Dea Valencia, dari Batik Kuno Gandeng Kaum Difabel

Hingga saat ini, kaum difabel masih perlu mendapatkan perhatian khusus agar tetap bisa berkarya seperti layaknya orang normal pada umumnya. 

Bagi sebagian besar orang, memperkerjakan kaum difabel masih dianggap sebagai kesulitan yang cukup berarti. Sehingga kebanyakan pemilik usaha tidak ingin mengambil resiko tersebut. 

Namun, peluang ini ditangkap dengan baik oleh sociopreneur Dea Valencia Budiarto yang merupakan pemilik usaha Batik Kultur by Dea Valencia yang bertempat di Semarang, Jawa Tengah. 

Ia sendiri dekat dengan kain-kain batik kuno karena hobi sang ibu yang kerap berburu dan mengkoleksi batik kuno yang dibuat dari tahun 1870 hingga 1940.

Ketika kain batik kuno tersebut telah menumpuk di rumah, ibunya meminta tolong Dea untuk menjualkan kain batiknya. Ia memilih untuk menjual secara daring melalui akun Facebook Batik Lawasan.

Disana ia memajang foto kain batik dengan keterangan jenis kain dan harganya. Tak disangka, banyak calon pembeli yang berminat dan bertanya-tanya tentang kain batik tersebut.

Sejak saat itu, ia memutuskan untuk belajar lebih dalam mengenai batik kuno supaya mampu memberikan informasi kepada calon pembelinya.

Baca juga: IKAT Indonesia, Membumikan Tenun Ikat ke Generasi Milenial

                  Anne Avantie - Biografi

                  Niluh Djelantik - Biografi

Dibaliknya tingginya harga batik kuno, ternyata ada kelemahan yang muncul yakni kecacatan kain yang mulai muncul pada kain. Ia pun akhirnya berinisiatif untuk memanfaatkan kain batik kuno cacat tersebut menjadi pakaian jadi.

Perlahan tapi pasti, ia pun menuai kesuksesan bersama bisnisnya ini yang mampu meraih omzet ratusan juta rupiah setiap bulannya dan menembus pasar ekspor.

Taktik pemasaran yang digunakan oleh Dea sendiri dalam memasarkan produk Batik Kultur sendiri terbilang cukup unik. Ia menggunakan dirinya sendiri sebagai model dari katalog pakaian Batik Kultur. 

Ia beranggapan, apabila ia sebagai pemilik bisnis tidak menggunakan produknya sendiri, tentu orang akan beranggapan jika ia tidak menyukai produk bisnisnya sendiri. 

Selain itu, seluruh desain pakaian Batik Kultur sebelum diluncurkan ke pasaran akan dibuat prototype yang sesuai dengan ukurannya. Apabila ia tidak menyukai desain tersebut, ia tidak akan mengeluarkan produk tersebut ke pasar.

Ketika tengah mengembangkan bisnisnya, ia pernah menyerahkan pengerjaan obras untuk pakaian batiknya kepada pihak luar. Ternyata, pekerjanya kebanyakan bisu dan tuli.

Dari sana Dea mendapatkan inspirasi untuk mempekerjakan kaum difabel di perusahaannya. Terlebih lagi, ibunya pun mendukung langkahnya untuk membantu memberdayakan kaum difabel.

Tak hanya memberdayakan kaum difabel dalam proses produksi, ia juga turut memfasilitasi kebutuhan perlengkapan dan peralatan kerja bagi kaum disabilitas tersebut di workshop produksi Batik Kultur untuk memudahkan para karyawan disabilitas dalam bekerja. 

Ia menuturkan bahwa kaum difabel sendiri memiliki potensi yang sama dengan orang normal dalam berkarya, hanya saja mereka memiliki kebutuhan khusus dibandingkan dengan orang normal. 

Agar kaum difabel bisa produktif seperti orang normal pada umumnya, maka mereka harus difasilitasi menyesuaikan kondisi mereka.

Meski awalnya memulai hal tersebut tidaklah mudah, namun keaktifannya pada organisasi difabel membuatnya tetap bersemangat mengajak kaum difabel untuk bisa mendapatkan lapangan kerja layaknya orang normal di perusahaannya. 

Kendala yang ia hadapi pertama kali memulai hal tersebut adalah membimbing para karyawan yang ‘berbeda’ dengan orang normal.  Selain itu, menyediakan fasilitas kerja bagi karyawan tersebut bukanlah hal yang mudah.

Hal ini disebabkan harus benar-benar disesuaikan dengan kondisi setiap karyawan berkebutuhan khusus tersebut, sehingga tidak bisa asal dalam pembuatan desainnya.

Dengan diserapnya kaum difabel, tentunya ia turut membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran, terutama yang biasa terjadi pada kaum disabilitas karena keterbatasannya yang cukup sulit untuk mendapatkan lapangan kerja. 

Serta bisa menjadi inspirasi bagi pengusaha lain di Indonesia yang ingin membantu memecahkan permasalahan sosial melalui bisnisnya.

 

Sumber:

https://www.finansialku.com/kisah-sukses-dea-valencia-pemilik-batik-kultur/

https://www.ziliun.com/di-tangan-dea-valencia-batik-indonesia-tembus-pasar-dunia/

https://peluangusaha.kontan.co.id/news/tak-sekadar-mempekerjakan-juga-memanusiakan

 

0 komentar
Berikan komentar anda
Anda harus Login untuk komentar