Hari Darmawan: Dari Bisnis Retail ke Bisnis Sosial

Sumber: Tribunnews Bogor

Maret 2018 silam, Indonesia dikejutkan dengan kabar duka dari salah satu sosok entrepreneur terkemuka yakni Hari Darmawan, pendiri Matahari Department Store, Hari-Hari Pasar Swalayan, dan Taman Wisata Matahari. 

Dari tangan dingin beliau selama 60 tahun menjadi seorang entrepreneur, masyarakat Indonesia bisa menikmati pengalaman berbelanja di department store yang memiliki beragam produk dengan harga terjangkau.  Nyatanya untuk mencapai kesuksesan tersebut, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Berawal dari sebuah toko yang dibeli dari mertuanya di kawasan Pasar Baru, ia dan istrinya, Anna Janti, mengelola toko yang menjual pakaian impor dan pakaian yang dibuat sendiri oleh istrinya pada tahun 1958. 

Pada saat itu, toko yang diberi nama “Mickey Mouse” ini bersaing ketat dengan Toko De Zon yang letaknya bersebelahan dan memiliki konsumen yang berasal dari kalangan menengah ke atas. 

Hingga suatu saat di tahun 1968, Toko De Zon mengalami masa pailit, beliau memanfaatkan momentum tersebut dengan membeli Toko De Z­on dan memperluas lokasi toko yang telah ada.

Dengan dibelinya toko tersebut, lantas tak membuat masalah berhenti sampai disitu. Beliau kembali harus bekerja keras untuk mengembangkan toko tersebut dan memunculkan inovasi agar tetap bertahan di tengah persaingan dengan toko lain di Kawasan Pasar Baru. 

Akhirnya beliau berinovasi untuk merubah nama tokonya menjadi Toko Matahari yang menjual berbagai macam kebutuhan sandang yang disusun dalam beberapa bagian terpisah dalam bentuk counter.

Sejak berdiri, Toko Matahari dikenal sebagai tempat belanja yang modern dan nyaman bagi orang-orang Jakarta. Hari pun mulai menambahkan beberapa produk lain di tokonya seperti mainan, sepatu, tas, kosmetik, aksesoris, dll.

Atas keberhasilannya, ia semakin mantap mengembangkan bisnis dengan membuka Sinar Matahari di Bogor di tahun 1980.  Di era 1980-1990-an, Matahari menjadi salah satu jaringan ritel serba ada terbesar di Indonesia yang agresif membuka cabang di beberapa kota di luar Jakarta diikuti gencarnya pembangunan mal. Era ini bisa dibilang sebagai masa kejayaan matahari karena tidak adanya saingan. 

Hari Darmawan juga pernah dipercaya untuk menjabat menjadi wakil ketua Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) atas kesuksesannya dalam mengembangkan Matahari Department Store. 

Kesuksesan Matahari Department Store lainnya adalah pertama kalinya jaringan ritel tersebut yang berhasil melantai di bursa saham pada tahun 1989.

Di tahun 1991, Hari berekspansi dengan membuka Supermarket Super Bazaar yang kemudian berganti nama menjadi Matahari Supermarket pada tahun 2000. Supermarket ini fokus menjual barang pokok kebutuhan sehari-hari selain kebutuhan sandang.

Baca juga: Dari Salon Express Hingga ke Penghargaan Forbes

                Yasa Singgih: Mendulang Bisnis dari The Power of Kepepet

                Niluh Djelantik - Biografi

Krisis moneter yang menghantam Indonesia sempat mengguncang pebisnis retail, tak terkecuali bisnis milik Hari Darmawan ini. Di tahun 1997, beliau memutuskan untuk menjual Matahari Department Store kepada Lippo Group karena masalah keuangan yang melanda ritel tersebut akibat krisis moneter 1997-1998.

Selain itu, dikutip dari buku Filosofi Bisnis Matahari yang ditulis oleh Kristin Samah dan Sigit Triyono, istri Hari, Anna Janti didiagnosis mengalami tiga komplikasi penyakit yang menyangkut gejala psikopatik, gangguan saraf, dan pengeroposan tulang sehingga membutuhkan pendampingan intensif.

Bersamaan pula dengan putra bungsunya yang menderita epilepsi. Hal ini yang tidak memungkinkannya untuk mengurus perusahaan secara penuh di Jakarta.

Menjual ritel tersebut ke Lippo Group dinilai win-win solution karena ia bisa mendampingi keluarga dan seluruh aset bisnis Matahari Department Store terselamatkan dari ancaman PHK.

Setelah menjual Matahari, beliau masih tetap aktif dalam dunia bisnis dengan mengelola bisnis retail pasar swalayan bernama “Hari-Hari Pasar Swalayan” di Jakarta dan Bekasi yang telah berdiri sejak 1989.

Di tahun 2007, beliau kembali membuka bisnis berbasis sociopreneurship yakni Taman Wisata Matahari di kawasan Puncak, Bogor. Hal ini diilhami oleh film yang berjudul “The Diary of Anne Frank” yang mengisahkan kehidupan seorang gadis Belanda di zaman pendudukan Jerman di Belanda ketika perang dunia kedua. 

Gadis tersebut menulis dalam buku hariannya yang di kemudian hari menjadi sangat popular yaitu ‘’People will not become poor by giving”.

Taman Wisata Matahari sendiri dibangun pada tahun 2007 diatas tanah seluas 16,5 hektar yang ditujukan bagi masyarakat luas, utamanya segmen menengah kebawah. Sehingga kawasan wisata tersebut menawarkan harga yang sangat terjangkau namun memiliki fasilitas lengkap dan berkualitas. 

Tempat wisata rekreasi dan edukasi ini dalam pembangunannya pun hanya melibatkan penduduk dan masyarakat daerah sekitar untuk memaksimalkan pembangunan ekonomi daerah tersebut.

 

Sumber:

https://www.cnbcindonesia.com/news/20180310165719-4-6844/antara-hari-darmawan-matahari-dan-lippo

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3909879/hari-darmawan-jual-matahari-demi-cinta-pada-istri-dan-anak

https://news.detik.com/berita/3909858/hari-darmawan-besarkan-mickey-mouse-dan-de-zon-jadi-matahari?_ga=2.58664170.1782653277.1532320289-1217668146.1531876276

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/11/160900826/mengenang-kisah-sukses-hari-darmawan-pendiri-matahari-department-store

 

0 komentar
Berikan komentar anda
Anda harus Login untuk komentar