Dari Kursi Roda Tukang Las, Doni Yulianto Berhasil Raih Emas

Sumber: Tempo.co

Doni Yulianto mungkin tidak pernah menyangka jika penyakit polio yang dialaminya semasa kecil akan mengubah hidupnya secara drastis dan merenggut kebebasannya menjadi manusia normal. Namun di sisi lain, polio juga yang akhirnya mengantarkannya menjadi atlet penyandang disabilitas berprestasi saat ini.

Doni menderita polio ketika usianya masih lima tahun. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus polio ini menyebabkan kelumpuhan syaraf permanen pada penderitanya. Karena massa otot kaki yang menyusut inilah akhirnya dia divonis difabel. Seumur hidup harus menggunakan bantuan kursi roda.

Usianya saat itu masih terlalu kecil sehingga kondisi yang dialaminya itu tak begitu dihiraukannya. Seiring berjalannya waktu saat ia mulai beranjak dewasa, timbullah kekhawatiran di dalam benaknya. Dia takut tidak bisa bekerja yang berimbas galau untuk menjalani hidupnya.

Tapi dia tidak tinggal diam. Ia mencari cara untuk bisa menemukan bakat  yang bisa menjadi kemampuan sesuai kemauannya. “Tidak memungkiri siapa pun orang jika mengalami kondisi seperti ini pasti akan down. Kalau bilang saya nggak down, kok? Itu bohong,” tutur Doni pada wawancara dengan tim DetikSport.

Besar di lingkungan yayasan sekolah luar biasa, ia sudah dikenalkan tentang olahraga kursi roda sejak duduk di bangku kelas dua sekolah dasar (SD). Bahkan dulu ia pernah menjadi bintang untuk iklan layanan masyarakat dengan berakting menjadi atlet balap kursi roda. Namun dirinya tidak ngeh jika itu olahraga untuk difabel dan ada ajangnya. Setelah beranjak dewasa, ia mencari tahu dan ternyata memang ada olahraga balap kursi roda.

Ketertarikannya kian tumbuh. Ia pun mencoba menekuni sendiri dengan belajar secara otodidak setiap sore di stadion. Kemudian ia mencoba bergabung berlatih dengan seniornya dan diajak untuk bergabung oleh organisasi di Solo. Lalu ia dilatih oleh pelatih dan menjalankan program.

Dari latihan ini, bakat olahraganya terus terasah. Masih SMA, dia sudah dipercaya melatih adik-adik kelasnya di balap kursi roda sambil merintis jalan ke dunia atlet dengan mengikuti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Luar Biasa.

Sebagai uji coba, pria berusia 31 tahun ini diturunkan di tingkat kabupaten di Solo. Waktu itu ia belum berhasil menyumbang medali karena masih kalah dari seniornya. Kegagalan pertamanya tidak membuat nyalilnya ciut. Ia justru semakin bersemangat.

Perjuangannya sendiri tidak cuma disitu. Ketika mengawali karier sebagai atlet, dia belum memakai kursi roda standar internasional, jadi harus membuat ke tukang las dengan mencontoh gambar dari internet. Hasilnya pun tidak standar dan berbobot 20 kilo, dibandingkan kursi roda standar internasional yang beratnya hanya 7 kilo.

Selanjutnya ia mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) tahun 2009 di Jawa Tengah dan menduduki peringkat terbaik ketiga. Dari sana, prestasinya kian moncer hingga dipanggil untuk membela merah putih di ASEAN Para Games 2011 di Solo. Hasilnya, ia berhasil menyumbang perak di nomor balap kursi roda 400 meter dan perunggu di nomor 100 meter, meski dengan kursi roda tidak standar.

Baru di tahun 2014, para atlet difabel balap kursi roda, termasuk dirinya, mendapatkan kursi roda standar internasional setelah ajang ASEAN Para Games 2014 di Myanmar.

Setelah mendapatkan peralatan lebih baik, Doni dan rekan-rekannya pun harus beradaptasi dan terus berlatih dengan kursi roda baru. Efeknya, catatan waktunya semakin membaik setelah menggunakan peralatan yang mumpuni karena kursi roda untuk balap ini dirancang ringan dan memperhitungkan aerodinamika saat digunakan oleh para penggunanya.

Hasilnya, di ASEAN Para Games 2017, Doni yang sebetulnya tidak diunggulkan malah justru berhasil mempersembahkan medali emas di nomor balap kursi roda 1.500 meter T54 putra, setelah menaklukkan lawannya dari Thailand, K. Thampsopon, dengan selisih waktu hanya 0.01 detik. Dimana ia mencatatkan waktu 3 menit 32,45 detik, sedangkan lawannya mencatatkan waktu 3 menit 32,46 detik.

Setelah dari ajang ASEAN Para Games 2017, empat bulan kemudian ia berlaga di Beijing 2018 World Para Athletic Grand Prix. Kali ini ia berhasil finis di peringkat III dan membawa pulang perunggu dari nomor 1.500 meter. Pria yang kini menjabat sebagai PNS di Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) ini pun saat ini tengah bersiap untuk berlaga di ajang ASEAN Para Games 2020 yang akan diselenggarakan di Manilla.

Pria yang juga menjadi bagian dari kontingen Indonesia untuk Asian Para Games 2018 ini selain menggeluti olahraga, juga menggeluti dunia musik sejak SMA. Bersama beberapa temannya, ia membentuk band bernama The Beef dan berposisi sebagai keyboardist. Bandnya ini menjadi salah satu dari 14 band yang lagunya masuk dalam album buatan DPP Pasoepati.

Ada kalanya seseorang mengalami penurunan semangat meski sudah melakukan hal yang sudah sesuai passionnya. Hal tersebut juga pernah dirasakan oleh Doni. Untuk memupuk semangat dan rasa percaya diri, terutama saat bertanding, ia melihat teman-teman yang sudah meraih medali sebelumnya. Dengan melihat teman-temannya yang sudah berhasil membawa pulang medali, akan muncul semangat di dalam dirinya untuk lebih fokus bertanding dan memenangkan pertandingan.

Sebagai atlet difabel, satu hal yang ingin ditunjukkan di berbagai kompetisi balap kursi roda, baik nasional maupun internasional, adalah bahwa seorang difabel seperti dirinya juga bisa berprestasi, bahkan mewakili negara dan mengharumkan bangsa di pentas dunia yang belum tentu bisa dilakukan oleh banyak orang.

Banyak orang yang pesimis terhadapnya sebelum ia menjadi atlet seperti saat ini. Mereka bilang, “Setelah tamat sekolah kamu mau ke mana? Di rumah saja buka bengkel, tambal ban.” Ada pula yang bilang, “Les elektronika saja, buka tempat servis.” karena dirinya seorang difabel. Tapi ia tidak mau karena bukan itu minatnya. Ia lebih bergairah di bidang olahraga yang ditunjukkan dengan prestasi dan bisa menyejahterakan diri sendiri juga orang lain.

               



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi