IKAT Indonesia, Membumikan Tenun Ikat ke Generasi Milenial

Melestarikan budaya tidak bisa hanya sekedar melayangkan protes di media sosial, seperti ketika batik diklaim oleh Malaysia sebelum diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya pada 2009 silam. 

Melihat keresahan tersebut, Didiet Maulana merasa terpanggil sebagai generasi muda untuk berkontribusi melestarikan budaya Indonesia.  Langkah awal yang dipilihnya adalah dengan membuat desain pakaian berbahan dasar tenun ikat modern. 

Selain batik, Indonesia memiliki keragaman pakaian khas daerah seperti ulos Batak, tenun ikat, kebaya, dsb. yang masih dianggap kuno oleh anak muda.  Menurutnya, bila anak muda Indonesia enggan memakai batik di kesehariannya tentu lama-lama akan punah.

Meninggalkan pekerjaannya sebagai arsitek, tak mengurungkan langkah Didiet untuk meramaikan industri mode Indonesia.  Meski sempat ditentang oleh keluarga, ia mantap untuk terjun ke dunia fesyen karena ia memiliki kecintaan pada seni dan teknik.  Ia memiliki ketertarikan untuk menggambar baju sejak kecil meski pada akhirnya ia memilih untuk menempuh pendidikan arsitektur.

Pemilihan tenun ikat sebagai bahan dasar dalam desain pakaiannya bukanlah tanpa alasan.  Sedari kecil ia telah diperkenalkan oleh sang nenek beberapa kain khas Indonesia dan cara merawat kain-kain tersebut.  Pada masa itu, meski beberapa desainer senior telah menggunakan kain Indonesia dalam desainnya, belum banyak yang desainnya menyasar khusus untuk anak muda. 

Didiet merasa ini merupakan kesempatan bagus untuk memulai bisnis tersebut.  Ia sendiri sejak bekerja sebagai marketing communication di sebuah retail pakaian ternama asal luar negeri, telah bercita-cita untuk memiliki lini fesyen sendiri yang dapat mendesain dan mempromosikan sendiri pakainnya.

Pengalamannya bekerja di media sebagai tenant artist relation selama 4 tahun dan marketing communication selama 7 tahun tetap saja bagi Didiet belum cukup menjadi bekalnya untuk memulai bisnis.  Ia merasakan hal tersebut ketika membangun biro arsitek sendiri yang hanya bertahan selama sembilan bulan karena perhitungan bisnis yang kurang matang. 

Baca juga: Dea Valencia, dari Batik Kuno Gandeng Kaum Difabel

                  Niluh Djelantik - Biografi

                  Anne Avantie - Biografi

Ketika memutuskan untuk berbisnis pakaian berbahan dasar tenun ikat, ia benar-benar memperhitungkan biaya dan resikonya untuk berbisnis tersebut.  Selama tiga bulan ia mempersiapkan desain pakaian yang diberi nama label IKAT Indonesia by Didiet Maulana yang berdiri pada akhir tahun 2011.

Begitu merk label ini diluncurkan, diakui oleh Didiet bahwa tidak semulus yang dibayangkan prosesnya.  Ia perlu membangun awareness dari masyarakat yang belum terbiasa mengenakan pakaian yang terdapat unsur tenun ikat didalamnya.

Selain itu dari sisi produksi, ia harus membangun relasi dengan berbagai pengrajin tenun dari berbagai daerah di Indonesia untuk memasok kebutuhan kain tenun ikat untuk desain pakaiannya. 

Hal tersebut juga tidaklah mudah. Ia harus bisa menjalin relasi yang baik dengan masyarakat setempat dan menghidupkan perekonomian dengan melibat generasi muda untuk menjadi pengrajin tenun ikat. 

Tak hanya itu saja.  Didiet juga harus memastikan bahwa kain tenun yang dihasilkan oleh pengrajin kualitasnya terjaga.  Motif tenun ikat pun dipilih yang sesuai dengan visi, misi, dan filosofi desain yang terus dijaga oleh Didiet.

Di tahun yang sama, selain meluncurkan label retail IKAT Indonesia by Didiet Maulana, ia juga meluncurkan label Svarna by IKAT Indonesia yang khusus merancang baju pengantin. Tetap mengusung etnik tradisional, Svarna mengedepankan rancangan pakaian pengantin tradisional yang diberi sentuhan modern.  Sehingga tetap cantik dan tidak terlihat kuno. Ada pula lini Sarupa by IKAT Indonesia yang khusus untuk permintaan seragam.

Pada September 2013, Didiet dipercaya oleh pemerintah untuk membuat rancangan desain pakaian yang digunakan oleh para menteri keuangan perwakilan dari beberapa negara yang menghadiri pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Bali. 

Tiga tahun setelahnya, tepatnya pada 2016, ia kembali menorehkan prestasi internasional. Ia dipercaya untuk merancang tas bersama TUMI (retail terbesar di Eropa) yang dijadikan hadiah untuk acara Grammy Awards 2016.

Tujuh tahun menjadi desainer di bidang mode bersama IKAT Indonesia membuat Didiet terus mengeksplorasi bakat dan kreatifitasnya di bidang fesyen.  Beberapa kali ia mengikuti pagelaran busana seperti Jakarta Fashion Week dan Indonesia Fashion Week, dan mendapatkan apresiasi positif dari pencinta fesyen. 

Ia juga telah menelurkan lini fesyen tenun ikat khusus laki-laki, dan sedang bersiap untuk mengeluarkan lini fesyen tenun ikat khusus anak-anak karena cukup tingginya permintaan dari pelanggan untuk adanya baju tenun ikat bagi anak-anak agar bisa kompak dengan orang tuanya.

Bulan Mei silam, Didiet bekerja sama dengan gerai kopi asal Negeri Paman Sam, Starbucks, untuk mengeluarkan desain merchandise edisi khusus memperingati ulang tahun Starbucks ke-16 di Indonesia. Koleksi merchandise ini mencakup tumbler, tas, cup sleeve, pouch, hingga boneka panda (Starbucks Barista) menggunakan motif cepuk dari Bali.

Demam tenun ikat ternyata tidak hanya merambah fashionista, tapi sudah merambah ke korporat. Baru-baru ini BCA bekerja sama dengan Ikat Indonesia untuk merancang seragam kantor menggunakan tenun ikat. Sebanyak 45.000 meter kain tenun berhasil disulap menjadi 80.000 seragam untuk seluruh pegawai BCA di seluruh Indonesia nantinya.

Dilansir dari Kompas, Didiet menuturkan membutuhkan waktu dua tahun untuk riset hingga berhasil menghasilkan seragam dengan tenun ikat yang motifnya menggabungkan motif khas BCA dan Indonesia.

 

Sumber:

https://www.voaindonesia.com/a/tas-desainer-didiet-maulana-jadi-hadiah-grammy-awards-2016/3198465.html

https://wolipop.detik.com/read/2012/09/10/123106/2013341/233/didiet-maulana-dari-arsitek-jadi-perancang-busana-ikat-indonesia

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150205103404-277-29812/antara-didiet-maulana-gaya-nenek-dan-kain-tradisional

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/didiet-maulana-sang-maestro-tenun-kondang?page=3

https://cantik.tempo.co/read/909547/soal-mode-didiet-maulana-jangan-sedikit-sedikit-tengok-ke-barat

http://www.sisternet.co.id/read/279863-didiet-maulana-entrepreneur-don-t-forget-to-have-fun

https://lifestyle.kompas.com/read/2018/07/10/100000620/didiet-maulana-sulap-45.000-meter-kain-tenun-jadi-seragam-bca

http://wartakota.tribunnews.com/2018/05/15/starbucks-indonesia-kolaborasi-dengan-desainer-didiet-maulana?page=2

0 komentar
Berikan komentar anda
Anda harus Login untuk komentar