Dinilai Kurang Cantik, Kini Tara Basro Bersinar di Perfilman

Sumber: Elle Indonesia

Perempuan Tanah Jahanam tidak bisa dilepaskan dari sosok Joko Anwar dan aktrisnya yang tengah naik daun, Tara Basro. Melihat sosok perempuan berdarah Bugis ini yang terlintas di benak saya adalah sosok perempuan tangguh dengan kecantikan kulit cokelat khas sebagian besar wanita Indonesia.

Sebelum terjun ke dunia hiburan, perempuan bernama lengkap Andi Mutiara Pertiwi Basro ini kerap berpindah-pindah tempat tinggal sejak kecil karena pekerjaan ayahnya di sebuah maskapai penerbangan yang mengharuskan untuk sering pindah tugas. Karena itu, ayahnya pun mesti memboyong keluarganya sesuai dengan penugasan yang diterima.

Saking seringnya berpindah-pindah, ia pernah bersekolah di empat sekolah berbeda saat masih kelas 3 SD. Memang terlihat menyenangkan, tapi masuk ke sekolah baru berarti adaptasi lagi dan mencari teman lagi yang membuatnya cukup kesulitan. Tak hanya itu. Masa kecilnya pernah diwarnai bullying yang membuatnya enggan pergi ke sekolah.

Tara kecil dikenal sebagai sosok yang gemar menjadi pusat perhatian dan centil. Ia gemar bertingkah aneh memeragakan tokoh tertentu di depan cermin. Menurutnya, kebiasaan inilah yang bisa jadi membuatnya akhirnya nyemplung di dunia film.

Karier Tara di dunia hiburan sendiri tidak dimulai dari dunia seni peran. Jauh sebelum menjadi aktris papan atas, ia adalah seorang model yang juga finalis Gadis Sampul 2005. Tapi statusnya sebagai finalis Gadis Sampul tidak membuatnya segera terjun ke dunia hiburan sebab ia mesti melanjutkan sekolah di Perth, Australia.

Gadis Sampul sudah jamak dikenal sebagai salah satu batu loncatan para finalisnya untuk terjun di dunia hiburan. Bisa dimulai dari modeling yang nantinya bisa merambah ke dunia akting atau dunia tarik suara, seperti Dian Sastrowardoyo dan Desy Ratnasari.

Tara sempat berpikir bahwa statusnya sebagai finalis Gadis Sampul bisa menjadi salah satu tiket emas untuk terjun ke dunia hiburan. Namun pemikirannya salah. Kegagalan-kegagalan yang dialaminya saat itu membuka matanya bahwa dunia hiburan masih terjebak dalam steorotip ‘perempuan cantik adalah yang berkulit putih dan berambut panjang’. Waktu itu, kulitnya yang cokelat dan rambut pendeknya dianggap sangat tidak sesuai dengan permintaan di dunia modeling yang sedang tren look seperti bule.

Lingkungan baru sangat lazim membuat seseorang menerapkan cara bermain baru. Begitu pula dengan Tara yang akhirnya mulai pakai produk pemutih. Tentu saja tidak berhasil dan malah menorehkan luka. Berbagai penolakan yang didapatnya selama mengikuti casting membuatnya lama-lama merasa tidak diinginkan di dunia hiburan.

Di Australia sendiri, orang-orang berkulit putih ini malah mencari-cari sinar matahari untuk mengubah warna kulit. Hasilnya disebut dengan tanned, kecokelatan. Inilah yang membuatnya mencoba pelan-pelan menerima fisiknya.

Lahir di Jakarta, ia pernah tinggal di Makassar, Manado, Batam, Vietnam, Beijing, Paris, dan Perth. Kemudian ia memutuskan untuk menetap di Jakarta ketika mulai masa kuliah di tahun 2008. Setelah menetap, ia mengikuti beberapa casting film dan iklan dan film yang lagi-lagi berujung pada kegagalan.

Ia sempat ikut tes untuk produksi pertunjukan arahan Joko Anwar, Onrop! Musikal. Ia hanya lolos menyanyi dan menari, tapi tidak dengan berakting. Meski tidak tembus seleksi, Tara menjaga hubungan dengan sang direktur casting. Berkat itu, kemudian ia dapat kesempatan untuk ikut casting Catatan (Harian) Si Boy.

Ternyata ia berhasil dan terpilih untuk memerankan tokoh Putri dalam film tersebut. Seperti anak muda pada umumnya yang sempat bimbang di persimpangan hidup untuk memilih sekolah atau karier, akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dalam film tersebut dan melepas kuliahnya di fashion design Binus Internasional.

Beradu peran dengan Ario Bayu dan Carissa Puteri dalam film Catatan (Harian) Si Boy, debutnya sebagai aktris ternyata mendapat respon positif. Ia terpilih dalam nominasi Indonesia Movie Awards 2012 untuk dua kategori, Aktris Pendatang Baru Terbaik dan Aktris Pendatang Baru Terfavorit.

Ia merasa tidak salah dalam mengambil keputusan untuk fokus di dunia akting. Kesempatan belajar tentang akting menurutnya adalah hal terpenting dalam debutnya sebagai aktris di mana ia saat itu masih berusia belasan dan nol pengalaman.

Tara sempat berpikir bahwa kariernya bisa melesat setelah bermain bareng aktor dan aktris gaek. Ternyata keliru. Beberapa bulan ia tidak ada job dan tidak ada pemasukan. Hingga ayahnya bertanya, “Kamu ngapaih sih? Udah berhenti sekolah, di rumah mulu!” ujarnya dalam wawancara dengan Beritagar.

Akhirnya ia mencoba mengambil segala tawaran, bahkan film televisi (FTV) yang membuatnya sering perang batin di masa itu, meskipun ada beberapa hal yang bisa dipelajarinya di sana.

Harapannya nyaris pupus tatkala orang-orang yang bekerja dengannya tidak mendukung pertumbuhannya di dunia perfilman. Tahun 2014, ia mendapat peran penting sebagai Gerhana dalam film Pendekar Tongkat Emas arahan Ifa Isfansyah. Film itu memperkaya pengalamannya karena ia dapat celah untuk belajar dari nama-nama besar seperti Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Reza Rahardian, dan Nicholas Saputra.

Totalitasnya di film ini menuai pujian dari banyak orang. Puja-puji tersebut bukan diperoleh tanpa pengorbanan. Ia merelakan dirinya untuk belajar bela diri selama tujuh bulan demi bermain dalam film laga tersebut. Badan lecet dan memar tidak masalah, asalkan bisa menjiwai peran dengan baik, tuturnya kepada Femina.

Setahun kemudian menjadi titik baliknya. Lewat A Copy of My Mind arahan Joko Anwar, ia membawa pulang Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dan Usmar Ismail Awards 2016 sebagai Pemeran Utama Wanita Terfavorit. Ia juga dinominasikan di beberapa nominasi dalam Indonesian Movie Actor Awards 2016.

Nama Tara sebagai aktris terus melambung dan diperhitungkan di kancah perfilman Indonesia. Bahkan ada yang menjulukinya sebagai ‘aktris langganan Joko Anwar’ karena hingga saat ini sudah lima kali ia bekerja dengan sutradara yang dikenal ahli meracik film horor; A Copy of My Mind (2015), Halfwords (2015), Pengabdi Setan (2017), Gundala (2019), dan Perempuan Tanah Jahanam (2019).

Film terbarunya, Perempuan Tanah Jahanam, juga tidak lepas dari berbagai pujian berkat aktingnya yang totalitas dan sangat menjiwai tokoh yang diperankannya. Meski penakut, ia berhasil melawan dirinya sendiri untuk bermain film horor seperti Pengabdi Setan dan film ini sendiri.

Sebagai figur publik, tidak menampik bahwa ia pernah melalui masa-masa kelam. Dalam kurun waktu 2013-2014, ia mengalami panic attack yang cukup parah. Setiap hari ketakutan dan panik berlebihan hingga membuatnya sesak napas, sakit kepala, dan sulit tidur. Bahkan ada masa di mana ia takut keluar rumah karena khawatir tidak ada yang akan menolongnya.

Tapi dukungan keluarga untuk bertahan di dunia yang membesarkan namanya dan menjadi diri sendiri menjadi salah satu obat mujarab, selain melakukan terapi pengobatan meditasi.

Panic attack yang pernah dialaminya membuat Tara sadar untuk mengutamakan diri sendiri. Menjadi diri sendiri. Menghormati diri dan orang-orang di sekelilingnya. Juga menggunakan suaranya untuk sesuatu yang berarti, apalagi di era masifnya penggunaan media sosial yang membuat seseorang rentan depresi.

Menjadi seseorang yang mengutamakan dan menghargai diri sendiri, membuat kita paham mana batasan dan prioritas diri kita yang harus diterapkan pada orang lain. Terakhir, saya jadi teringat dengan lirik lagu Bruno Mars: Cause you’re amazing, just the way you are.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi