Garin Nugroho dan Mendobrak Normalitas

Sumber: Wartakota - Tribunnews.com

Garin Nugroho dikenal sebagai sutradara yang kerap menghasilkan film yang cukup kontroversial dan mengundang perdebatan. Salah satunya adalah Kucumbu Tubuh Indahku (2019) yang memantik kontroversi dari Pemerintah Daerah dan FPI (Front Pembela Islam), serta petisi pemboikotan karena memuat unsur LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) bahkan sebelum filmnya diputar di bioskop.

Namun uniknya, film ini justru dipilih mewakili Indonesia untuk berlaga dalam 92nd Oscars International Feature Film Award 2020 bersama Ave Maryam (2019) dan 27 Steps of May (2019).

Perjalanan Garin sebagai sutradara kawakan di tanah air bukan terjadi dalam semalam. Sejak kecil ia dikenal sebagai seorang soliter—senang beraktivitas sendirian karena hobinya membaca buku.

Perhatiannya sendiri sangat mudah teralihkan oleh sesuatu yang dianggapnya menarik. Ia bahkan sangat sering meninggalkan sepedanya karena lupa bahwa ia membawa sepedanya.

Ayahnya yang bekerja di Kantor Pos ini memiliki usaha persewaan buku. Hal tersebut yang membuat keluarganya gemar membaca. Terlebih lagi ia yang akhirnya juga suka menulis, namun ia berhenti menulis karena merasa sang ayah yang terlalu kritis.

Masa remajanya di SMA dihabiskannya untuk mengasah jiwa seninya. Anak keempat dari tujuh bersaudara ini pernah mencoba jadi sutradara, penulis naskah, pemain teater, dan ketoprak. Ia juga pernah membuat karikatur untuk majalah Humor Astaga.

Ia akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta demi kuliah pendidikan film di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang berhasil diselesaikannya di tahun 1985.

Rupanya masih tidak puas menuntut ilmu. Ia kembali ke bangku kuliah dengan belajar hukum di Universitas Indonesia (UI). Di sela-sela waktu luangnya inilah ia mulai membuat film dokumenter dan film pendek sebagai cikal bakal kariernya di dunia perfilman.

Pria asli Yogyakarta ini pernah mendirikan LSM SET (Sains, Estetika, dan Teknologi) di tahun 1987 untuk membuat bahasa yang baru, menciptakan spirit penciptaan, dan menciptakan komunitas. Riri Riza adalah salah satu sutradara yang lahir dari LSM ini.

Selain itu, ia pernah aktif di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF). Setelah komunitasnya terbentuk, proyek iklan atau film dari pemerintah, kedutaan, serta lembaga donor mulai berdatangan.

Debut film pertamanya adalah Cinta dalam Sepotong Roti (1990) yang langsung melambungkan namanya sebagai sutradara. Film ini sangat sederhana dengan sisi manis dan puitisnya yang ikonik di masa itu.

Film ini memenangkan empat penghargaan di Festifal Film Indonesia 1991: tata sinematografi terbaik, tata artistik terbaik, penyuntingan terbaik, dan cerita asli terbaik. Juga masuk ke dalam nominasi Film Terbaik di FFI tahun itu. Ia sendiri terpilih menjadi “Best Young Director” di Asia Pacific Film Festival 1992 pada film ini.

Hampir sepanjang tahun ia memproduksi film. Air & Romi (1991), Surat untuk Bidadari (1992), Bulan Tertusuk Ilalang (1994). Daun di Atas Bantal (1997), My Family, My Films, and My Nation (1998), Dongeng Kancil untuk Kemerdekaan (1999), dan Puisi Tak Terkuburkan (1999) menjadi karya-karyanya sepanjang tahun ’90-an.

Ia sendiri juga meraih penghargaan di kancah internasional. Seperti Bulan Tertusuk Ilalang dengan judul lain …and the Moond Dances yang meraih penghargaan di Berlin International Film Festival 1996. Bulan Tertusuk Ilalang yang memenangi Sutradara Terbaik di Festival Tiga Benua, Nantes, Prancis. Juga penghargaan khusus juri di Tokyo International Film Festival 1998 untuk Daun di Atas Bantal.

Lewat film-filmnya, Garin juga banyak belajar mengenai sejarah, antropologi, sosiologi, dan kebudayaan untuk mendalami pembuatan filmnya agar terlihat alami dan tidak dibuat-buat. Kelebihan inilah yang menjadikan Garin sebagai salah satu sutradara yang menghasilkan beragam karya dari berbagai sudut pandang berbeda.

Sepanjang tahun 2000’an, sutradara yang berusia 58 tahun ini terus aktif meramaikan perfilman Indonesia. Disamping itu, dia juga sempat menggarap video klip January Christy, Titi DJ, Grup Musik Krakatau, Katon Bagaskara, Paquita Widjaya, Edo Kondologit, dan Gong 2000. Salah satu karyanya adalah Negeri di Atas Awan yang dinyanyikan Katon Bagaskara yang berhasil mendapat Trofi Visia di final Video Musik Indonesia Periode II 1994/1995.

Setelah kematian ibunya di tahun 2005, ia terinspirasi untuk membuat film bertema budaya Jawa. Ia kemudian diundang oleh Pemerintah Austria untuk membuat film untuk perayaan 250th kelahiran Mozart. Akhrinya lahirlah film Opera Jawa (2006) yang terinspirasi dari tokoh Ramayana dalam cerita Mahabharata.  Film ini memenangkan kategori Penulis Skenario Cerita Adaptasi Terbaik di FFI 2006.

Sineas senior yang senang berkebun dan peduli dengan isu lingkungan hidup, pernah membuat film yang bertema lingkungan Under the Tree  (2008) yang masuk dalam nominasi Penyutradaraan Terbaik di FFI 2008.

Soegija (2012) adalah film biopik sejarah tentang perjalanan hidup seorang Uskup bernama Soegijapranata di Jawa pada tahun 1940-1950. Film ini cukup menimbulkan kontroversi karena ada sebagian pihak yang menganggap sebagai bentuk Kristenisasi dan dapat mempengaruhi iman seseorang jika menontonnya. Tapi berhasil meraih dua penghargaan: Sutradara Terbaik dan Film Terbaik dalam Festival Film Kine Klub 2012.

Setelah Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2014), Aach… Aku Jatuh Cinta! (2015), dan Mooncake Story (2017), Garin kembali lagi tahun ini dengan membawa film Kucumbu Tubuh Indahku yang mengangkat kisah penari Lengger asal Banyumas. Lengger ini sendiri adalah kesenian yang ditarikan oleh pria yang berdandan ala perempuan. Kehadiran yang sudah lama hadir di Banyumas ini pernah tercatat dalam Serat Centhini yang keluar di tahun 1814.

Selain memproduksi film, ia juga telah menulis delapan buku yang tentu saja tidak jauh-jauh dari dunia film yang sudah mendarah daging di dalam dirinya. 

Antara lain, Kekuasaan dan Hiburan (1995), Rindu Kami Pada-Mu (2004), Opera Sabun SBY: Televisi dan Komunikasi Politik (2004), Seni Merayu Massa (2005), Kisah dari Aceh (2005), Membuka Mata Tertutup: Ragam Tafsir Film "Mata Tertutup" (2012), serta Krisis dan Paradoks Film Indonesia (2015).

Hingga saat ini sudah ada lebih dari 20 film yang dihasilkan oleh sineas yang pernah maju dalam Pilgub Jawa Tengah 2013 dan Pilwali Yogyakarta 2017.

Namun dari semua filmnya, memang tidak semuanya laku keras yang mampu menggaet jutaan penonton di pasaran lantaran tidak semua filmnya diminati oleh pencinta film tanah air, meskipun banyak diputar di luar negeri.

Bagi Garin sendiri, ia tidak pernah masalah melihat filmnya yang mendapat tanggapan biasa saja dari publik. Toh, film-filmnya memiliki pasar khusus untuk pencinta film yang menyukai genre film khas.

Setiap orang memiliki seleranya sendiri terhadap suatu produk atau karya yang akhirnya menghasilkan segmentasi yang harus dikenal baik si produsen itu sendiri. Hal ini yang membuat Garin tetap percaya diri dan eksis di dunia perfilman tanah air sebagai sineas senior yang berani mengeksplor keberagaman cerita dan melawan kontroversi di setiap filmnya.

Memang tidak mudah untuk berhadapan dengan pihak yang melawan untuk memboikot karyanya. Tapi di balik setiap karya yang dianggap buruk bagi mayoritas, tentu ada nilai seni yang tidak ternilai harganya



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi