Evan Dimas, Kisah Sang Kapten Timnas Garuda

Sumber: instagram.com/evhandimas

Nama Evan Dimas seringkali digadang-gadang akan menjadi pemain sepak bola terbaik di masa depan Indonesia. Sejak usia muda ia sudah menorehkan prestasi bagi Bumi Pertiwi. Talenta dan gaya permainannya yang indah membuat klub bola dalam dan luar negeri tertarik untuk merekrutnya. Di balik itu semua, ia sebetulnya merupakan sosok pesepakbola sederhana dan rendah hati.

Evan Dimas Darmono adalah nama lengkapnya. Lahir dari pasangan Condro Permono dan Ana di Surabaya, 15 Maret 1995, ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Lahir dari keluarga sangat sederhana yang tinggal di rumah berdinding anyaman bambu di pinggiran Surabaya membuat mentalnya sudah tertempa sejak kecil.

Ayahnya bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah perumahan mewah yang pernah berjualan sayur keliling. Sementara ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga yang terkadang menyambi jualan kacang keliling kampung. Ketika kedua orang tuanya bekerja, Evan lah yang menjaga ketiga adiknya yang masih sekolah dasar.

Walau hidup dalam kondisi ekonomi pas-pasan, kedua orang tua Evan semangat mendidik keempat anaknya. Keduanya berupaya untuk selalu mendukung cita-cita anak-anak mereka, termasuk keinginan Evan menjadi pesepakbola. Sayangnya, kondisi ekonomi yang terbatas juga membuat mereka kesulitan mendukung impian sang anak tersebut.

Masih lekat dalam ingatan ibunya ketika Evan meminta sepatu sepakbola untuk pertama kalinya. Permintaan itu sempat membuatnya pusing karena tidak memiliki cukup uang. “Demi anak, kami akhirnya mengupayakan. Saya ke pasar dan membeli sepatu bola yang harganya Rp 20 ribu. Yang murah-murah aja wis, asal Evan senang,” kata Ana kepada Liputan6.

Sepatu sepakbola itu dibeli berasal dari hasil jualan sayur sang ayah. Sepatu yang ukurannya sedikit kebesaran itu sendiri hanya bertahan tiga minggu karena sangat murah sehingga cepat rusak.

Besar dari keluarga yang ekonominya pas-pasan, tidak jarang Evan diejek dan dicaci maki karena orang tuanya tak mampu membeli sepeda motor. “Pernah ketika itu saya mau latihan, ibu saya pinjam sepeda motor sama orang, lalu diledek, ‘Makanya beli sepeda motor.’ Lalu ada orang kampung saya yang membela, ‘Jangan begitu. Semua ingin beli sepeda motor kalau punya (uang),” kenang Evan.

Peristiwa tersebut sempat membuat ibunya menangis dan bersedih. Ibunya juga kerap menangis ketika melihat teman-teman Evan dapat berangkat latihan menggunakan sepeda motor. Di sisi lain, Evan hanya bisa diam walaupun hatinya sempat merasa iri dengan orang-orang yang sanggup memiliki sepeda motor.

“Terkadang saya iri lihat orang-orang yang bisa membeli sepatu baru untuk anaknya. Saya hanya berpikir kapan bisa membeli sepatu seperti itu, sedangkan ibu hanya jadi pembantu dan kadang berjualan kacang kelililng kampung,” kata Evan.

Semua kesulitan yang dialaminya sejak kecil rupanya menjadi pelecut bagi penggemar Andres Iniesta ini untuk bisa mencetak prestasi di dunia sepak bola. Perkenalannya dengan dunia kulit bundar ini dimulai saat usianya masih empat tahun. Ia juga suka merengek kepada orang tuanya untuk didaftarkan di salah satu Sekolah Sepak Bola (SSB) di dekat rumahnya. Tapi permintaan itu cukup sulit dikabulkann karena ia belum punya sepatu sepak bola.

Setelah ia memperoleh sepatu sepak bola pertamanya di usia sembilan tahun, ia segera bergabung dengan SSB Suryanaga. Untuk berlatih, ia terbiasa menumpang teman atau naik angkot.

Orang tuanya sendiri tidak serta merta mendukung minat sang anak karena tidak tega melihat anaknya terkadang babak belur dan kesakitan bila sedang bertanding. Tapi keseriusan dan kesungguhan Evan untuk menekuni sepak bola membuat sang ibu luluh dan merestui anaknya untuk berkarier di lapangan hijau.

Setahun berlatih di SSB Suryanaga, ia pindah ke SSB Mitra Surabaya yang dikelola Mursyid Effendi yang merupakan legenda Persebaya Surabaya. Di samping itu, lokasinya juga lebih dekat dari tempat tinggalnya. Di sana, kemampuannya berkembang pesat. Bahkan Mursyid menyebut Evan sebagai ‘anak ajaib’ karena talentanya yang luar biasa dalam mengocek bola.

Di bawah gemblengan Mursyid, teknik permainan bolanya semakin mantap. Evan pun mulai terjun ke berbagai kompetisi di Jawa Timur hingga mewakili Jawa Timur untuk berlaga di turnamen nasional. Sebelumnya dia sempat menjuarai kompetisi sepak bola remaja se-Jatim.

Evan sendiri merupakan wakil Indonesia dalam ajang pencarian bakat yang bertajuk “The Chance Southeast Asia” yang disponsori oleh merek sepatu olahraga terkenal. Lewat ajang tersebut, ia berhasil menjadi satu dari 100 anak yang beruntung bisa dilatih oleh mantan pelatih klub Barcelona, Pep Guardiola.

Meski dalam program itu ia hanya sampai seleksi pertama, namanya semakin dikenal di dunia olahraga. Ia lantas terpilih sebagai salah satu kontignen sepak bola Jawa Timur dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012. Di tahun yang sama, dia juga berksempatan membela Timnas Indonesia usia di bawah 17 tahun (U-17) berlaga di Hong Kong FA International Youth Football Invitational Tournament.

Di level klub saat itu ia masuk ke dalam skuad Persebaya 1927, meski masih sebagai pemain amatir. Di level Timnas, ia menyandang status kapten di U-17. Gol yang berhasil ia tembakkan ke gawang Singapura berhasil membawa Indonesia menjuarai turnamen HKFA International Youth Invitation di Hong Kong 2012.

Namanya mulai santer jadi buah bibir sejak Indonesia berhasil menjuarai Piala AFF U-19 September 2013 lalu. Sebagai kapten tim, ia dan timnya sukses mempersembahkan piala untuk Indonesia. Ia sendiri berhasil mencetak lima gol di ajang tersebut.

Sukses menjuarai Piala AFF U-19 2013, Evan kembali berhasil hat-trick yang membuat Indonesia lolos untuk ke-16 kalinya setelah mengalahkan Korea Selatan. Namun sayangnya tim ini belum bisa lolos dari babak grup sehingga gagal melaju ke Piala Dunia U-20 FIFA 2015. Penampilan impresifnya ini sempat membuat namanya masuk ke dalam skuad Timnas Indonesia Senior di Piala Suzuki AFF 2014.

Awal tahun 2016, Evan sempat menjalani pelatihan di RCD Espanyol selama empat bulan. Sepulang dari pelatihan itu, pria yang bercita-cita untuk bisa merumput di klub Eropa ini bergabung kembali ke klubnya yakni Bhayangkara Surabaya United.

Akhir 2017, ia menandatangi kontrak selama setahun untuk membela Selangor FA. Kemudian ia memilih untuk membela Barito Putera yang berbasis di Banjarmasin. Mengawali tahun 2020 ini, kapten Timnas Garuda U-23 ini rupanya memilih untuk membela Persija Jakarta alam musim kompetisi 2020 ini. 

Meski namanya sudah cukup tersohor di dunia olahraga, Evan yang dikenal sebagai sosok rendah hati dan tidak sombong ini selalu ingin mengutamakan kebahagiaan orang tuanya. Karier pemain bola yang tidak bisa dilakukan dalam waktu jangka panjang juga menjadi motivasinya untuk tetap mengutamakan pendidikan dengan tetap berkuliah, meski harus membagi waktu antara belajar dan berkarier di lapangan hijau.

Keluar dari jerat kemiskinan memang tidaklah mudah. Tapi kisah Evan Dimas adalah satu dari sekian banyak kisah di mana jika kita berusaha lebih keras, tentu akan ada jalannya.

           

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi