Gina S. Noer: Skenario Berkualitas untuk Karya Berkualitas

Sumber: Tribun Timur

Dua Garis Biru yang sempat menuai kontroversi, saat ini masih menjadi perbincangan hangat oleh sejumlah warganet mengenai pentingnya menyampaikan pendidikan seks di dalam keluarga antara orang tua dan anak-anak. Film ini sendiri juga spesial bagi Gina S. Noer, sebab merupakan debut pertamanya sebagai sutradara.

Gina S. Noer bukanlah nama baru di dunia perfilman Indonesia. Kariernya dimulai sebagai penulis naskah, setelah memenangkan Close Up Movie Competition 2004 melalui film pendek Ladies Room. Sebelumnya ia sempat menduduki bangku produser untuk film Maya (2003) yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko.

Alumnus Broadcasting Universitas Indonesia ini kemudian mengawali karier profesionalnya sebagai penulis naskah melalui film independen Foto, Kotak, dan Jendela (2006) yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko.

Dari tahun ke tahun, perjalanannya sebagai penulis naskah terus berlanjut. Namanya mulai melambung dan dikenal oleh publik setelah menulis naskah salah satu film Box Office Indonesia, Ayat-Ayat Cinta, bersama Salman Aristo, yang kini menjadi suaminya. Ayat-Ayat Cinta bisa dibilang menjadi tonggak kesuksesannya menulis naskah film setelah sukses meraup 3,5 juta penonton.

Perempuan Berkalung Sorban bisa dibilang menjadi salah satu naskah filmnya yang mengundang kontroversi di kalangan umat Islam seputar isu perempuan dan pesantren. Tapi film yang dibintangi oleh Revalina S. Temat dan Oka Antara tersebut, berhasil mengantarkannya pada nomonasi Skenario Adaptasi Terbaik di Festival Film Indonesia 2009.

Selanjutnya, ia kembali berkolaborasi bersama sang suami untuk menulis naskah Hari Untuk Amanda yang mengantarkannya kembali pada nominasi Skenario Terbaik di Festival Film Indonesia 2010.

Wanita kelahiran Balikpapan 34 tahun lalu ini, akhirnya berhasil membawa pulang piala citra di tahun 2013 atas karya naskah filmnya Habibie & Ainun (2012) bersama Ifan Adriansyah Ismail yang mendapat predikat Penulis Skenario Film Terbaik. Film ini sendiri berhasil membukukan jumlah penonton 4.488.999 penonton.

Prestasinya tidak berhenti disitu. Film-film papan atas lainnya yang lahir dari tangan dinginnya, sebut saja Rudy Habibie (2016), Posesif (2017), Kulari ke Pantai (2018), Keluarga Cemara (2019), hingga yang masih hangat dan tayang di bioskop saat ini, Dua Garis Biru.

Gina merasa film itu dapat membentuk hidup seseorang. Pengaruh keluarganya yang menggemari film, ternyata berpengaruh padanya yang akhirnya gemar dengan berbagai tontonan film dan bacaan. Dari situ pula, lahir kebiasaannya yang mencintai dunia tulis-menulis.

Film pendek Maya yang digarapnya sewaktu SMA bersama Angga Dwimas Sasongko sendiri hanya bermodalkan handycam pinjaman. Setelah itu, untuk mengedit film tersebut, mereka pergi ke Mangga Dua karena tidak memiliki komputer. Hingga kemudian mengikutkan filmnya ke kompetisi film pendek, yang akhirnya membuat mereka tidak berhenti berkarya hingga saat ini.

Bagi penulis buku Rudy Habibie (2013) ini sendiri, menulis skenario sangat berbeda dengan menulis buku fiksi ataupun non fiksi. Menulis skenario tidak bisa berdiri sendiri seperti menulis buku atau artikel, tetapi harus melibatkan kolaborasi dengan pihak lain, seperti produser dan sutradara, untuk mengembangkan cerita.

Selain itu, untuk menciptakan skenario yang matang, ia tidak pernah mau terburu-buru. Minimal enam bulan dihabiskannya untuk merumuskan ide cerita, melakukan riset, menyusun skenario, memperkuat karakter, hingga menulis skenario. Maka dari itu, pengembangan skenario bisa dibilang bagi Gina adalah investasi paling murah bagi produser jika ingin menghasilkan film berkualitas.

Bila menilik film-film yang sudah digarap pemilik nama lengkap Retna Ginatri S. Noer selama belasan tahun, yang menjadi ciri khasnya adalah riset cerita yang mendalam, tipe penceritaan yang jelas ke penonton, serta kecenderungannya untuk mengangkat tema keluarga dalam filmnya. Tak jarang ia juga mengangkat isu-isu sensitif, seperti Perempuan Berkalung Sorban (2009) dan Dua Garis Biru (2019).

Apalagi di Indonesia sendiri, pekerja film masih didominasi oleh kaum Adam, sehingga produser sendiri seringkali masih kesulitan mencari naskah film dari sudut pandang perempuan. Hal tersebut yang termasuk menguntungkan Gina untuk terus melahirkan skenario-skenario bertema perempuan ataupun keluarga, sebagai salah satu bentuk edukasinya kepada masyarakat.

Kiprahnya tidak ingin berhenti sampai disitu. Di tahun 2009, bersama Amelya Oktavia dan Fitria Muthmainnah membuat sebuah workshop penulisan bernama Plotpoint Writings. Workshop ini menyediakan beragam kelas menulis, mulai dari skenario film, novel, kritik film, artikel, puisi, dan lainnya.

Lalu di tahun 2012, mereka membuka divisi penerbitan baru, PlotPoint Publishing, penerbit buku yang menyasar remaja dan dewasa muda dan bagian dari kelompok penerbit Bentang Pustaka.

Menghasilkan karya berkualitas memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pada akhirnya ketika sebuah karya bisa berguna bagi orang lain, hal tersebut yang menjadi kepuasan tersendiri dan membuat kita untuk bekerja lebih baik lagi.

 

 

 

Sumber:

https://www.gramedia.com/blog/gina-s-noer-dua-garis-biru/#gref

https://entrepreneur.bisnis.com/read/20160714/265/564861/gina-s-noer-skenario-skenario-dan-skenario

https://id.wikipedia.org/wiki/Ginatri_S._Noer

https://qubicle.id/film-tv/cinetalk-serba-serbi-skenario-ala-gina-s-noer

https://www.femina.co.id/profile/gina-s-noer-proses-panjang-untuk-menulis-naskah-film-yang-ditonton-jutaan-orang           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi