I Nyoman Wenten, Maestro Gamelan dan Tari Bali di Negerinya Trump

Sumber: Ted Soqui Photography

Indonesia itu tanah surga, katanya. Surga kekayaan alam dan kekayaan budaya. Hal itu yang memotivasi I Nyoman Wenten, seniman dan pendidik gamelan asal Bali, untuk mempromosikan gamelan sebagai salah satu kebudayaan khas Indonesia hingga ke mancanegara.

Sudah berpuluh-puluh Wenten melanglang buana mengajar dan menampilkan gamelan. Setelah Livi Zheng membuat film Bali: Beats of Paradise dan menjadi kontroversi, bisa dibilang pengetahuan masyarakat tentang I Nyoman Wenten jadi meningkat.

Cikal bakal lelaki kelahiran 15 Juni 1945 ke dunia seni berawal dari setelah ditinggal oleh sang ibu selama-lamanya saat usianya masih belia. Menari menjadi salah satu cara untuk menghibur diri di tengah duka yang dirasakannya. Suara gamelan Bali yang mengiringi setiap gerakan tubuhnya.

Melihat Wenten senang menari dan menabuh gamelan sejak kecil, kakeknya, Pekak Dalang Sading seorang dalang, mengajarinya dan memperkenalkannya kepada guru-guru penari ternama di Pulau Dewata tersebut.

Anak tukang ukir ini suatu hari diajak oleh sang kakek ke Pura Dalem Kediri. Disana ia diajak pentas menari, padahal ia belum latihan sama sekali. Namun ia dipaksa memakai pakaian tari baris dan dirias. Seketika ia bisa menari dengan lincah mengikuti irama musik yang didendangkan.

Beranjak remaja, ia melanjutkan SMA di Kokar (Konservatori Karawitan) Bali—sekarang bernama SMK Negeri 3 Sukawati—yang berlokasi di Jalan Ratna, Denpasar. Sekolah ini khusus mengajarkan beragam ilmu, seperti seni karawitan yang ditekuni oleh Wenten. Banyak alumni jebolan sekolah ini yang menjadi seniman atau pengajar seni. Guru-guru yang mengajar pun terkenal sebagai seniman Bali yang mumpuni seperti Oka Sading, Raka Saba, Wayan Rendi, I Gusti Nyoman Panji, Agung Breset, dan lainnya.

Seni karawitan yang dikuasainya ini berhasil membawanya keliling dunia. Dalam misi kesenian kepresidenan di era Ir. Soekarno, ia terpilih untuk menari keliling dunia untuk poros Asia. China, Korea Utara, Thailand, Kamboja, Jepang adalah negara-negara yang sudah disinggahinya untuk pertukaran budaya dan mengenalkan Indonesia di mata dunia.

Perjalanannya tersebut mampu membuka pikirannya akan budaya dan kesenian Indonesia. Hal itu yang memantapkannya untuk memilih ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia)—sekarang Institut Seni Indonesia Yogyakarta sebagai tempat melanjutkan studi.

Selama belajar di ASTI, ia juga menyambi mengajar tari Bali di luar negeri. Ia mengajar di sekolah milik Walt Disney, CalArts, California. Selain itu ia sempat mengajar selama delapan minggu di San Fransisco. Ia jgua menghimpun kelompok mahasiswa tersebut untuk pentas dan belajar lagi di Bali. Mahasiswa tersebut tinggal di Ubud, di rumah milik Walter Spies, pelukis asal Jerman.

Waktu itu, seorang Mpu Karawitan yang kini menjadi mertuanya, Pak Cokro, bersama-sama dengannya mengajar tari di Ubud. Kesuksesannya mengajar di Ubud membuatnya kembali diundang untuk mengajar di Amerika oleh Prof. Dr. Robert Brown, tokoh di Amerika yang cinta budaya Indonesia.

Statusnya yang masih mahasiswa kala itu membuatnya mengajukan diri untuk bisa belajar di negeri Paman Sam tersebut. Akhirnya ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah pascasarjana di CalArts sekaligus mengajar gamelan.

Kepopulerannya sebagai seniman gamelan mulai terdengar di Amrerika. Pementasannya selalu ramai ditonton oleh warga Amerika, termasuk tokoh-tokoh besar di sana. Kelas-kelas mengajarnya pun sangat populer.

Bahkan mahasiswa yang tertarik untuk belajar di kelasnya mencapai ratusan orang, padahal kuota mahasiswa yang bisa mengikuti kelas Karawitan Bali tersebut hanya 27 orang saja.

Sesekali waktu ia menyempatkan diri untuk pulang ke Bali, untuk berkiprah seni bersama teman seangkatannya. Ia sempat kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan S2 di tahun 1974 dan disarankan oleh IB Mantra, mantan Gubernur Bali, untuk berkarya di tanah air.

Namun rupanya suratan takdirnya berkata lain. ia dipanggil lagi untuk tawaran mengajar di Amerika. Dan ia pun kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S3. Akhirnya ia kembali lagi ke Amerika untuk mengajar sekaligus kuliah S3 Ethnomusicology di UCLA (University of California, Los Angeles) pada tahun 1989.

Center for World Music, San Jose University, University of Wisconsin, University of Washington, San Fransisco State University, UCLA, UCSD, San Diego State University, dan CalArts adalah sederet universitas yang pernah menjadi tempatnya mengajar tari dan musik tradisional Indonesia.

Selain mengajar, suami dari Nanik Wenten ini juga telah banyak berkolaborasi dengan sejumlah musisi dan komposer ternama Hollywood, seperti Morton Subotnick, Elaine Barkin, Robert Kyr, George Lewis, Adam Rudolf, Dr. L. Subramaniam, dan Bill Alves. Juga beberapa penari tersohor seperti Eko Supriyanto, S. Maridi, B. Suharto, Sardono W. Kusumo, serta penata artistik dan koreografer Spirit Dance, Marion Scott.

Wenten juga pernah melakukan tur Eropa, Asia, Australia, Amerika Utara dan Selatan untuk memberikan kuliah umum mengenai tari dan musik tradisional Indonesia sekaligus menjadi penampil. Bahkan ia pernah memproduksi CD rekaman musik gamelan yang dirilis oleh CMP Records, Jerman.

Baru-baru ini, ia berkolaborasi dengan Linda Sohl-Donnell, penata artistik dan koreografer untuk Rhapsody in Taps; perusahaan yang menampilkan pertunjukan bersama 25 anggota CalArts’ Balinese gamelan Burat Wangi. Juga dengan Judith Hill untuk lagu Queen of the Hill (2018) yang ditayangkan dalam film dokumenter Bali: Beats of Paradise (2018) yang disutradarai oleh Livi Zheng.

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi