Dedeh Erawati, Srikandi Lari Gawang Indonesia

Sumber: Kompas Olahraga

Potensi anak bangsa tidak hanya di badminton saja. Ada juga beberapa cabang olahraga dimana Indonesia mampu menghasilkan atlet kelas wahid. Salah satunya Dedeh Erawati di olahraga lari gawang.

Dedeh memang bukan pemain muda yang masih aktif di lapangan lari atletik. Tapi di usianya yang sudah masuk kepala empat, ia terhitung masih aktif berlatih dan bertanding hingga tingkat internasional meskipun tidak lagi masuk ke dalam atlet pelatnas yang turun di ajang olahraga seperti PON, SEA Games, atau Asian Games.

Perkenalan Dedeh dengan olahraga lari gawang ini bukanlah karena kesengajaan. Sejak kecil ia memang sudah senang bergerak ke sana-sini dan hobi lari tanpa disadarinya. Kemudian oleh guru olahraga semasa SMP di Sumedang, ia dikenalkan oleh olahraga lari gawang ini. Sejak saat itu ia serius menekuni olahraga ini sejak 1992 hingga sekarang.

Intensif latihan membuatnya bisa bergabung di Pelatnas pada tahun 1997. Tapi justru keikutsertaannya di Pelatnas tidak membuat perkembangan kariernya berjalan mulus. Malah justru stagnan, meskipun ia sempat mendapat medali emas di PON 2000 yang diselenggarakan di Jawa Timur.

Di berbagai pertandingan internasional, ia sering gagal mendapat medali karena tidak memecahkan rekor terbaik. Prestasinya hanya sejauh di babak final dan selalu terjegal oleh lawan sehingga tidak pernah berhasil membawa pulang medali emas. Sempat ia berniat untuk gantung sepatu di tahun 2002.

“Rasanya, saya sudah melakukan yang terbaik, tapi kok perkembangannya begini-begini saja. Saya merasa sangat hopeless. Sempat terbesit untuk berhenti saja jadi atlet, dan bekerja di sebuah bank swasta saat itu. Tapi ternyata Tuhan berkata lain,” cerita Dedeh pada sebuah wawancara dengan Femina.

Suatu ketika ia bertemu dengan Fachmy Fahrezzy, seorang pelatih aerobic gymnastic yang saat itu menatap Dedeh dengan heran karena tidak kunjung melihatnya latihan di lapangan. Ia ingat betul perkataan Fachmy yang kini menjadi pelatihnya, bahwa pelatihnya berani bertaruh bisa membuat Dedeh ikut kejuaraan Olimpiade jika berlatih dengan benar. Menurut Fachmy, bukannya ibu satu anak ini tidak bisa maju, hanya potensi di dalam dirinya belum terasa secara maksimal.

Sejak saat itu ia mulai rutin berlatih dengan Fahmy dan benar saja, selama sesi latihan itu ia lebih bisa memahami kelebihan dan kekurangan dirinya. Pemahaman ini membuatnya bisa memperbaiki diri, kembali memupuk semangat dan mimpinya untuk bertanding di Olimpiade.

Setelah mengatur strategi latihan, perubahan nyata pada dirinya mulai terlihat. Kemenangan demi kemenangan berhasil diraihnya sejak 2003. Diawali dengan medali emas di PON 2004, medali perak di SEA Games 2005, medali emas di SEA Games 2007, medali emas di SEA Games 2009, medali perunggu di Asian Games 2010, medali perak di SEA Games 2011, medali emas di SEA Games 2013, hingga medali perak di SEA Games 2015.

Meskipun tidak menang di ajang olimpiade, tapi ia merasa bangga bisa melunasi mimpinya untuk menginjakkan kaki di lapangan atletik Olimpiade Beijing 2008 karena selama ini ia hanya bisa melihat di layar kaca sambil berangan-angan bisa berlaga di ajang sekelas Olimpiade.

Sukses datangnya memang tidak pernah instan dan harus berproses. Ketika kita jenuh di tengah proses, menurut Dedeh lebih baik kita memiliki target lebih dari apa yang sudah diraih agar muncul semangat baru, menantang diri untuk maju dan tidak puas di zona nyaman.

Usianya yang sudah mencapai pertengahan 30-an membuatnya tidak memungkinkan untuk bergabung lagi tim nasional. Tapi bukannya ingin berhenti berkarier. Ia memilih untuk mengikuti pertandingan di kelas lain, namanya master. Kelas master ini diperuntukkan untuk ajang atletik berusia 35 hingga 80 tahun.

Pertama kali Dedeh ikut berpartisipasi di World Master Athletic Championship (WMAC) Perth 2016 dan turun di nomor lari 100 meter, lari gawang 100 meter, dan 200 meter. Dari sana, ia berhasil membawa pulang dua emas dan satu perak. Ia sendiri adalah perempuan pertama Indonesia yang mengikuti kejuaraan dunia tersebut dan berhasil mempertahankan gelar tiga tahun berturut-turut.

Lalu di WMACI Daegu 2017, ia kembali menggondol medali emas di nomor lari 60 meter. Medali emas lain diperolehnya dari WMAC Malaga 2018 di nomor 100 meter lari gawang, Ontario Masters Atheltics, dan USA Track and Field (USATF) Masters.

Bisa dibilang masa keemasan Dedeh sendiri bukan di usia muda seperti pada umumnya atlet. Tapi kemauannya yang lebih tinggi dari dalam diri sendiri membuatnya mendapat energi besar untuk mencapai tujuan. Tak hanya. Menikmati setiap proses yang dilakukan akan membuat segalanya terasa baik-baik saja, meskipun ketika sedang lelah.

Disamping kesibukannya sebagai atlet lari gawang, ia sendiri bekerja sebagai staf Bidang Prestasi Mahasiswa Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta. Selain itu, ia juga bercita-cita untuk bisa ikut andil dalam regenerasi atlet-atlet muda dengan menjadi pelatih mereka.

Satu ucapan pelatihnya pernah membuatnya tersentil, “Percuma kamu pecah rekor setinggi-tingginya kalau kamu tidak belajar ilmunya, tidak akan tercapai.” Karena itu akhirnya ia menerima tantangan untuk lanjut studi S2 jurusan Ilmu Olahraga di Universitas Negeri Jakarta. Mempelajari ilmu biomekanik dalam berolahraga di bangku kuliah membantunya untuk memahami gerak tubuh sehingga bisa lebih optimal dalam berlaga.

Kini ia yang tengah menyelesaikan disertasi S3-nya telah menjadi pelatih fisik bagi atlet-atlet rugbi dan pelatih di Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Talentanya sebagai atlet lari gawang ini rupanya menurun kepada putri semata wayangnya, Diva Renata Amelia Jayadi.

Ketika Diva masih kelas 6 SD, ia rupanya lolos tes pembibitan lompat galah yang membawanya ke Pelatnas ketika ia kelas 1 SMP. Tinggal terpisah dengan sang putri di usia sangat muda membuatnya harus pandai-pandai memanfaatkan waktu agar tidak kehilangan momen kebersamaan.

Transfer ilmu dengan sang putri juga sering dilakukannya, termasuk berkomunikasi dengan pelatih putrinya untuk mengetahui perkembangannya dan memberikan masukan yang tepat. Kini ia dan mantan suaminya, sama-sama memberi dukungan penuh untuk Diva yang tengah berkompetisi di SEA Games Manilla 2019.

“Menang memang membanggakan, tapi menang kalah hal biasa. Yang penting nikamti yang dilakukan dan jangan pernah berhenti belajar. Karena ketika kita berhenti belajar, disitulah kita mulai kalah,” tutur Dedeh dalam wawancaranya dengan Femina.       



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi