Griselda Sastrawinata: Konsisten dan Persisten Mengantarkan Saya ke Disney

Sumber: Kinibisa

Sudah lebih dari dua pekan tayang di bioskop, film Frozen 2 masih betah bertengger di puncak Box Office Amerika Serikat. Di bioskop Indonesia sendiri, film ini masih banyak diputar di layar-layar bioskop mengingat animo yang cukup tinggi dari para pencinta Disney yang sudah lama menanti lanjutan dari sekuel pertamanya, Frozen, yang sudah tayang lebih dahulu tiga tahun silam.

Selain sudah masuk ke dalam puncak Box Office sejak beberapa hari setelah perilisannya, ternyata ada yang spesial dari film ini. Ada keterlibatan Griselda Sastrawinata sebagai visual development artist yang merancang kostum tokoh Anna dalam film Frozen 2. Bisa dibilang, Griselda juga adalah satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di Disney.

Impiannya untuk bekerja di Disney sudah tumbuh sejak ia masih belia. Ia sendiri sudah tergila-gila dengan film Disney seperti Sleeping Beauty, The Little Mermaid, dan The Lady and the Tramp hingga nonton berulang kali dan hapal adegan demi adegan yang ditayangkan di film-film tersebut. Karena itulah ia ingin bisa bekerja di Disney dan ikut terlibat dalam pembuatan filmnya.

Tapi Griselda sadar, impiannya untuk ke Disney adalah impian yang sangat jauh sehingga mungkin akan sangat sulit dicapainya. Karena itu ia mulai membiasakan diri menggambar agar keterampilan dan kemampuannya semakin baik ke depannya.

Ketika ia duduk di kelas dua SMA, ia memutuskan untuk pindah ke negeri Paman Sam dan menyelesaikan sekolah di sana. Hampir memasuki masa kuliah, kemampuan menggambarnya semakin terasah dan banyak teman sekolahnya yang menyarankan agar ia lebih baik menjadi seniman dan kuliah jurusan seni.

Sebagaimana anak Asia pada umumnya, meskipun berbakat di bidang seni, masih ada stereotip yang melekat bahwa jika ingin sukses lebih baik bekerja sebagai dokter atau pengusaha.

Griselda pun sempat mengubur mimpinya untuk bekerja di Disney dan memilih kuliah jurusan akuntansi supaya lebih mudah mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah. Ia masih tidak percaya jika hobi menggambarnya juga bisa menghasilkan uang.

Ketika SMA, ia mengikuti program magang menjadi sekretaris di American Express. Tapi selama magang, ia malah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menggambar dan tidak menikmati pekerjaan tersebut.

Sejak saat situ ia mantap memilih untuk mengejar passion di bidang seni dan kuliah di ArtCenter College of Design yang terkenal sebagai sekolah para desainer hebat di AS. Masa-masa kuliahnya sendiri bukanlah yang penuh dengan leha-leha.

Jarak rumah dan kampus yang sangat jauh membuatnya harus berangkat pagi buta. “Saya berangkat jam 5 pagi dan menyetir sendirian. Sampai di kampus sekitar jam 6 pagi lalu tertidur menunggu kelas pertama yang dimulai pukul 8 pagi,” ujar Griselda.

Tidak cukup sampai disitu. Ia pun berusaha untuk bisa memperoleh hasil terbaik yang sebenarnya tidak mudah. Di samping kerja keras belajar dan mengerjakan tugas kuliah sepanjang minggu, ia masih menyempatkan diri untuk kegiatan yang menyenangkan sebagai bentuk refreshing. Istilah gaul anak zaman sekarang itu prinsipnya work hard, play hard.

Sepanjang masa kuliahnya, mata kuliah desain produk adalah mata kuliah yang paling bermanfaat baginya untuk melakoni profesinya yang bekerja di dunia entertainment. Sebab mata kuliah tersebut menuntut mahasiswa membuat gambar yang struktural dan memiliki tujuan. Contohnya, menggambar bunga bukan karena dia melihat sebuah bunga.

Kerja kerasnya selama kuliah membuahkan hasil yang membuatnya diganjar penghargaan valedictorian. Penghargaan ini diberikan bagi lulusan sebuah universitas dengan nilai terbaik. Penghargaan ini pula yang semakin memotivasinya untuk bisa berkarier di dunia seni animasi. Bahwa menjadi seniman juga bisa sukses dan menjadi sumber kehidupan, tidak hanya sebatas hobi.

Lulus di tahun 2005, ia ingin segera bekerja di studio film animasi. Di acara Career Day ia sempat bertemu dengan Disney dan langsung menyerahkan lamaran kerja yang baru direspon beberapa bulan kemudian.

Tapi selama 10 tahun sejak ia menyerahkan lamaran kerja, sayangnya ia masih belum juga berjodoh dengan Disney karena tawaran datang ketika ia sudah teken kontrak dengan perusahaan lain. Sebaliknya, ketika ia sedang menganggur, Disney justru sedang tidak membuka lowongan.

Perusahaan pertama yang tempatnya bekerja adalah Integrated Device Technology, Inc. (IDT) yang bergerak di bidang teknologi komunikasi. Tapi karena terburu-buru ingin segera bekerja dan terlanjut sudah terikat kontrak, dia pun harus melewatkan tawaran dari studio film animasi ternama seperti Dreamworks dan Pixar.

Setahun di IDT, ia akhirnya berhasil meraih mimpinya bekerja di studio film animasi. Sejak 2007, ia tercatat sebagai visual development artist  dan character designer di Dreamworks, studio film animasi yang memproduksi film-film animasi ternama seperti Madagascar, Kung Fu Panda, dan Shrek.

Pekerjaannya sebagai visual development artist adalah bertugas untuk mengembangkan cerita dalam skrip film ke dalam bentuk visual. Nantinya akan ada tim artistik yang menerangkan setiap karakter dan latar ceritanya. Ia sendiri yang akan mengilustrasikan tokoh-tokoh dalam film ke dalam bentuk animasi visual sesuai dengan karakteristik yang tercantum dalam skrip.

Selama bekerja di Dreamworks, ia banyak terlibat dalam proyek film animasi besar seperti Shrek Forever After, Puss in Boots, How to Train Your Dragon 2, The Croods, hingga Home. Meskipun belum bisa menembus Disney saat itu, ia tetap semangat mengasah kemampuan dan keterampilan serta memberikan yang terbaik di setiap proyek, demi menyempurnakan portofolio pekerjaannya. Selain bekerja di studio film animasi, ia juga pernah mengajar di kampusnya dulu untuk mata kuliah visual communication dan product design.

Masih memendam impian untuk bekerja di Disney, Griselda sendiri rajin menghubungi pihak Disney untuk menanyakan ketersediaan lowongan setiap dua atau tiga tahun sekali. Tapi sayangnya saat itu belum ada lowongan yang terbuka dan cocok untuknya hingga sepuluh tahun berlalu.

Tahun 2015, impian masa kecilnya berhasil terwujud ketika ia mendapat tawaran untuk merancang latar belakang dan ilustrasi tapa dalam film Moana (2016). Pengalamannya semakin bertambah ketika melihat cara kerja Disney yang mengutamakan riset mendalam demi merepresentasikan cerita yang tidak asal-asalan. Selain itu, ia dituntut harus bisa memenuhi tenggat waktu pengerjaan agar produksi film secara keseluruhan tidak terlambat.

Di film Frozen 2 ini, Griselda terlibat untuk merancang desain Anna dan sejumlah tokoh pendukung lainnya dengan Desainer Produksi Micahel Giaimo. Sebagai desainer, ia harus memperhatikan setiap detail dari karakteristik tokoh sehingga pakaian yang dikenakan juga cocok dengan karakternya.

Hidup memang mengajarkan kita untuk harus realistis dalam menentukan setiap pilihan. Tapi memenuhi impian masa kecil juga tidak salahnya jika memang ada kesempatan. Karena sebuah mimpi yang terwujud adalah buah dari konsistensi kita dalam mempersiapkan diri untuk meraih mimpi kita. Semoga menginspirasi dan jangan lelah untuk bermimpi!

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi