Disabilitas Tak Halangi Fanny Evrita Sukses Bisnis Kecantikan

Sumber: Yukepo

Menjadi penyandang disabilitas, berarti menjalani hidup perlu kerja keras dua kali lebih besar. Inilah yang dialami oleh Fanny Evrita, founder Thisable Beauty Care. Orang akan bingung jika ia menyebut dirinya difablepreneur (pengusaha difabel) karena sekilas ia terlihat sempurna seperti manusia normal lainnya. Namun ketika ia menyibak sedikit rok panjangnya, barulah terlihat ketidaksempurnaannya.

Fanny penyandang tuna daksa yang berarti cacat fisik. Kaki kirinya sangat besar dari pinggul hingga telapak kaki. Ada beberapa tulang menonjol seperti di bagian lutut, selebihnya terlihat seperti gumpalan lemak yang sangat banyak dan panjang.

Tinggi lemak di bagian telapak kaki kirinya bahkan menyerupai wedges 10 cm. Untuk itu ia mengimbanginya dengan sandal atau sepatu hak tinggi di kaki kanannya. Sementara kaki kiri dibiarkan tanpa alas kaki apapun. Kepanasan atau kedinginan karena berjalan di aspal sudah biasa dijalaninya.

Seperti pada umumnya seorang penyandang difabel, butuh waktu cukup lama bagi dirinya untuk bisa menerima kondisinya saat ini. Terlahir dengan kaki berbeda ukuran, dia sempat menjalani operasi di sebuah rumah sakit di Jakarta. Entah karena penanganan yang kurang tepat atau faktor lain, jahitan bekas operasinya terbuka ketika ia pulang ke Sintang, kabupaten di Kalimantan Barat yang butuh waktu 12 jam perjalanan darat dari Pontianak.

Jika harus kembali ke Jakarta, biaya yang dikeluarkan tentu tidak sedikit. Akhirnya Fanny dibawa ke rumah sakit daerah terdekat. Tidak ada perubahan, yang ada kaki kirinya justru terus membesar hingga tiga kali lipat dibanding kaki kanannya.

Rontgen yang dilakukan semasa ia kecil menunjukkan tulang kaki kirinya lebih besar. Secara hormonal perkembangan dan pertumbuhannya lebih cepat daripada anak seusianya. Untuk medical check up pun biaya yang dikeluarkan tidak murah.

Dengan kondisi fisik yang berbeda, alumnus Universitas Tanjungpura ini sudah kenyang bully-an sejak ia mulai masuk sekolah di Taman Kanak-kanak (TK).

“Mungkin karena di rumah aku diperlakukan sama, tanpa diskriminasi dan ejekan. Jadi ketika ada yang mengataiku kaki gajah dan bertanya dengan nada mengejek, ‘Sepatu kaki kirimu mana?’ sempat membuatku drop. Tiba di rumah aku lempar sepatu dan tidak mau sekolah lagi. Karena waktu itu sekolahku di sebuah yayasan, jadi dari TK-SMA jadi satu,” kisahnya pada Wanita Indonesia

Ketika masuk SD, ia disarankan masuk SD negeri di dekat rumah neneknya dari pihak ibu yang berada di pelosok. Meskipun masih ada bullying, tapi ia bisa menemukan teman-teman yang baik dan mendukung. Para guru pun tidak mendiskriminasinya, seperti ketika olahraga lari ia diperbolehkan ikut asal memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri. Keluarganya pun sering berpesan untuk melawan jika ada yang mem-bully.

Untuk menangkal bully adalah berusaha berprestasi. Fanny berusaha rajin belajar dan hasilnya sejak SD hingga SMA ia selalu masuk tiga besar. Ia sering mewakili sekolah dalam berbagai lomba. Hingga akhirnya ia bisa berkuliah dengan beasiswa. Dengan mengukir prestasi, ia ingin menunjukkan bahwa seorang difabel seperti dirinya juga bisa berprestasi seperti orang normal.

Terbiasa mandiri dan kerja keras, Fanny perlahan tumbuh dewasa menjadi wanita mandiri yang tidak ingin dikasihani. Bahkan ia tetap diperbolehkan latihan menyetir mobil dan motor oleh keluarganya. Ia sendiri pernah menyetir mobil dari Pontianak  sampai Sintang.

Dia gigih untuk bisa mandiri secara ekonomi sejak kuliah, salah satunya dengan menjadi reseller produk fesyen dari Jakarta. Lulus kuliah, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan keuangan. Lalu melamar ke sebuah bank dan ia senang bukan main saat berhasil diterima.

Ketika mulai bekerja, ia menyisihkan sebagian pendapatannya untuk melanjutkan kuliah S2 karena ibunya mendorong Fanny dan saudara-saudaranya untuk sekolah setinggi-tingginya. Tapi malangnya, setelah habis masa percobaan, Fanny justru dipecat lantaran ia tidak diizinkan untuk mengenakan rok panjang.

Terang saja peristiwa ini membuatnya down hingga dua bulan ia tidak keluar rumah. Ibunya pun tidak lelah menghiburnya untuk jalan-jalan atau berkumpul dengan teman agar ia tidak semakin terpuruk.

Ketika sudah berani keluar rumah, dia kembali melamar ke bank di seluruh Pontianak tapi tidak ada satu pun yang menerimanya. Ia sudah melewati tes demi tes, begitu ketika ia menyatakan diri sebagai difabel, semua perusahaan langsung menolak dengan alasan kebijakan manajemen.

Fanny sempat ingin melanjutkan kuliah S2 tapi ia tidak sampai hati untuk meminta uang kuliah kepada ibunya yang sudah membanting tulang seorang diri sejak bercerai dengan ayahnya. Ia sempat minder dan sedih melihat kondisinya yang sudah disabilitas dan ternyata orang tuanya harus bercerai.

Suatu ketika, ia membaca kiprah Chef Petty Elliot yang mendirikan dan aktif di wisma disabilitas di internet. Ia memberanikan diri untuk mengirim email dan curhat tentang kondisinya saat itu. Ibu Petty rupanya cepat merespon emailnya tersebut dan memintanya ke Jakarta.

Lagi-lagi Fanny galau jika harus merantau ke Ibu Kota karena tidak ada sanak famili di sana. Setelah berdiskusi panjang dengan ibunya, ia pun mantap untuk merantau. Langkah pertamanya adalah menemui Chef Petty di Wisma Chesier dan mencari kos untuk tempat tinggal.

Di Jakarta, ia mengawali karier di bidang keuangan di Wisma Chesier. Kemudian ia bertemu dengan Angkie Yudistia, pendiri Thisable Enterprise dan mencoba untuk merintis usaha produk kecantikan dengan label ‘Thisable Beauty Care’. Selain berbisnis, ia menjadi Talent Acquisition Executive untuk Thisable Enterprise.

Sebelum membuat produk, ia harus belajar selama enam bulan di Salon Muslimah di Depok. Perjuangannya tidak berhenti di situ. Ia memutuskan untuk naik KRL meskipun harus berdesak-desakan hingga hampir jatuh demi menghemat pengeluaran.

Setelah ia mulai memproduksi produk bisnisnya, ia pun masih mengerjakan semuanya sendiri walaupun produknya sudah dapat dibeli secara online dan dipasarkan di Century Jakarta. Pelabelan produk dipercayakan kepada para disabilitas di Wisma Cheshire, sedangkan urusan lain seperti promosi ketika bazaar masih dilakukannya sendiri.

Produknya semakin dikenal ketika ia diundang menjadi narasumber. Namun ketika baru merilis produknya, tidak sedikit orang yang meragukan usahanya karena berpikir seorang disabilitas yang membuat produknya. Tapi Fanny tidak ingin putus asa. Justru ia terpacu untuk meyakinkan konsumen dengan mengurus sertifikasi Halal dan BPOM agar konsumen percaya bahwa produknya layak dibeli karena kualitasnya terjamin.

Di Thisable Enterprise, tidak jarang ia ikut turun tangan membantu mengoordinasi teman-teman difabel yang sudah bergabung. Apalagi fokus Thisable tidak hanya mencetak difablepreneur tapi menjadi pihak ketiga seperti outsourcing karyawan disabilitas.

Menjadi difabel tidak mudah. Tapi ketika kita tidak mendiskriminasi dan memberikan mereka kesempatan yang sama seperti yang lain, tentu mereka bisa berkarya.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi