Cerita Di Balik Pendirian Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo

Geliat dunia fesyen tanah air memang saat ini sedang meningkat. Berbagai desainer fesyen, baik angkatan lama maupun angkatan baru, banyak yang riwa-riwi di panggung catwalk dalam setiap pagelaran busana.

Dibalik lahirnya desainer fesyen yang kreatif dan spektakuler setiap tahunnya, tentu ada sosok penting dalam pendidikan tata busana di negeri ini.

Dialah Susan Budihardjo. Namanya sudah tidak asing lagi di ranah mode Indonesia karena ia merupakan pendiri sekolah mode tertua di Indonesia yang memiliki kurikulum, Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo.

Susan sendiri termasuk wanita cerdas yang gemar belajar. Ia memasuki dunia kuliah di usia 16 tahun. Saat itu ia mengambil studi Arsitektur di Universitas Tarumanegara, Jakarta.

Kegemarannya sejak kecil adalah menggambar yang dipengaruhi oleh sang ibu yang suka menggambar. Mimpinya semasa kecil berubah-ubah. Ingin menjadi penari balet, pianis, bahkan sempat ingin menjadi atlet renang atau basket.

Pada wawancaranya di sebuah majalah mode, ia menuturkan di era ia muda, kebanyakan orang ingin menjadi dokter atau arsitek. Tidak ada orang Indonesia yang ingin menjadi fashion designer termasuk dirinya. Setelah menjalani satu semester kuliah Arsitektur, ia merasa jenuh dan merasa ini bukanlah passion-nya.

Saat remaja, ia mulai mengenal pesta yang mengharuskannya berpikir keras setiap hendak berpakaian. Ia selalu ingin tampil beda dari kebanyakan orang. Keinginan itu mendorongnya untuk mendesain sendiri baju-baju pesta.

Ia pun semakin bersemangat mendesain baju sendiri karena memiliki ibu yang gemar menjahit dan memadu padankan busana. Hasilnya, bajunya selalu mencuri perhatian di tengah hiruk pikuk pesta. Teman-temannya meminta Susan untuk membuatkan baju. Lantas, ia menemukan passion yang selama ini dicarinya.

Di tahun 1972, hanya ada sekolah mode ASRIDE yang kini sudah berganti nama menjadi ISWI. Susan belajar disana selama satu tahu.

Selanjutnya, ia meneruskan pendidikan mode ke Jerman karena saat itu sekolah kesana sangat dimudahkan. Mendapat beasiswa, tidak perlu mengurus visa, dan diperbolehkan menyambi bekerja. Dengan model seperti itu, belajar ke Jerman bukan hanya impian oleh anak-anak dari kalangan berpunya.

Kebalikan Berlin, London lebih mahal sebagai kota untuk belajar dan siswa internasional dilarang menyambi bekerja. Namun, kota ini jauh lebih maju dalam urusan mode.

Saat itu telah digelar London Fashion Week dan pret a porter atau ready to wear yang kemudian ditekuni Susan. Sepulang belajar dari Eropa, ia menikah dan pindah ke Kanada mengikuti suami.

Di Kanada, ia kembali masuk sekolah mode. Lima tahun berselang, ia kembali ke tanah air dan mulai terpikir untuk mendirikan sekolah mode, selain mengembangkan karier sebagai fashion designer.

Baca juga: Biografi - Roehana Koeddoes

                  Biografi - Anne Avantie

Ide tersebut muncul karena pada saat itu belum ada sekolah mode yang memiliki kurikulum dan masih sebatas kursus menjahit. Ia ingin anak-anak Indonesia yang ingin belajar tentang fesyen tidak perlu menuntut ilmu jauh-jauh ke luar negeri seperti dirinya.

Menjelang kembali ke Jakarta, dia meminta bantuan orang tuanya untuk mengurus izin tempat kursusnya, menyiapkan berbagai keperluan, seperti meja dan mesin jahit. Ia mulai menyusun kurikulum berdasarkan pengalamannya di tiga sekolah mode tersebut, ditambah pengetahuannya akan kebutuhan mode di Indonesia.

Beruntungnya ia, beberapa temennya saat bersekolah di Jerman juga kembali ke Jakarta. Mereka memberi masukan dan menghubungkan dia dengan elemen industri mode lainnya, seperti media, penyelenggaraan kegiatan dan pameran, hingga dunia koreografi. Ia juga dibantu mendiang perancang Prajudi Admodirdjo.

Di tahun 1980, sekolahnya didirikan di kawasan Petojo. Ketika jumlah murid bertambah, ia memindahkan tempat kerja sekaligus sekolahnya di Cikini Raya hingga kini.

Sekolahnya semakin berkembang dan telah membuka cabang di Surabaya, Semarang, dan Bali. Saat ini, sekolah Susan yang di Bali juga membuka butik yang menjual pakaian rancangan anak didiknya yang bernama Acakacak.

38 tahun mendirikan dan mengembangkan sekolah mode hingga melahirkan desainer-desainer sukses di Indonesia seperti Irsan, Sebastian Gunawan, Adrian Gan, Eddy Betty, Didi Budiardjo, Deni Wirawan, Rani Hatta, Anaz Khairunnas, dan Jenahara, bukanlah tanpa halangan bagi Susan. Di tengah-tengah perjalanannya, ia sendiri sempat menutup sekolah modenya cukup lama hingga memakan waktu tujuh tahun.

Selain itu, tantangan semakin tinggi ketika sekolah mode waralaba asal luar negeri mulai masuk ke Indonesia. Meskipun itu berarti tidak mudah, ia tetap semangat untuk terus belajar lebih giat membuktikan bahwa sekolah lokal tidak kalah bagus dengan sekolah waralaba luar negeri.

Walaupun biaya pendidikan cukup terjangkau jika dibandingkan kompetitornya, ia sangat fokus dan konsisten dalam berinovasi kurikulum baru sesuai kebutuhan mode yang terus berubah-ubah.

Ia sendiri akhirnya memilih untuk menjadi pendidik dan hanya melayani permintaan desain untuk klien personal supaya lebih fokus mengembangkan sekolah modenya.

Ia tidak mau melahirkan ‘Susan Budiardjo’, baginya anak-anak didiknya ini haruslah menjadi desainer yang sesuai dengan ciri khas seni dan kreativitas mereka masing-masing.

Kelebihan lainnya, ia terlibat langsung dalam pengajaran di sekolah dan menekankan pengajaran dasar dalam dunia fesyen seperti membuat pola, menjahit, dan pengenalan tekstil.

Dalam buku Kamu Mode Indonesia karya Irma Hardisurya, Ninuk Mardiana Pambudy, dan Herman Jusuf, Susan disebut sebagai “Ibu Mode Indonesia” atas kiprahnya dalam mendirikan sekolah mode yang akhirnya mampu menghidupkan geliat industri mode Indonesia dari generasi ke generasi.

Itulah Susan, seperti ibu yang selalu memberi dan mengayomi.

 

Sumber:

http://health.kompas.com/read/2010/10/23/11324265/.Ibu.Para.Desainer.Indonesia

https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20180331/281547996447291

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/susan-budihardjo-terus-melahirkan-bibit-unggul-desainer-mode

http://www.dewimagazine.com/news/simak-inspirasi-di-balik-karier-dan-karya-hidup-susan-budihardjo

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/2126282/mendengar-kisah-berdirinya-sekolah-fesyen-susan-budihardjo

https://lifestyle.okezone.com/read/2013/11/29/29/905077/ayu-mirah-susan-budihardjo-terima-lifetime-achievement-dari-mnc-fashion

https://www.fimela.com/news-entertainment/read/3513155/ini-dia-para-kartini-modern-yang-memeriahkan-dunia-kreatif-indonesia

http://www.ciputraartpreneur.com/2018/09/18/elle-style-awards-2018-digelar-di-ciputra-artpreneur/

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi