produksi furnitur, mereka bekerja sama dengan ribuan pemasok dari berbagai daerah hingga saat ini. Masing-masing pemasok ini punya spesialisasi masing-masing. Ada yang memproduksi furnitur dari kayu jati, mahoni, dan lainnya. Ada juga yang spesialisasi memproduksi perabotan sofa, kursi, kasur, dan lainnya.

Dalam setiap desain furniturnya, Fabelio selalu mengusung gaya minimalis yang dipadu dengan Skandinavian dengan sentuhan cita rasa Indonesia, yang menjadi daya pikatnya. Yang membuat startup yang didirikan di pertengahan 2015 ini lebih mudah meraih pasar adalah harganya yang tentu saja lebih miring daripada produk dari luar negeri.

Untuk meluncurkan produk baru, Marshall dan timnya tidak ingin sembarangan. Mereka menggunakan data Google Analytics untuk melakukan tracking dan riset di internet untuk mencari insight yang tepat untuk model, bahan, dan warna. Websitenya sendiri dirancang mudah digunakan oleh siapa saja demi kenyamanan konsumen.

Untuk pemasarannya sendiri mereka memanfaatkan iklan internet, mulai dari Google Adwords hingga iklan di Facebook dan Instagram. Untuk menanamkan kepercayaan konsumen, mereka juga memiliki showroom tetap dan beberapa tour showroom ke beberapa kota besar di Indonesia yang bisa dikunjungi oleh konsumen.

Dalam kurun waktu tiga tahun sejak berdiri, Fabelio sendiri sudah tumbuh 20 kali lipat dan mendapatkan tiga kali pendanaan. Seiring dengan semakin banyaknya tantangan yang dihadapi, ia juga meluncurkan fasilitas Home by Fabelio di tahun 2018, berupa jasa desain interior gratis dan pengiriman produk gratis untuk membantu konsumen yang masih belum tahu ingin menata ruangannya seperti apa. Hal ini menjadi nilai lebih bagi konsumen juga menjawab masalah konsumen yang masih memiliki gambaran desain seperti apa yang diinginkan untuk ruangan mereka.

Mendirikan bisnis sendiri bukan hanya sekedar eksis atau mengikuti arus dimana banyak anak muda zaman sekarang yang merintis bisnis sendiri. Bagi peraih penghargaan 30 Under 30 Forbes Asia 2018 ini, mendirikan bisnis berarti memikul tanggung jawab lebih besar akan kelangsungan bisnis dan karyawan yang bekerja untuk bisnis kita juga menggantungkan hidup mereka di bisnis kita.

Dari kisah inspiratif Marshall sendiri kita bisa belajar meskipun ia sendiri tidak sejak kuliah menekuni passion­-nya, bukan berarti ilmu yang didapatkan sia-sia. Ilmu apapun yang pernah dipelajari tentu akan selalu berguna ke depannya meski tidak memberikan impact secara langsung pada karier.

Selain itu, membangun relasi pertemanan juga sangat penting karena baginya sendiri, modal utamanya selama ia membangun beberapa bisnis adalah teman. Memiliki teman yang sevisi misi, berbeda keahlian, dan tidak melulu berorientasi uang adalah aset berharganya selama jatuh bangun membangun startup.

Terlepas dari semua itu, penting untuk selalu fokus mengerjakan segala urusan dan mengerjakannya dengan hati. Semoga terinspirasi, ya!



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi