Dirikan Burgreens, Makan Enak dan Sehat Ala Helga Angelina

Sumber: Intipesan.com

Di tengah maraknya isu lingkungan, gaya hidup sehat mulai mendapat perhatian lebih dan menjadi tren di tengah masyarakat Indonesia. Gaya hidup ini bisa melahirkan bisnis kuliner makanan sehat berbasis lingkungan.

Gaya hidup sehat yang dilakoni oleh Helga Angelina Tjahjadi inilah yang menjadi sumber idenya ketika mendirikan Burgreens, sebuah restoran yang menawarkan fast food dengan bahan nabati dan organik dalam kemasan kekinian. Tidak hanya mengajak konsumen untuk makan enak dan sehat, tapi bisnis ini juga mengedepankan dampak sosial.

Sejak kecil ia cukup sering mengonsumsi obat-obatan kimia karena sering sakit, seperti sinusitis, eksim, asma, dan berbagai macam alergi. Menginjak usia 15 tahun, ginjal dan livernya mulai bermasalah karena obat-obatan kimia tersebut.

Dari situ, ia mulai belajar nutrisi kesehatan dengan membaca berbagai literatur sebagai alternatif penyembuhan penyakit yang diidapnya. Salah satu yang ditemukannya adalah dengan konsumsi makanan berbasis nabati utuh.

Lulusan komunikasi dari Hogeschool van Arnhem en Nijmegen menemukan fakta baru bila tubuh bisa menyembuhkan dirinya sendiri, self healing, dan jika tubuh terbiasa diberi makanan sehat, tentu akan ikut sehat pula.

Sejak itu ia mulai mengubah pola makannya ke vegetarian yang sehat dan mengurangi makanan mengandung gula berlebih dan dairy food (makanan yang dibuat dari hasil olahan susu). Alhasil dalam waktu dua tahun, penyakitnya berangsur-angsur hilang dan kecintaannya akan makanan sehat semakin besar.

Kebiasaan untuk mengonsumsi makanan sehat terus dibawanya kala ia berkuliah di Belanda. Kebetulan pula sang suami, Max Mandian, yang bertemu dengannya di Belanda juga menyukai makanan vegetarian.

Di tahun 2013, Helga dan Max kembali ke Indonesia untuk membuka restoran vegetarian food. Awalnya mereka ingin berbisnis secara online. Tapi ternyata rekannya, Bayu Bening Prieta, memiliki tempat di Rempoa. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuka restoran pertama di tempat tersebut pada November 2013 dengan menggandeng Glenn Patrick.

Nama Burgreens sendiri dipilih karena untuk memperkenalkan produk mereka yang berbasis vegetarian food, mereka mengolah burger yang dikenal praktis dan mudah dibawa secara organik menjadi makanan sehat. Selain itu, ada pula steak berbahan dasar jamur.

Helga dan Max pun berbagi peran untuk mengelola Burgreens. Helga berperan mengurus manajemen restoran, sementara Max berperan untuk urusan produksi, seperti membuat menu, hingga mengatur supply chain produksi.

Baca juga: Edward Tirtanata Membangkitkan Kenangan Mantan Melalui Kopi Kenangan

                  C20 Library, Perpusatakaan Buku Langka Surabaya Rasa Rumah Pribadi

Berbisnis dengan pasangan tentunya ada tantangan tersendiri karena masalah yang timbul saat bekerja mampu memengaruhi hubungan personal. Tantangan tersebut juga dihadapi Helga dan suaminya. Namun dengan komunikasi yang baik, introspeksi diri, serta memegang visi misi saat mulai berbisnis, semua bisa dilalui.

Helga dan Max pun saat awal berbisnis melakoni semua peran sendiri, seperti memasak, menyajikan makanan, membersihkan restoran, mencuci piring, serta mengatur manajemen. Dalam sehari tidak ada pelanggan yang datang pun pernah dirasakannya.

Permasalahan lain pun sempat muncul seperti masalah keuangan, pegawai, hingga sistem manajemen restoran saat Burgreens sedang berkembang. Meski sempat membuatnya stress, tapi visi misinya untuk menularkan gaya hidup sehat ke masyarakat yang menjadi motivasinya.

Have a clear vision, keep the faith, build & nurture your people, look for people who are passionate about your vision, keep learning, and focus,” visi misi yang selalu dipegang Helga dalam berbisnis.

Burgreens sendiri bisa dibilang sebagai pionir restoran yang hanya berfokus pada makanan berbahan dasar tanaman organik dan pelaku gaya hidup sehat saat itu belum begitu masif seperti sekarang. Sehingga butuh edukasi pasar yang cukup keras agar bisa diterima dengan baik di masyarakat.

Setiap bulannya, Burgreens memiliki program rutin untuk mengedukasi masyarakat, seperti Burgreens Goes to Office dan Burgreens Goes to School. Dari sana, mereka ingin mengampanyekan bahwa hidup sehat itu tidak mahal. Bisa dimulai dari mengonsumsi makanan berbasis nabati utuh yang tidak semahal makanan organik.

Meski belum 100% organik, Burgreens selalu menggunakan bahan-bahan alami utuh dalam setiap pengolahannya. Selain mengutamakan kualitas makanan sehat dan organik yang sehat dan mengenyangkan, bisnis restoran yang dijalankan Helga juga berkonsep social entrepreneurship dengan memberdayakan petani lokal untuk kebutuhan produksi, serta memberikan banyak kesempatan bagi wanita yang tidak berpendidikan tinggi.

Burgreens bekerja sama dengan petani lokal untuk kebutuhan produksi agar petani mendapatkan harga yang layak. Bagian produksi Burgreens 70% berasal dari perempuan tidak berpendidikan tinggi dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Ia juga mengedukasi berupa technical training dan managerial training untuk jenjang karier karyawannya.

Di bagian penjualan, Helga menerapkan kebijakan 50% karyawan perempuan dan 50% karyawan laki-laki untuk memberikan lebih banyak peluang kepada perempuan menduduki posisi-posisi strategis.

Sebagai restoran yang mengedepankan keseimbangan lingkungan, Burgreens sendiri di central kitchen-nya telah mengaplikasikan konsep being zero waste untuk urusan limbah sampah makanan. Sebisa mungkin dari setiap bahan makanan yang dibuat terpakai 100%.

Kemasan makanan yang dikirim dari central kitchen ke setiap gerai juga meminimalisir penggunaan plastik diganti menggunakan daun pisang. Peralatan makanan yang digunakan pun menggunakan sedotan bambu yang bisa digunakan berulang kali dan jika rusak, bisa dikompos menjadi pupuk. Untuk kemasan take away, Burgreens menggunakan plastik singkong yang mudah terurai.

Beberapa lokasi gerai Burgreens, seperti di kawasan Rempoa dan Tebet, sendiri tidak menggunakan pendingin ruangan, melainkan memanfaatkan tanaman rindang yang mampu menghasilkan oksigen alami. Suasananya dibuat senyaman mungkin seperti suasana rumah sehingga membuat pengunjung betah berlama-lama.

Di tahun ketiga, barulah pemain bisnis lain di sektor ini mulai bermunculan seiring dengan gencarnya gaya hidup sehat, sehingga dampaknya lebih meluas lagi.

Burgreens pun mulai dikenal saat dikunjungi oleh beberapa public figure seperti Dewi ‘Dee’ Lestari bersama suaminya, Reza Gunawan, Titi DJ, dan Sharena Gunawan. Pemasaran getok tular melalui media sosial juga berdampak besar pada perkembangan bisnisnya.

Hasil kerja kerasnya pun mulai membuahkan hasil dengan beberapa penghargaan yang berhasil diperoleh Burgreens, antara lain, Voted as Jakarta’s Best Healthy Food Restaurant by Yahoo, Winner of Trip Advisor’s Certification of Exellence 2014, Zomato’s Best Healthy Food Restaurant & Top 10 Trending Restaurant. Peraih predikat cumlaude ini sendiri dipilih oleh majalah Forbes sebagai salah satu pemudi berpengaruh dalam 30 Under 30 Forbes Asia 2016.

 

 

Sumber:

https://kumparan.com/@kumparanstyle/womanpreneur-helga-angelina-kampanyekan-hidup-sehat-melalui-burgreens-1549528102516948119

https://swa.co.id/swa/headline/menebar-virus-sehat-dengan-burgreens-resto

https://www.maxmanroe.com/burgreens-resto-resto-yang-tawarkan-menu-sehat-dengan-konsep-green-dan-social-impact.html

https://www.idntimes.com/life/women/zother-veregrent/paraperempuanhebat-helga-angelina-memperkenalkan-gaya-hidup-sehat-dengan-mendirikan-burgreens-resto-c1c2/full

https://youngster.id/featured/helga-angelina-bisnis-makanan-sehat-sekaligus-membantu-petani

https://www.wanitawirausaha.com/article/kisah-sukses/max-mandias-helga-angelina-pemilik-burgreens-lika-liku-bisnis-bersama-pasangan

https://www.burgreens.com/

https://id.linkedin.com/in/helgatjahjadi

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi