Financial Planner Ligwina Hananto, Perempuan Multijob dan Multitalenta

Sumber: Youthmanual

Kerja bertahun-tahun tapi aset dan tabungan tidak ikut gendut? Mungkin Anda butuh seorang ahli perencana keuangan atau financial planner seperti pendiri QM (Quantum Magna) Financial Ligwina Hananto.

Berawal dari cita-citanya sejak kecil yang ingin memiliki perusahaan yang mengelola uang orang lain, siapa sangka jika impiannya tersebut mampu terwujud lewat QM Financial yang sudah didirikannya sejak 2003 lalu.

Lulus dari Curtin University, Australia, Ligwina kembali ke tanah air dengan bekerja sebagai Customer Service di HSBC (The Hong Kong and Shanghai Banking Corporation Limited) Bandung. Bekerja sebagai Customer Service membuatnya banyak memahami berbagai karakteristik nasabah dan bagaimana menangani nasabah.

Ia mundur dari HSBC karena menikah dengan sang suami, Doni Hananto, yang saat itu sama-sama pegawai HSBC. Aturan perusahaan yang tidak memperbolehkan suami-istri bekerja di satu perusahaan. Kemudian, ia masuk perusahaan periklanan sebagai media planner. Di sini, ia banyak belajar mengenai cara pengaturan uang klien yang ingin beriklan.

Ketika hamil, suaminya memintanya untuk berhenti bekerja agar fokus pada kehamilan. Meski berat hati, ia pun menyetujuinya. Setelah melahirkan, ia tidak betah menjadi ibu rumah tangga yang pengangguran. Ada sisi batinnya yang bergejolak untuk menginginkan sesuatu yang lebih dari itu.

Suaminya memberi lampu hijau kepada Wina yang ingin bekerja lagi, asalkan ia benar-benar menyukai pekerjaannya dan bisa mengatur pekerjaannya tersebut. Berbagai usaha pun dilakoni tapi selalu gagal. Hingga terbesit satu perkejaan di otaknya: menjadi financial planner.

Ide tersebut muncul ketika ia sedang menghitung prospek keuangan keluarga kecilnya yang ternyata amburadul. Contohnya ketika di tahun 2001, saldo tabungan keluarganya tersisa Rp 119.200 padahal ia dan suami aktif bekerja dan gaji selalu meningkat. Belum ada tanggungan anak.

Masalah yang terjadi pada dirinya sendiri ini semakin meneguhkan dirinya untuk menjadi perencana keuangan. Selain menyelesaikan masalah sendiri, ada peluang untuk dijadikan sebagai sumber penghasilan.

Atas dukungan suami, ia melanjutkan studi manajemen investasi ke IPMI Business School. Selain di perkuliahan, ia juga menimba ilmu dengan ikut training untuk mengasah kemampuannya.

Untuk memantapkan kemampuannya sebagai financial planner, ia mengambil sertifikasi Financial Planning Standards Board, Certified Wealth Manager Association, dan International Association of Registered Financial Consultants.

Lulus studi master dan memegang tiga sertifikasi, ia lebih percaya diri untuk menawarkan jasanya melalui SMS kepada 100 orang teman-temannya. Dari 100 sms yang dikirimnya, empat orang membalas, dan satu orang akhirnya menjadi klien perdananya untuk debut kariernya sebagai perencana keuangan.

Klien pertama tersebut adalah Arief Winarto, bassist Ten2Five. Berlanjut pada suaminya sendiri. Baginya mencari klien baru sulit didapat. Sepanjang tahun 2003-2005, ia hanya memegang enam klien. Di tahun 2006, jumlah kliennya naik jadi 13 orang.

Sadar bahwa bisnisnya masih belum ada perubahan yang signifikan, ia pun gencar berpromosi. Salah satunya dengan mengisi acara di stasiun radio Hard Rock FM tentang perencanaan keuangan sembari mempromosikan bisnisnya QM Financial.

Ligwina yang memang gaya bicaranya lugas, jujur, dan ceplas-ceplos, perlahan tapi pasti, membuat para pendengar Hard Rock mulai banyak yang menyukai acaranya. Ia tidak segan-segan untuk menilai produk keuangan secara blak-blakan, baik buruk atau bagus, karena tidak ingin menutup-nutupi.

Bisnisnya mulai menunjukkan titik terang dengan semakin bertambah banyaknya klien yang memercayakan jasanya kepadanya. Menjadi perencana keuangan, menurut ibu dua anak ini harus benar-benar memegang kepercayaan klien yang sudah dipercayakan karena bisnis ini sangat bergantung pada kepercayaan.

Namun siapa sangka, di tahun 2009, saat bisnisnya sedang berkembang dan di atas kertas terlihat sehat dan menguntungkan, perusahaannya malah sebenarnya tidak memiliki sepeserpun uang tunai. Demi menyelamatkan perusahaan, ia menggadaikan mobil pribadi dan meminjam uang suaminya.

Ia segera berpikir bahwa pasti ada yang salah dengan cara kerjanya. Untuk itu ia berkonsultasi dengan seorang business coach untuk mendapatkan saran. Rupanya selama ini ia terlalu fokus pada tujuan yang ingin dicapai dan strateginya, tapi melupakan cara untuk membawa perusahaan ke level yang lebih baik lagi.

Sebagai CEO, mantan pengajar di Binus Business School ini pun mengubah pola pikirnya untuk membawa perusahaan ke level yang baik, dan tentunya menghasilkan pundi-pundi uang dengan strategi yang tokcer. Jika dulu tujuannya untuk mendapatkan klien, kini tujuannya adalah membuka wawasan finansial orang yang ditemuinya.

Memang cara tersebut tidak berdampak pada performa penjualan. Meski demikian, mereka yang tahu QM Financial, akan merekomendasikan jasa QM Financial kepada orang lain, yang berarti menambah daftar calon klien prospektif bagi perusahaannya.

Penerima penghargaan Advance Leading 50 Woman 2011 ini sendiri pernah harus berpisah dengan rekan bisnisnya karena perbedaan business values di tahun 2010 yang membuatnya untuk membeli saham rekannya di QM Financial.

Menurutnya, jika wanita menjadi seorang pemimpin, ia memiliki kelebihan intuisi yang lebih kuat dibanding laki-laki. Hal tersebut yang seharusnya tidak serta merta diabaikan begitu saja.

Kini, 16 tahun membangun QM Financial, Wina tidak hanya menyediakan jasa perencanaan keuangan saja kepada kliennya, tetapi juga aktif menyediakan kelas berbayar secara online dan kelas keuangan di perusahaan ke berbagai kota di Indonesia. Ia juga aktif sebagai social media influencer yang rutin membagikan ilmu keuangan di media sosial Twitter kepada para followers­­-nya.

Selain aktif sebagai CEO, Wina juga tidak ragu menjajal profesi lainnya yang sama sekali tidak berkaitan dengan keuangan. Yakni sebagai pelari maraton yang saban pekan latihan lari jarak jauh dan setahun sekali mengikuti kompetisi maraton untuk mengampanyekan olahraga lari dan gaya hidup sehat.

Ada pula profesi sebagai stand up comedian atau komika yang sudah dilakoninya sejak enam tahun lalu. Keterampilannya berkomedi terasah dari kebiasaannya membawakan materi keuangan yang serius. Agar lebih ringan dan mudah dipahami oleh orang awam, ia selalu membawakannya dengan gaya yang fun dan disisipi humor lucu.

Ia sendiri biasa menertawakan dirinya sendiri sebagai materi stand up comedy di atas pentas dan sudah beberapa kali diundang tampil di beberapa panggung stand up comedy di ibu kota, di antaranya adalah Perempuan Berhak 2017 dan Jakarta International Comedy Festival 2019.

Ternyata dari panggung off-air stand up comedy yang dibawakannya, ada rejeki lain yang datang menghampirinya, yaitu tawaran seni peran dari penulis naskah Gina S. Noer. Debut layar lebar pertama Wina adalah Kulari Ke Pantai (2018) yang kemudian dilanjutkan Dua Garis Biru (2019).

Keluarga pun selalu menjadi prioritasnya di balik seabrek profesi yang dilakoninya. Memegang peranan sebagai ibu dan istri di rumah, membuatnya harus pandai-pandai mengomunikasikan dengan keluarga di rumah agar semua berjalan seimbang, serta memahami peranan suami-istri yang setara dalam rumah tangga.

Memang tidak mudah untuk menjalankan beberapa profesi sekaligus seperti Wina karena tidak semua perempuan memiliki kesempatan yang sama. Tapi semua perempuan berhak untuk maju dan menjadi bagian peradaban bangsa.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi