Gibran Huzaifah dari eFishery ke Penghargaan Forbes Asia

Sumber: thejakartapost

The power of kepepet. Prinsip itulah yang menjadi kekuatan Gibran Huzaifah, founder eFishery, untuk terjun di dunia usaha sewaktu masih menempuh kuliah di tahun kedua.

Saat itu, keluarganya sedang ditimpa masalah keuangan yang membuat mereka hanya mampu membiayai kuliahnya, tapi tidak bisa mengirim uang untuk hidup sehari-hari.

Dari situasi tersebut, akhirnya ia mulai memutar otak untuk bisa menghasilkan uang sendiri demi menyambung hidup di Kota Kembang. Mengerjakan soal tutorial online dari luar negeri, mengikuti berbagai kompetisi mahasiswa, memasok sayuran ke sejumlah restoran di Bandung, hingga ternak cacing yang membuatnya diusir dari kontrakan pernah dilakoninya.

Dari berbagai bisnis yang dilakoninya tersebut, ia memperoleh uang dan juga pengalaman berharga. Ia lebih jeli mencium peluang bisnis dan lihai menjalin relasi, sekaligus pernah merasakan kerugian puluhan juta akibat gagal berbisnis.

Suatu ketika, ia mengikuti kuliah praktik lapangan yang memberinya kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan petani, peternak, maupun pengusaha perikanan karena ia berasal dari jurusan Biologi. Ia ditawari seorang dosen untuk budidaya lele karena dosennya memperkirakan lele dan patin akan booming seperti di negara lain.

Tanpa perlu berpikir lama, ia pun menyetujui tawaran dosennya untuk budidaya lele. Pulang kuliah, ia pun segera berburu kolam lele di kawasan Bale Endah, Bandung. Untuk permulaan, ia menyewa kolam lele ukuran 5 x 10m seharga Rp 400.000,00 per tahun. Ia memulai secara otodidak.

Beruntungnya, meskipun pertama kali memulai budidaya lele, ia sudah berhasil memanen lele. Tapi ia kurang puas karena margin yang diperolehnya kurang memuaskan. Gibran mulai mencari akal dan memutuskan untuk mengolah hasil panen berikutnya menjadi makanan jadi.

Masih modal otodidak, ia mencoba resep olahan daging lele untuk dijadikan nuget, katsu, maupun abon dengan meminjam dapur di rumah kos teman. Untuk tes pasar, ia menitipkan makanan olahan tersebut di kantin kampus. Setelah mendapat masukan rasa yang pas dan enak, ia memberanikan diri membuka booth sendiri untuk menjual makan olahan tersebut.

Di usaha kuliner, bisnisnya berkembang cepat. Kurang dari setahun, ia mampu membuka tiga cabang Olele, gerai olahan lelenya. Budidaya lelenya pun bertambah menjadi delapan kolam.

Bisnisnya di dunia perikanan membuatnya semakin aktif untuk mengembangkan bisnis dan memperluas jaringan dengan sesama pengusaha perikanan, guna untuk bertukar pengalaman dan masalah seputar perikanan.

Dari apa yang dialaminya sendiri dan para pengusaha perikanan lain, ternyata ada permasalahan utama dalam budidaya lele, yakni pemberian pakan. Dalam budidaya lele, pakan ini bisa memakan alokasi biaya mencapai 70-80 persen.

Pemberian pakan ternak yang dilakukan secara manual dianggapnya kurang efektif karena tidak ada ukuran pasti pemberian pakan dan kadangkala pakan diambil oleh karyawan untuk dijual lagi.

Melihat permasalahan tersebut, ia menemukan ide untuk menciptakan perangkat berbasis teknologi yang mampu mengontrol pemberian pakan ikan. Sebelumnya ia menawari beberapa peternak untuk melihat antusiasme konsumen.

Setelah mendapat kepastian pembelian, ia segera melakukan riset untuk alat tersebut. Ia bahkan menjual usaha kulinernya untuk membiayai riset alat tersebut dan benar-benar fokus menciptakan perangkat elektronik ini.

Ia memesan prototype alat ini pada produsen alat elektronik di Bandung. Kebetulan, dia mengikuti kompetisi Mandiri Young Technopreneur yang diadakan oleh Bank Mandiri dan berhasil memenangkan kompetisi itu, sehingga ia berhasil mendapatkan kucuran dana tambahan untuk mengembangkan risetnya.

Di awal tahun 2014, peraih 30 Under 30 Forbes Asia 2017 ini akhirnya meluncurkan eFishery, perangkat elektronik berbasis internet untuk efisiensi dalam pemberian pakan ikan.

Melalui alat ini, peternak juga bisa mengendalikan stok pakan dari jarak jauh menggunakan smartphone yang terhubung dengan feeder, sehingga mampu mereduksi biaya pakan hingga 20 persen.

eFishery juga memiliki sensor untuk mengukur nafsu makan ikan sehingga air kolam tidak cepat keruh oleh pemberian pakan yang berlebihan. Tentunya, perkembangan ikan jauh lebih optimal.

Strategi penjualan yang digunakannya dengan menawarkan eFishery ke perusahaan besar, dengan harapan peternak kecil nantinya akan mengikuti bila perusahaan besar berhasil ditawarkan.

Bersama dua orang temannya, M. Ihsan Akhirulsyah dan Chrisna Aditya, ia memasarkan eFishery ke peternak-peternak ikan yang membuahkan ratusan unit pesanan, meski harga yang dibanderol tidak murah, yakni Rp 7-9 juta per unit.

Walau demikian, para peternak yang telah menggunakan alat tersebut merasakan betul manfaat teknologi di alat tersebut untuk meningkatkan omzet mereka.

Untuk meningkatkan inovasi pada perangkat tersebut, Gibran pernah mengikuti beberapa kompetisi di skala internasional seperti Get In The Ring International 2014 di Rotterdam, Belanda yang membuatnya berhasil meraup pendanaan berupa investasi sebesar € 1.000.000 atau setara Rp 15 miliar.

Ia juga menambah pundi-pundi eFishery melalui pendanaan Pra-seri A tahun 2015 dari AquaSpark dan Ideosource dengan nominal yang tidak disebutkan. Dari pendanaan ini, mereka ekspansi ke berbagai daerah dan juga memperkuat software untuk kontrol pakan ternak ikan.

Bisnisnya telah bertumbuh mencapai 261 kali lipat dalam dua tahun terakhir dan telah mendapat cuan dari biaya langganan alat eFishery serta software kontrol pakan ternak ikan tersebut. Selanjutnya eFishery memperoleh Pendanaan seri A di tahun 2018 sebesar US$ 4 juga (sekitar Rp 59 miliar) dari beberapa lembaga pendanaan.

Layanan eFishery saat ini telah menjangkau puluhan daerah yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia. Bahkan mereka juga mulai menjajaki pasar internasional dengan menjalankan proyek di Bangladesh, Thailand, dan Vietnam.

Selain itu, Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Berat, juga menggandeng eFishery untuk bermitra untuk mendukung program “Kampung Perikanan Digital” di Desa Losarang, Kabupaten Indramayu.

Ide briliannya untuk menciptakan eFishery ini telah berhasil membawanya memperoleh sejumlah penghargaan, seperti Ernst and Young Entrepreneur of the Year 2018: Innovation Category, Disrupt 100 Tall Ventures 2016, dan Best of the Best Young Entrepreneur Indonesia 2013 dari Menteri UMKM.    

 

 

Sumber:

https://dailysocial.id/post/efishery-berencana-luncurkan-tiga-produk-baru-tahun-ini

https://dailysocial.id/post/efishery-raup-dana-seri-a-senilai-58-miliar-rupiah-berencana-ekspansi-ke-negara-asia-tahun-depan

https://id.techinasia.com/efishery-pendanaan-seri-a

https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/4283/Startup+Asal+Indonesia+Juarai+Kompetisi+Startup+Dunia+di+Rotterdam/0/sorotan_media

https://money.kompas.com/read/2014/12/20/224700926/Gibran.E-Fishery.dan.Lele?page=all

https://id.techinasia.com/kisah-sukses-gibran-efishery

https://id.linkedin.com/in/gibran-huzaifah-6358a04a

https://peluangusaha.kontan.co.id/news/kisah-gibran-chuzaefah-membangun-e-fishery

https://id.techinasia.com/efishery-pendanaan-seri-a

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi