Dita Soedarjo: Menjadi Kaya Harta dan Kaya Hati Harus Seimbang

Sumber: instagram.com/ditasoedarjo

Muda, cantik, cerdas, kaya, dan dermawan. Inilah empat kata yang menurut saya menggambarkan akan sosok Dita Soedarjo. Usianya masih muda, baru akan menginjak 28 tahun. Tapi si cantik yang merupakan bos es krim Haagen-Dazs Indonesia ini juga sosok yang rendah hati dan senang berbagi dengan sesama.

She was with a silver spoon in her mouth and everything has been done for her. Ya, Dita memang lahir dari keluarga konglomerat Soetikno Soedarjo, pemilik Mugi Rekso Abagi (MRA) Group, dan Dian Muljadi, yang dikenal sebagai sosialita dan pemilik Fimela Media, yang membuatnya sudah dianugerahi banyak privilese yang tidak semua bisa didapatkan oleh banyak orang pada umumnya. Di samping itu, neneknya, Kartini Muljadi juga dikenal sebagai pengusaha sukses pemilik Tempo Group dan konsultan hukum Kartini Muljadi & Rekan.

Ketika menginjak dewasa, ia memilih untuk belajar Fashion Merchandising di Fashion Institute of Design and Merchandising Los Angeles. Berkuliah di luar negeri seorang diri tentu bukan hal mudah bagi Dita, meski terlihat menyenangkan. Ditambah lagi itu ia sedang mengalami masa sulit di mana kedua orang tuanya memutuskan bercerai, yang membuatnya sempat memiliki niat bunuh diri, meski diurungkannya kembali niat itu.

Selain belajar di kampus, ia memilih untuk mencari pengalaman kerja lewat magang di beberapa perusahaan seperti Coca Cola, Paramount Pictures, Harper’s Bazaar, L’Oreal, Fimela, dan Cosmopolitan.  Ayah ibunya pun mendorongnya untuk rajin magang selama kuliah karena materi di sekolah atau buku tidaklah cukup, butuh pengalaman kerja nyata agar semakin paham dunia kerja.

Menghabiskan empat tahun lebih di Negeri Paman Sam, ia kembali ke Indonesia atas permintaannya orang tua untuk meneruskan salah satu unit bisnis di MRA Group. Pernah bekerja di media membuatnya tidak tertarik untuk menekuni lebih lanjut karena jam kerja yang tidak ada batas waktu. Akhirnya ia memilih untuk mengambil alih nahkoda Haagen-Dazs Indonesia yang kepemilikannya di Indonesia dipegang oleh MRA Group.

Memimpin Haagen-Dazs sendiri menyalurkan hobi Dita yang memang suka makan. Tapi jadi bos es krim tidak serta merta membuatnya leha-leha hanya menikmati pemasukan. Ia tetap datang ke perusahaan dan tidak jarang mengunjungi Haagen-Dazs Cafe yang tersebar di beberapa mall di Indonesia.

Mengelola bisnis dengan merek yang sudah mapan seperti Haagen-Dazs bukan berarti tidak ada tantangannya. Dikenal sebagai merek es krim high-end, perempuan pendiri Lalla Restaurant ini sendiri cukup merasakan kesulitan untuk bisa berinovasi menu karena harus mengajukan proposal kepada Haagen-Dazs pusat. Selain itu, dari segi distribusi produk, perusahaannya juga menghadapi tantangan untuk bisa memboyong bahan baku dari luar negeri dengan kondisi tetap prima hingga bisa disajikan ke konsumen.

Meski posisinya saat ini adalah CEO, Dita selalu menanamkan kepada dirinya sendiri untuk selalu belajar dan tidak gengsi bertanya. Di samping itu, menjalankan bisnis selama empat tahun terakhir ini juga mengajarkannya untuk terbuka dan membuat perjanjian tertulis dengan rekan-rekan bisnisnya, sebab banyaknya karakter manusia di muka bumi ini bisa membuat teman jadi musuh, atau sebaiknya.

Selain menjadi pengusaha, Dita rupanya sejak kecil sudah senang berbagi dengan sesama dengan merayakan ulang tahun di panti asuhan. Hal ini terus mengasah rasa kepekaan sosialnya hingga dewasa. Setelah lulus kuliah ia bahkan lebih ingin fokus di kegiatan sosial daripada berbisnis. Tapi keinginannya itu tidak disetujui orang tuanya. Alangkah baiknya jika ia tetap bekerja agar bisa memiliki uang untuk mengembangkan kegiatan sosial yang diinginkannya.

Sambil mengurus Haagen-Dazs, bungsu dari tiga bersaudara ini sempat aktif di kegiatan sosial gereja. Lalu ia mendirikan dua organisasi sosial, yaitu Let’s Share dan Dignity Woman. Let’s Share fokus membantu anak-anak perempuan yang kurang mampu agar kembali bersekolah dan dibekali dengan workshop soft skill, seperti public speaking, leadership, dan lainnya untuk bekal di dunia kerja nantinya. Selain fokus di pendidikan, Let’s Share juga membantu masyarakat untuk masalah kesehatan.

Sementara itu Dignity Woman membantu para perempuan kurang beruntung, seperti mantan Pekerja Seks Komersial (PSK) atau Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang dipulangkan oleh majikan tapi bermasalah untuk kembali ke keluarga, agar mereka memiliki kehidupan yang lebih baik. Dignity Woman memberikan pengajaran dan pelatiahan kerja kepada para perempuan agar dapat memiliki pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik ke depannya.

Tidak hanya merogoh dari kocek pribadinya. Dita juga rajin mengadakan lelang, peragaan busana, atau garage sale untuk menghidupi kedua organisasi yang didirikannya tersebut. Uang hasil penjualan itulah yang digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional organisasi. Tidak jarang ia mengajak keluarga atau teman-temannya untuk ikut membantunya menyukseskan acara.

Hidup memang tidak selalu berjalan mulus, tapi Tuhan selalu ada untuk hambanya ketika kita meminta dengan tulus. Itu pula yang dirasakan oleh Dita ketika berusaha untuk hidup beriringan dengan keimanan. Kegagalannya menikah dengan mantan pebasket Denny Sumargo justru membuatnya jadi lebih dekat dengan Tuhan.

Selain itu, patah hati juga membawa berkah yang tak lain adalah terbitnya buku perdananya yang bertajuk Dignity dan Selamat Datang Kenyataan. Lewat dua buku ini, ia membagikan kisah hidupnya dalam menghadapi kegagalan dan situasi hidup yang sulit. Dia ingin para pembaca di luar sana bisa bangkit dari keterpurukan dan tidak merasa sendirian. Selain menulis buku non fiksi, ia juga menulis Jakartaholics, sebuah novel yang dipublikasikan di Storial.

Tidak ada yang salah menjadi kaya, tapi jadi salah ketika seseorang itu menyalahgunakan kekayaan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi